HUBUNGAN USIA DAN KELAS SOSIAL DENGAN PELAKSANAAN SHALAT FARDLU BERJAMA’AH DI MESJID

HUBUNGAN USIA DAN KELAS SOSIAL DENGAN PELAKSANAAN SHALAT FARDLU BERJAMA’AH DI MESJID

OLEH : APIP SOHOBUL FAROJI

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Salah satu ajaran islam yang sangat penting untuk diamalakan oleh pemeluknya bahkan menjadi pilar agama itu sendiri adalah shalat. Shalat merupakan ibadah ritual yang khas[1], bahkan memeliki tujuan etis maupun sosial

Allah SWT memrintahkan kepada hamba-hambanya agar shalat fardlu tersebut dilaksanakan secara bersama-sama. Terlebih tempat untuk melakukannya itu adalah tempat yang dimuliakan-Nya yaitu Mesjid. Mesjid dalam pandangan agama islam menduduki posisi yang sangat penting. Dimana roasullah SAW, ketika berhijrah kemadinah membngun Mesjid sebagai tempat ibadah khususnya shalat. Juga sebagai central of moslem activities (Pusat kegiatan orang-orang muslim) untuk mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar.

Seiring dengan perkembangan Rasul dalam menghadapi musuh-musuhnya, maka medsjid pun berfungsi sebagai pusat konsolidasi dan tempat memusyawarahkan strategi perang. Demikian ditempat itulah Rasul memberdayakan ekonomi umat sebagai pendorong kemakmuran Mesjid.

Pada masa al-Khulafa ar-Rasyidun, Mesjid juga dijadikan tempat pendidikan bahkan banyak non muslim mengikuti kegiatan teersebut. Pada perkembangan selajutnya Mesjid juga berfungsi sebagai kampus lembaga pendidikan dan proses pembelajaran

Selain fungsi diatas, Mesjid juga dapat memjembatani kehidupan sosial masyarakat muslim sepanjang sejarah. Selain tempat ibadah ruhani untuk melakukan hubungan dengan yang Maha Suci juga sebagai tempat pertemuan dan interaksi sosial anggota masyarakat. Maka tidaklah heran dizaman Nabi Mesjid-Mesjid sangat hidup dengan kegiatan-kegiatan yang dapat menampung aspirasi ummat. Dalam konteks sosial, fenomena sosial semacam ini dan berbagai gejala sosial lainnya tidak hanya berupa hubungan antar pribadi, tetapi antara individu dengan keluarganya, dengan struktur sosial formal, struktur sosial informal serta masyarakat dan kebudayaan[2]

Manusia hidup didunia tidak terlepas dari ketergantungan dan saling membutuhkan satu sama lain. Untuk memenuhi kebutuhannya, manusia dengan yang lainnya bekerjasama, saling berinteraksi , saling membantu untuk mencapai tujuan. Manusia sebagai makhluk harus dapat membedakan antara dua kepentingan, yaitu sebagai makhluk individu sekaligus sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk idividu manusia pada dasarnya mempunyai hasrat untuk mangutamakan kepentingan diri sendiri.namun sebagai makhluk sosial tidak mungkin dapat mementingakan kepentingan pribadinya saja, setidaknya kebersamaan antara insividu harus dibina untuk mecapai cita-cita bersama, hal inilah yang menyebabkan lahirnya pola tingkah laku manusia sebagai akibat dari keadaan sosial tempat mereka berada. Pola tingkah laku tersebut dapat berupa hubungan antar sesam manusia maupuan terhadap sang pencipta.

Namun, dengan kemajuan sains dan teknologi, dimana sisi kehidupan manusia sudah tersebar dan tidak terfokus pada satu tempat, bahkan kebutuhan-kebutuhan manusia sangat mudah diperoleh bagi orang yang memeiliki sumberdaya baik materi maupun ilmu pengetahuan, maka peran Mesjidpun sebagai tempat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan menjadi berkurang bahkan dianggap hampir tidak ada.

Apa lagi diera modern yang serba kompleks dan masyarakat sudah terbius oleh gelombang sekuler, matrealis dan hedonis. Amaliyah-amaliyah keagaman semakin banyak di tinggalkan. Karea itulah wajar kalau karl mark mengemukakan bahwa agama hanya untuk orang-orang yang tidak berdaya[3] masyarakat sedikit demi sedikit telah meniggalkan Mesjid, dari pusat kehidupan sehari-hari. Sehingga dalam perseptif tingakat kemakmura, Mesjid ramai ketika shalat jum’at dan di bulan Ramadhan saja namun diahri-hari lain terasa sepi . hal inilah yang menarik minat peneliti untuk melakukan penelitan hal tersbut.

B. Perumusan dan identifikasi masalah

Dari pemaparan latar belakang diatas bahwa umat islam hampir sudah meniggalkan Mesjid untuk melakukan aktivitas sosial dan keagamaannya, baik dari golongan kelas atas maupun gologan kelas bawah, baik remaja bahkan sampai orang tua tidak menjadikan Mesjid sebagai pusat aktivitas sosial dan keagamaan. Untuk lebih jelasnya peneliti mengidentifikasi masalah penelitian sebagai berikut:

1. Adakah hubungan usia dengan shalat fardlu berjama’ah di Mesjid ?

2. Adakah hubungan kelas sosial dengan shalat fardlu berjama’ah di Mesjid ?

C. Tujuan penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji

Hubungan antara usia dengan pelaksanaan shalat fardlu berjama’ah di Mesjid

Hubungan antara kelas sosial dengan pelaksanaan shalat fardlu berjama’ah di Mesjid

D. Kegunaan Penelitian

hasil dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan yang posistif baik secara praksis maupun teoritis. Dari segi praksis, hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan masukan bagi para da’I ,DKM, seluruh umat muslim dan pihak-pihak yang terkait lainnya mampu intropeksi dan meningkatkan kemampuan dalam melaksankan tugasnya

secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan teori yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu-ilmu sosial dan agama.

E. Kerangka Pemikiran dan Hipotesis

Dalam penelitian ini menggunkan teori dari erikson tetang usia, teori tetang status sosial dari karl Mark, dan shalat dari yusuf an-Nabhani

Menurut Erikson manusia bila ditinjau dari usia dapat dikelompokkan menjadi sembilan tahapan perkembangan, pertama, pranatal; masa konsepsi sampai proses kelahiran, yaitu sekitar Sembilan bulan atau 280 hari, kedua, infancy, mulai lahir sampai usia 10 atau 14 hari. Ketiga Babyhood, mulai dari dua minggu hingga dua tahuan. Keempat, Anak-anak awal; semenjak umur 2 sampai 6 tahun. kelima, akhir anak-anak; usia 6 tahun sampai 10 atau 12 tahun. Ke enam, usia puber 13 atau 14 tahun hingga umur 18 tahun, ketujuh usia dewasa; dari umur 18 tahun hingga 40 tahun, kedelapan usia pertengahan (tua) ; umur 40 tahun sampai 60 tahun. kesembilan usia lanjut ; umur 60 tahun sampai meniggal dunia[4].

Dalam penenlitian ini hanya mengambil tiga kelompok usia yaitu usia remaja, usia dewasa, dan usia pertengahan (tua).

Teori tentang kelas sosial, mengambil dari teori kelas yang di paparkan oleh karl mark, kelas sosial utama menurut Karl Mark terdiri atas golongan proletariat (kelas pekerja), golongan borjuis (pemilik modal), dan borjuis rendahan (kaum intelektual) yang rentan posisinya bisa mejadi proletariat atau menjadi borjuis.

Kelas sosial didefinisikan sebagai strata (lapisan) orang-orang yang berkedudukan sama dalam satu kontinium (rangkaian kesatuan status sosial). Kelas sosial lahir sebagai akibat dari adanya pembagian jenis pekerjaan. Kelas sosial terdiri atas orang-orang yang memiliki status sosial yang sama dan saling menilai satu sama lainnya sebagai anggota masyarakat yang sederajat. Setiap kelas sosial merupakan subkultur yang memiliki sejumlah sikap, kepercayaan, nilai, dan norma prilaku yang berbeda dengan kelas sosial lainnya. Kelas sosial seseorang ditentukan oleh toatalitas kedudukan sosial dan ekonominya dalam masyarakat, termasuk kekayaan dan pengahasilan, jenis pekerjaan, pendidikan, identifikasi diri, prestise keturunan, partisipasi kelompok, dan pengakukan oleh orang lain. Garis batas kelas sosial tidak bisa dipahami secara jelas, karena hanya merupakan titik-titik pada garis kontinium (rangkaian kesatuan) status sosial[5].

Shalat adalah salah satu ajaran islam yang termasuk rukun islam, melaksanakan shalat merupakan ciri bahwa orang tersebut merupakan orang muslim, menurut Yusuf an-Nhabani shalat dalam ajaran islam ada lima waktu; pertama, shalat subuh waktunya dipagi hari pada waktu terbit matahari yang pertama jumlahnya dua rakaat, kedua, shalat dhuhur waktunya pada tengah siang hari jumlahnya empat rakaat, ketiga shalat ashar waktunya tiga perempat dari siang jumlahnya empat rakaat, keempat, shalat maghrib watunya pergantian antara siang dan malam tepatnya sore hari jumlahnya tiga rakaat, dan shalat Isya waktunya setelah sholat mghrib ketika awan dilangit tidak lagi berwarna kekuning-kunigan tetapi sudah menjadi putih kembali jumlahnya empat rakaat[6].

OPRASIONAL VARIBEL

TABLE 1.1

Variable

Subvariabel

dimensi

Usia

14-18 tahun

Remaja

18- 40 tahun

Dewasa

40-60 tahun

Usia pertengahan (tua)

Kelas sosial

Pekerja (Proletar)

Buruh fabrik

PNS

Pedagang eceran

Pekerja tidak tetap

Kaum Intelektual (Borjuis kecil)

Pelajar

Ustad

Pemilik modal (borjuis)

Pemilik fabric

Pemilik toko

Shalat berjama’ah

Shubuh

2 rakaat

Pagi hari

Dhuhur

Empat rakaat

Siang hari

Ashar

Empat rakaat

Tiga perempat siang

Magrib

Tiga rakaat

Pergantian siang dan malam hari

Isya

Empat rakaat

Malam hari

Hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut

Hipotesis mayor

H1 : Ada hubungan antara Usia dengan pelaksanaan shalat berjama’ah di Mesjid

Ho : tidak ada hubungan antara usia dengan pelaksanaan shalat berjama’ah di Mesjid

H1 : Ada hubungan antara kelas sosial dengan pelaksanaan shalat berjma’ah di Mesjid

Ho : Tidak ada hubungan antara kelas sosial dengan pelaksanaan shalat berjma’ah di Mesjid

Hipotesis minor

H1 : Ada hubungan antara usia remaja dengan pelaksanaan shalat berjama’ah diMesjid

Ho : Tidak ada pengtaruh antara usia remaja erhadap pelaksanaan shalat berjama’ah di Mesjid

H1 : Ada hubungan antara usia dewasa dengan pelaksanaan shalat berjama’ah diMesjid

Ho : Tidak ada hubungan antara usia dewasa dengan pelaksanaan shalat berjama’ah di Mesjid

H1 : Ada hubungan antara usia tua dengan pelaksanaan shalat berjama’ah diMesjid

Ho : Tidak ada hubungan antara usia tua dengan pelaksanaan shalat berjama’ah di Mesjid

Hi : Ada hubungan antara kelas sosial proletariat (pekerja) dengan pelaksanaan shalat berjama’ah diMesjid

Ho : Tidak ada hubungan antara kelasa sosial proterariat (pekerja) dengan pelaksanaan shalat berjama’ah di Mesjid

H1: Ada hubungan antara kelas sosial borjuis kecil (kaum intelektual) dengan pelaksanaan shalat berjama’ah di Mesjid

Ho : Tidak ada hubungan antara kelas sosial borjuis kecil (kaum intelektual) dengan pelaksanaan shalat berjama’ah di Mesjid

Hi : Ada hubungan antara kelas sosial borjuis dengan pelaksanaan shalat berjama’ah di Mesjid

Ho : Tidak ada hubungan antara kelas sosial borjuis dengan pelaksanaan shalat berjama’ah di Mesjid

F. Langkah-langkah penelitian

Metode dalam penelitian ini adalah metode studi korelasi. studi korelasi mengungkapkan hubungan timbal balik antar varibel yang diselidiki. Intensitas hubungan itu diukur dengan mempergunakan prosedur matematis dengan menyatakan koefiensi korelasi[7].

Alasan peneliti memilih metode studi korelasional dalam penelitian ini, karena peneliti beranggapan bahwa metode studi korelasional sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselididki yang menggambarkan atau melukiskan subjek atau objek peneliti (seseorang, lembaga, masyarakat dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak sebagai mana mestinya dan mendapatkan hasil penelitian yang objektif[8].

a. Jenis Data

Data dalam penelitian ini terdiri data kuantitaitf yang berupa data-data mengenai responden seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan jumlah masyarakat, frekuensi berjma’ah perhari dan data hasil penghitungan kuesioner yang disebarkan.

b. Sumber Data

a. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari lapangan[9]. Data primer dalam penelitian ini diperoleh dari angket yang disebarkan kepada responden Data mengenai jenis kelamin, pendidikan , umur, pekerjaan, dan frekusnsi berjama’ah ke Mesjid. Masyarakat yang di teliti dalam penelitian ini seluruh anggota masyarakat RW 01 desa Cimekar Kecamatan cileunyi kabupaten bandung sebanyak 500 kepala keluarga

b. Data Skunder

Berupa data yang diperoleh melalui sumber informasi seperti buku-buku yang dapat menunjang kebelangsungan penelitian.

c. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:
1. Wawancara
Wawancara/interview adalah salah satu bentuk komuniaksi verbal jadi semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi. Ada dua jenis wawancara; wawancara berstruktur dan wawancara tak berstruktur[10]. Dalam penelitian ini wawancara yang dilakukan adalah wawancara tak berstruktur yang dilaksanakan dengan tatap muka secara langsung antara peneliti dengan warga masyarakat, namun peneliti sebelumnya telah mencatat pokok – pokok penting yang akan dibicarakan sesuai dengan tujuan wawancara.

2. Angket

Angket berupa daftar pertayaan tertulis yang disusun sedemikian rupa dan diajukan pada responden[11]. Warga masyarakat RW 01 desa Cimekar kecamatan Cilenyi kabupaten Bandung. Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup, angket yang berisikan pertayaan seputar umur, pendidikan, pekerjaan dan frekuensi berjamaan ke Mesjid. Dengan ketentuan bobot jawaban, a = 5, b = 4, c = 3, d = 2, dan e = 1.

d. Analisis Data

Berdasarkan tujuan yang dilakukan dalam penelitian ini, maka dalam penelitian ini akan diuji apakah ada hubunganantara variabel bebas dengan variabel terikat. Untuk mengetahui tentang hubunganumur dan status sosial dengan pelaksanaan shalat berjamaah di Mesjid. Kemudian data tersebut diolah dan diuji statistik, dan selanjutnya dilakukan interpretasi data yang disajikan sebagai dasar bahan analisis, adapun metode analisis yang digunakan adalah :

A. Analisis Parsial

Uji normalitas dengan langkah-langkah sebagai berikut[12] :

a. Membuat daftar distribusi frekuensi, dengan terlebih dahulu menentukan :

1. Rentang nilai (R), dengan rumus.:

R max – R min

2. Kelas interval dengan rumus:

K = 1+3,3, log n

3. Panjang kelas interval dengan rumus :

P = rentang (r)

Banyak kelas (K)

b. Tendensi sentral yang terdiri dari :

1. Rentang nilai (R), dengan rumus.:

R max – R min

2. Mencari rata – rata (R), dengan rumus:

Variabel X = –ΣfiXi

Σfi

Variabel Y = –ΣfiXi

Σfi

3. Menghitung standar deviasi

S =√Σf(x-x)2

n-1

4.. Mencari daftar frekuensi obsevasi dan ekspektasi dan menghitng z skor, daftar L dan E untuk Variabel X dan Y dengan ketentuan :

Z skor = bk –k , Ei = L x n , Oi = fi

5. Mencari harga chi kuadrat (X)2 , dengan rumus :

X2 = Σ (Oi – Ei)

Ei

6. Menentukan drajat kebebasan (dk), dengan rumus:

dk = k-3

8. Menetukan X2 dengan signifikasi5% atau 0.95%.

9. Menentukan normalitas distribusi frekuensi dengan kriteria sebagai berikut:

Jika X2 hitung < X2 tabel , maka data berdistribusi normal

Jika X2 hitung < X2 tabel, maka data dikatakan berdistri bisi tidak anormal

B. Analisis Korelasi

Analisis ini digunakan untuk menghitng hubungan kedua variabel yakni varibel X dan variabel Y, dengan langkah- langkah sebagai berikut:

1. Menguji linieritas regresi data dari dua varibel, dengan langkah-langkas sebagai berikut[13]:

a. Menentukan persamaan regresi linier, dengan rumus:

a. (ΣYi) (ΣXi2) – (ΣXi) (ΣXiYi)

nΣXi2 – (nΣXi2)

b. . n ΣXiY – (ΣXi) (ΣXiYi)

nΣXi2 – (nΣXi2)

b.. Menghitung jumlah kuadrat regresi a, dengan rumus

Jka = (ΣY)2

N

c. Menghiung jumlah kuadrat regresi b, dengan rumus:

Jkb = bΣXiYi – (ΣXi) (ΣYi)

n

d. Menghitung jumlah kuadrat residu, dengan rumus:

Jkres = ΣYi2 – Jka – Jkb/a

e. Menghitung jumlah kuadrat kekeliruan , dengan rumus:

Jk kk = (ΣYi)2 – (ΣYi)2

n

f. Menghitung jumlah kuadrat ketidak cocokan , dengan rumus

Jk (tc) = Jk res – Jk kk

g. Menghitung derajat kebebasan, dengan rumus :

db kk = n- k

h. Menghitung darajat ketidak cocokan , dengan rumus:

db tc = k -2

i. Menghitung rata-rata kuadrat kekeliruan , dengan rumus:

Rk kk = Jk kk : db kk

j. menghitung rata-rata kuadrat ketidak cocokan, dengan rumus :

Rk tc = Jk tc : db tc

k. Menghitung F ketidak cocokan, dengan rumus :

F tc= rk tc : db tc

l. Menghitung nilai F tabel, dengan tarap kepercayaan 5% atau 0.95%

m. Menghitung regresi dengan ketentuan

Jika Ftc hitung < Ftc table, dikatakan regresi linier

Jika Ftc hitung > Ftc table dikatakan regresi tidak linier

2. Menghitung koefiensi korelasi dengan ketentuan sebagai berikut[14]:

a. Jika kedua variabel berdistribusi normal dan regresinya linier, maka menggunakan runus korelasi Produc Moment

r xy= N ΣXiYi – (ΣXi) . (ΣYi)

{NX2 – (nΣXi)2 }{. NΣY2 – (ΣYi)2

b. Jika salah satu variabel tersebut berdistribusi tidak normal regresinya tudak linier, maka digunakan rumus yaitu:

p= 1- Σ bi2

n (n2-1)

c. Menafsirkan harga koefisiensi dengan kriteria sebagai berikut:

Tabe.l.1

PedomAn Interpretasi Koefiensi Korelasi

Interkorelasi

Tingkat hubungan

0.00- 0.19

Sangat rendah

0.20 – 0.39

Rendah

0.40 – 0.59

Sedang

0.60 – 0.79

Tinggi

0.80 – 1.00

Sangat tingg

3. Uji hipotesis dengan langkah-langkah:

a. Menetukan t hitung , dengan rumus:

t = r√ n – 2

√ 1- rn

b. Menetukan tabel pada taraf signifikansi 5%

c. Pengujian hipotesis dengan pengujian sebagai berikut:

Hipotesis diterima t hitung > t table

Hipotesis ditolak t hitung < t table

Untuk memperoleh keterangan tidak ada korelasi atau ada korelasi antara variabel X dan Y dapat ditentukan dengan formula Kelly sebagaimana dikemakan oleh A. Hasan Gaos dengan rumus[15]:

K = √ 1-r2

Keterangan

K= Tidak adanya korelasi

1 = Angka konstan

R = koefiensi koerelasi yang dicari

Kemudian dilanjutkan dengan rumus :

E = 100 (1- K)

Keterangan :

K = Dengan tidak adanya korelasi

E = Indeks prestasi ramalan/ indeks konstan

1 = Bilangan konstan

R = Koefiensi korelasi yang dicari

JADWAL PENELITIAN

No

Jenis Kegiatan

Tahun 2008

Juni

July

Agustus

September

Oktober

Desember

1

Persiapan

1. Menyusun usul penelitian

2. Seminar

***

***

2

Pengumpulan Data Lapangan

***

3

Pengolahan Data

****

4

penulisan Laporan

****

5

Ujian Munaqosah

*****



[1] Jhon L. Esposito (Ed), the Oxford Encyclopedia Of Modern Islamic, (Oxford University Press.Inc 1995), Hal: 162

[2] Iskandar, Jusman, Teori sosial. (Bandung: Puspaga.2003). hal: 76

[3] Soejarwo, Kumpulan Teori Sosiologi, (Bandung: Universitas Padjadjaran, 1997 ). Hal ; 114-115

[4] Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Kehidupan. (Jakarta: Erlangga. 1980) hal . 13

[5] Iskandar, Jusman , teori ilmu sosial . (Bandung: Puspaga . 2003) hal 230-232

[6] Husin, zaid, Tanqihul Qaul; Syarah Lubaab Hadits. (Surabaya: mutiara ilmu. 1995) hal 89

[7] Arikunto, surahmi. Prosedur penelitian .( Jakarta: Rhineka Cipta. 1996) hal. 114

[8] Rakmat, jalaludin. Metode Penelitian Komunikasi. (Bandung . Remaja Rosda Karya. 2002 ) hal . 84

[9] Nawawi, Hadari. Metode Penelitian Bidang Sosial. (Yogyakarta: Gajah Mada University Press. 1998) . hal. 145

[10] Moleong, Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif. (Bandung: Rosda Karya. 2004). Hal . 104

[11] Suryabrata, Suryadi. Metodologi Penelitian. (Jakarta. Raja Grafindo. 2003). Hal . 134

[12] Sudiono, Anas. Pengantar Statistic Pendidikan. (Jakarta. Raja Grafindo. 1996.). hal 123-124

[13] Sudjana. Metode Statistika. (Bandung: Tarsito. 1996). Hal 327-329

[14] Sugiono. Metode statistika. Metode statistika.( Bandung . Remaja Rosda Karya. 2003) ahl 213-216..

[15] Gaos , Hasan, Metode Statistic.( Jakarta: Raja Grafindo. 1998) Hal . 216-217

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s