Bani Abbasiyah

DINASTI ABBASIYAH

Oleh : Apip Sohibul Faroji

 

BAB I PENDAHULUAN

750-1258

 

Sistem kesukuan primitf yang menjadi pola organisasi sosial arab paling mendasar runtuh pada Dinasti Abbasiyah, yang didirikan dari berbagi unsur asing[1]. Babak politik dalam drama besar politik islam dibuka dengan peran penting yang dimainkan oleh khalifah Abu al- Abbas [2](750-754), dalam khutbah penobatannya, yang disampaikan setahun sebelumnya dimesjid Kuffah, khalifah Abbasiyah pertama itu menyebut dirinya al-saffah. penumpah darah yang kemudian menjadi julukannya. al-saffah menjadi pendiri diansti arab islam ketiga yang sangat besar dan berusia lama. Dari 750M. hingga 1258M., meskipun penerus Abu Abbas memegang pemerintah tapi mereka tidak selalu berkkuasa[3] sepenuhnya adan selalu ada pada kendali wazir dan tentaranya . Daftar khalifah Abbassiyah dan masa kekuasaanya[4]:

 

Daftaar Raja-Raja Keturnan Bani Abbasiyah

Raja –raja

Tahun (hijriyah) ppriode

Abu Abbas

132-137

al-Mnasur

13-159

al-Mahdi

159-169

    al-Hadi

169-170

Harun Rasyid

170-194

al-Amin

194-198

al-Makmun

198-218

al-Mu’tasim

218-227

al-wasiq

227-232

al-mutawakkil

247-248

al-mutanshir

248-252

al-musta’in

252-255

al-mu’tazz

255-256

al-mu’tadi

256-257

Al-Mu’tamid

257-279

Al-mu’tadid

279-290

al-muktafi

290-296

al-muktadiir

296-320

Masa Buawiyah

320-447/ 932-1075

al-Qodir

320-323

al-Radi

323-329

al-Muttaqi

329-333

al-Mustakfi

333-335

al-Mukti

335-364

at-Ta’i

364-381

al-Qodir

381-423

al-Qaim

423-468

Masa Saljuk

468-656 H/1075-1258M

al-Muaqtadi

468-487

al-Musthazhir

487-512

al-Mustarsyid

512-530

al-rasyid

531-531

al-Muqtati

531-555

al-Mutanjid

555-566

al-Mustadi

566-576

al-Nasir

576-622

al-Zahir

622-623

al-Mustanshir

623-640

al-Must’sim

640-656

 

Setiap dinasti atau rezim mengalami fase-fase yang dikenal dengan fase-fase pendirian, fase pembangunan dan kemajuan , fase kemunduran dan kehancuran. Akan tetapi, durasi dari masing-masing fase itu berbeda-beda karena bersangkutan dengan kepada kemampuan untuk menyelengarakan permerintahaan tersebut.[5]

Selama dinasti ini bekuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, social budaya. Bedasarkan pola pemerintahan dan politik itu, sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode:

1.            Periode pertama (132H-232H), disebut pengeruh Persia pertama.

2.            Periode kedua (232H-334H)), disebut masa pengaruh turki pertama.

3.            Periode ketiga (334H-447H), masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintah dinasti Abbasiyah. Periode ini disebut pengaruh Persia kedua

4.            Periode keempat (447H-590H), masa kekuasaan Dinasti Bani Saljuk dalam pemerintahan dinasti Abbasiyah; disebut juga dengan masa pengaruh turki kedua.

5.            Periode kelima (590H-656H), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tapi kekuasaanya hanya efektif disekitar kota Baghdad [6]

Pada Dinasti Abbasiyah, peradaban arab islam mencapai kemajuan yang sangat gemilang. Pusat-pusat pengajaran didirikan. Diantaranya adalah Bait al-hikmah, sebuah akademi yang didirikan oleh al-Ma’mun untuk menerjemahkan ilmu pengetahuan dari bahasa Yunani kebahasa arab. Numun kehadiran pasukan mongol telah menghancurkan peradaban islam yang sangat menakjubkan dan mengahanyutkan sejumlah perpustakaan islam kedalam sungai tigris.[7]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II PEMBAHASAN

DINASTI ABBASIYAH

 

2.1 Perjalanan Politik Bani Abbas                                                             

Abassiyah adalah suatu dinasti (bani Abbas) yang mengusai daulat (negara) islamiyah pada masa klasik dan pertengahan islam. Daulah islamiyah ketika dibawah kekuasaan dinasti ini disebut dengan Daulah Abbasiyah. Daulah Abbasiyah adalah daulah yang melanjutkan kekuasaan Daulah Umayyah. Dinamakan daulah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Abbas (bani Abbas), paman nabi Muahammad saw. Pendidri dinasti ini Abbas al-Saffah .

Sejarah peralihan kekuasaan dari daulah Umayyah kepada daulah Abbasiyah bermula ketika bani Hasyim menuntut kepemimpinan islam yang berada ditangan mereka karena mereka adalah keluarga Nabi saw yang terdekat. Tuntutan itu sebenarnya sudah ada dari sejak lama, tetapi baru menjelma menjadi gerakan ketika Bani Umayyah naik tahta dengan mengalahkan Ali Ibn Talib dan bersikap keras terhadap bani Hasyim .

Propaganda Abbasiyah dimulai ketika Umar Ibn Abdul Aziz (717-720) menjadi khalifah daulah Umayyah. Umar memimpin dengan adil. Ketentraman dan stabilitas Negara memberi kesempatan kepada gerakan Abbasiyah untuk menyusun dan merencanakan gerakannya yang berpusat di al-Humaymah. Pemimpinnya waktu itu adalah Ali Ibn Abdullah Ibn Abbas, seorang zahid. Dia kemudian digantikan oleh anaknya, Muahammad, yang memperluas gerakan. Dia menetapakan tiga kota sebagai pusat gerakan , yaitu al-Humaymah sebagai pusat perencanaan dan organisasi,  kufah sebagai kota penghubung, dan Khurasan sebagai pusat gerakan praktis . Muhammad wafat pada tahun 125 H/743M dan digantikan oleh anaknya, Ibrahim al-Imam. Panglima perangnya dipilih dari Khurasan yang bernama Abu Muslim al-Khurasani. Abu Muslim berhasil merebut Khurasan dan kemudian menyusul kemenangan dari kemenangan.. pada awal tahan 132H/749M Ibrahim al-Imama ditangkap bani Umaayah dan dipenjara sampai meninggal. Dia digantikan oleh saudaranya, Abu Abbas. Tidak lama setelah itu dua bala tentara, Abbasiyah dan Umawiyah, bertempur didekat sungai Zab  bagian hulu. Dalam pertempuran itu bani Abbas mendapat kemenangan, dan bala tentaranya terus menuju negri syam (Syuriah); disini kota demi kata dapat dikuasai.

Sejak tahun 132H/750M itulah Daulah Abbasiyah dinyatakan berdiri dengan khalifah pertamanya Abu Abbas al-Saffah. Daulah ini berlangsung sampai tahun 656M. masa yang panjang itu dilalui nya dengan pola pemerintahan yang berubah-ubah sesuai perubahan politik, sosial, budaya, dan penguasa. Berdasarkan pola dan perbedaan politik itu, para sejarawan biasanya membagi masa yang dilalui Daulah Abbasiyah kedalam lima ppriode

2.1.1 Periode Pertama (132-232H/750-847M)

Walaupun Abu Abbas adalah pendiri daulah ini, pemerintahannya hanya singkat (750-754). Pembina sebenarnya adalah abu Ja’afar al-MAnsyur. Dia dengan keras mengahdapi lawan-lawannya dari bani Umayyah, khawarij, dan juga Syi’ah yang merasa mulai dikucilkan dari kekuasaan. Untuk mengamankan kekuasaannya, tokoh sezamannya yang mungkin menjadi pesaing baginya satu persatu disingkirkannya. Abdullah bin Ali dan Muslim bin Ali, keduanya adalah pamannya sendiri yang telah ditunjuk sebagai gubernur oleh khalifah sebelumnya disyuriah dan Mesir, karena tidak beredia membaiatnya, akhirnya terbunuh ditangan Abu Muslim al-Khurasani, Abu Muslim sendiri, karena dikawatirkan akan menjadi pesaing baginya, akhirnya dihukum mati oleh khalifah pada tahun 775.

Untuk lebih memantapkan kekuasaannya dan stabilitas Negara yang baru berdiri itu, Abu Ja’far memeindahkan ibu kota dari al-Hasyimiyah, dekat Kuffah, kekota yang baru dibangunnya, Baghdad, pada tahun 767. disana ia menertibkan pemerintahannya dengan mengangkat aparat yang duduk dalam lembaga eksekutif dan yudikatif.

Pada masanya konsep khalifah berubah. dia berkata “innama ana sultan Allah fi ardhi” (sesungguhnya saya adalah kekuasaan tuhan di bumi_Nya). Dengan demikian, jabatan khalifah dalam pandangannya dan berlanjut kegerasi sesudahnya merupakan mandat dari Allah swt dan bukan dari manusia, dan bukan juga sekedar pelanjut Nabi saw sebagaimana pada masa khulafa’ ar-Rasyidun. Puncak popularitas dinasti ini berada pada zaman khalifah Harun ar-Rasyid (786-809) dan putranya al-Ma’mun. daulat ini lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan islam dari pada perluasan wilayah yang memang sudah luas.

2.1.2 Periode Kedua (232-334H/847-45M)

Al-Mu’tasyim khalifah berikutanya memberi peluang besar kepada orang-orang turki masuk kedalam pemerintahan. Daulah Abbasyiah mengadakan perubahan sistem ketentaraan. prateknya orang-orang muslim mengikuti perjalanan perang sudah terhenti. Ketentaraan kemudian menjadi prajurit-prajurit Turki yang professional. Kekuatan militer dinasti Abbas jadi sangat kuat. Akibatnya, tentara itu menjadi sangat dominan sehingga khalifah berikutnya sangat dipengaruhi atau jadi boneka ditangan mereka. Khalifah al-Wasiq (842-847) mencaba melepaskan diri dari dominasi tentara Turki tersebut dengan memindahkan ibu kota ke Samarra, tetapi usaha itu tidak berhasil mengurangi dominasi turki. Akan tetapi khalifah al-Mutawaqil yang menjadi awal periode ini  adalah seorang khalifah yang lemah.

Pada masa itu orang-orang Turki dapat merebut kekuasaan dengan cepat setelah al-Mutawaqil wafat. Merekalah yang memilih dan mengangkat khalifah sesuai dengan kehendak mereka, dengan demikian , kekuasaan tidak lagi berada di tangan khalifah bani Abbas , meskipun mereka berada tetap dalam jabatan khalifah. Dari dua belas khalifah pada peride ini, hanya empat orang khalifah yang wafat dengan wajar, selebihnya, kalau bukan dibunuh diberhentikan secara paksa.

2.1.3 Periode Ketiga (223-447H/945-1055M)

Pada periode ini, Daulah Abbasiyah dibawah kekuasan Bani Buawiyah. Keadaan khalifah lebih buruk dari keadaan khalifah sebelumnya, terutama karena bani Buawiyah adalah penganut aliran Syi’ah. Khalifah tidak lebih sebagai pegawai yang diperintah dan diberi gaji. Bani buawiyah membagi wilayah kekuasaanya kepada tiga saudaranya; Ali untuk wilayah bagian selatan negeri Persia, Hasan untuk wilayah bagian utara, dan Ahmad untuk wilayah al-Ahwaz, Wasit, dan Baghdad. Dengan demikian Baghdad pada periode ini tidak lagi merupakan pusat pemerintahan  islam karena telah pindah ke Syiraz dimana berkuasa Ali bin Buawiayah yang memiliki kekuasaan bani Buawiyah.

2.1.4 Periode keempat (447-590H/1055-1199M)

Periode ini ditandai dengan kekuasaan bani Seljuk atas daulah Abbasiyah.. Kehadiran bani Seljuk ini atas “undangan” khalifah untuk melumpuhkan bani Buawiyah di Baghdad. Keadaaan khalifah memang membaik, paling tidak karena kewibawaanya dalam bidang agama kembali setelah beberapa lama dikusai orang-orang Syi’ah

2.1.5 Periode kelima (590-656/258)

Pada priode ini, khalifah Abasiyah tidak lagi dalam kekuasaan suatu diansti tertentu. Mereka merdeka dan berkuasa, tetapi hanya di Baghdad dan sekitarnya. Sempitnya wilayah kekuasan khalifah menunjukan kelemahan politiknya, pada masa inilah datang tentara mongol dan Tartar mengahancur luluhkan Baghdad  tanpa perlawanan pada tahun 656/1258.

 

2.2 Negara Abbasiyah                                                                                                            

Kepala negara Adalah khalifah, yang setidknya dalam teori, memegang sesuatu kekuasaan. ia dapat, dan telah melimpahkan otoritas sipilnya kepada seoarang wazir, otoritas pengadilan kepada seorang hakim (Qodhi),dan otoritas militer kepada seorang jendral (Amir), tetapi khalifah sendiri menjadi pengambil keputusan akhir dalam semua urusan pemerintahan. Dalam melaksanakan tugas dan fungsi pemerinatahannya, para kahlifah Baghdad yang paling pertama mengikuti pola administrasi Persia.

Khalifah dibantu oleh seorang pejabat rumah tangga istana (Hajib) yang bertugas memperkenalkan para utusan dan pejabat yang akan mengunjungi khalifah. Disamping itu ada juga seorang eksekutor, yang menjadi tokoh penting diistana Baghdad. Pada masa itu ruang bawah tanah yang digunakan sebagai tempat penyiksaan muncul pertama kali dalam sejarah Arab. Ruang pengamatan bintang terletak berdampigan dengan istana khalifah.  

2.2.1 Sumber Pemasukan Negara

Selain pajak, sumber pendapatan negara yang lain adalah zakat yang merupakan satu-satunya pajak yang diwajibkan atas setiap orang islam. Zakat dibebankan atas tanah yang produktif , hewan ternak, emas dan perak, barang dagangan, dan harta milik lainnya yang dapat berkembang, baik secara alami ataupun setelah diusahakan. Yang dihasilkan oleh orang muslim maupun non muslim. Diriwayatkan ketika al-Mansur meninggal, kas Negara berjumlah 600 juta dirham dan14 juta Dinar ketika al –Rasyid meninggal, jumlah mencapai lebih dari 900 juta dirham, dan ketika al-Muqtafi meninggal perbendaharaan Negara meliputi permata, perabotan rumah tangga, dan perumahan senilai 100 juta dinar.

2.2.2 Biro-biro pemerintahan

Disamping pajak, dinasti Abbasiyah juga memiliki kantor pengawas (diwan al-dziwam) yang pertama kali diperkenalkan oleh al-Mahdi; dewan korespondensi atau kantor arsip (diwan al-tauqi) yang menangani semua surat resmi, dokumen politik serta intruksi dan kektetapan khalifah; dewan penyelidik keluhan; dengan departeman kepolisian dan pos.

Dewan penyelidik keluhan (diwan al-nazhar fi al- mazhalim) adalah sejenis pengadilan tingkat banding , atau pengadilan tinggi untuk menangani kasus-kasus yang diputuskan secara keliru pada departeman administrtif dan politik. raja Normandia, Roger II, (130-1154) memperkenalkan lembaga tersebut kesisilia, yang kemudian mengakar didaratan Eropa .    

Departemen kepolisian (diwan al-syurthah) di kepalai oleh seorang pejabat tinggi yang diangkat sebagai Shibab al syurthah, yang berperan sebagai kepala polisi dan kepala keamanan istana, dan masa belakangan terkadang merangkap sebagai seorang wazir. pada setiap kota besar terdapat kepolisian khusus yang memiliki pangkat kemiliteran, dan biasanya bergaji tinggi. Kepala polisi tertinggi  disebut Muhtasib, karena ia mengawasi pasar, dan menjaga tatanan social. Ia bertugas mengawasi apakah ukuran dan timabangan dan ukuran yang digunakan dalam perdagangan telah memenuhi standar, apakah hutang piutang telah dipenuhi dengan baik , apakah moralitas telah terjaga, dan apakah hal-hal yang terlarang telah dihindari; seperti berjudi, minum-minuman keras.

Ciri penting dari dinasti Abbasiyah adalah adanya departeman pos[8] yang dikepalai oleh seorang pejabat yang disebut Shahib al barid, meskipun pada awalnya dirancang untuk memenuhi kepentingan negara, lenbaga pos juga memberikan layanan terbatas untuk susrat-surat pribadi. Masing-masing propinsi ibu kota membentuk kantor pos. pada dinasti Abbasiyah dari berbagai alat untuk menyampaikan surat diantaranya melatih burung merpati untuk meyampaikan surat kepada tempat tujuan. Contoh pertama yang dapat ditemukan terkait dengan berita tentang penangkapan seorang pemberontak Babik , kepada sekte Khurami, disampailkan keapada al-Mu’tasihim dengan menggunakan burung merpati pada 837.

2.2.3 Sistem organisasi militer

Kekhalifahan Arab tidak pernah memiliki pasukan regular dalam jumlah besar, terorganisisir dengan baik, berdisiplin tinggi, serta mendapat pelatihan dan pengajaran secara regular.

Pasukan regular pada masa awal Dinasti Abbasiyah terdiri atas pasukan infantry (harbiyah) yang bersenjatakan tombak, pedang dan perisai, pasukan panah(ramiyah) dan kavaleri (fursan) yang menggunakan pelindung kepala dan dada, serta bersenjatakan tombak panjang dan kapak. Dinasti Abbasiyah mengandalkan pasukan Persia dibanding pasukan arab, oleh karena itu arab kehilangan peran dalam kemiliteran, setiap 10 prajurit dibawah komando seorang ‘arif setiap 50 prejurit berada dibawah komando seorang Khalifah, dan setiap 100 prajurit oleh seorang qa’id. Untuk pasukan 10.000 orang, yang terdiri dari 10 batalion dikepalai oleh seorang amir (jenderal). Pasukan 100 orang mebentuk sebuah skuadron membentuk sebuah unit.

2.2.4 Administrasi Wilayah Pemerintah

Propinsi Dinasti Abbasiyah mengalami perubahan dari masa kemasa, dan klasifikasi politik tidak selalu terkait dengan klasifikasi geografis kita dapat menjabarkan provisi-provinsi Dinasti Abbasiyah yang merupakan provinsi utama pada masa awal pemerinatahan Baghdad :

(1) Afrika disebelah barat gurun Libya bersama dengan Sisilia,(2) Mesir, (3) Suriah dan Palestina yang terkadang dipisahkan .(4)hijaz dan Yamamah (arab tengah) (5) Yaman dan arab selatan (6) Bahrian dan Oman, dengan Basrah dan Irak sebagai ibu kotanya (7) Sawad, atau Irak (Mesopotamia bawah), dengan kota utamanya setelah Bagdad, yaitu Kuffah dan Wasit  dan seterusya masih banyak lagi Negara yang lainya

Meskipun tidak dikehendaki oleh ibu kota kerajaan, proses desentralisasi merupakan konsekuensi yang tak terhindarkan dari wilayah yang sedemikian luasnya itu, selain karena sulitnya sarana komunikasi. Dalam persoalan lokal, otoritas gubernur cendrung sanagat dominant dalam jabatannya bisa diwariskan. Secara teoritis ia memeggang jabatan itu selama disenangi oleh wazir, yang merekomendasikan jabatannya kepada khalifah, dan ia akan diturunkannya jika wazir itu diganti. Tentang unsur gubernur al-Mawardi membedakan atara dua jenis jabatan gubernur: Imarah ‘ammah (Amir umum), yang memiliki kekuasan tinggi untuk mengatur masalah militer, mengangkat dan mengawasi hakim pengadilan, memungut pajak, memelihara ketertiban, menjaga mazhab resmi Negara dari segala penyimpamgan, menata administrsi kepolisian, dan menjadi imam shalat jum’at dan gubernur memiliki otoritas khusus, yang tidak memiliki otoritas peradilan dan perpajakan. Namun, kebanyakan dari klasifikasi tersebut hanya bersifat teoritis, karena otoritas seorang gubernur mengingat berdasarkan kemampuan pribadinya.

 Pemasukan lokal dari tiap-tiap provinsi diatur berdasarkan pemerintah provinsi tersebut. Jika pengeluaran lebih sedikit dari pada pemasukan lokal, seorang gubernur akan mengirimkan sisa belanja ke bendahara Negara. Administrasi peradilan berada ditangan seorang hakim provinsi yang dibantu oleh sejumlah wakil yang ditempatkan diberbagai subdivisi provinsi.

 

2.3 Masyarakat Pada zaman Dinasti Abbasiyah

Pada awal Dinasti abbasiyah, kaum wanita menikmati tingkat kebebasan yang sama dengan kaum wanita pada  masa Dinasti Umayyah. Pada masa itu, banyak perempuan yang berhasil mengukir prestasi dan berpengaruh di pemerintahan, baik dari kalangan atas, seperti Khazuran, istri al-Mahdi dan ibu al-Rasyid; Ulayyah, anak prempuan al-Mahdi; Zubaydah, istri al-Rasyid dan ibu al-Amin; dan buran, istri al Ma’mun, atau dari kalangan awam, seperti wanita muda Arab yang pergi berperang dan memimpin pasukan, mengubah puisi dan bersaing dengan laki-laki dibidang sastra, atau mencerahkan masyarakat dengan kcerdasan, musik dan keindahan suara mereka. Di antaranya adalah Ubayadah al-Yhunburiyah yang kondang disekuruh negri pada masa al- M’tasim sebagai biduanita dan musisi yang cantik.

Busana laki-laki memiliki corak yang beragam dari model yang terbatas. Penutup kepala yang biasanya dipakai adalah topi hitam yang tinggi dan mengerucut, qulansuwah, yang terbuat dari bahan sintetis atau bulu binatang, dan diperkenalkan oleh al-Manshur. Celana panjang yang lebar (sarawil) dari Persia, kemeja, rompi dan jaket (qafthan). Dengan jubbah luar (‘aba’ atau jubbah[9]),melengkapi isi lemari laki-laki[10], para teolog yang mengikuti intruksi Abu Yusuf, hakim terkenal khalifah al-Rasyid , mengenakan sorban dan mantel hitam (tunggal, thaylasan)

Perabotan rumah yang paling umum adalah Diwan, sebuah safa yang mengisi tiga sisi ruangan. Tempat duduk yang ditinggikan dalam bentuk kursi telah diperkenalkan pada dinasti sebelumnya, namun bantal yang diletakan diatas kasur kecil segi empat (dari bahas Arab, mathrah) dilantai, untuk menjadi tempat pembaringan yang nyaman, tetap popular. Makanan disajikan pada nampan perunggu yang diletakan diatas meja rendah yang diletakan didepan diwan atau bantal. Dirumah-rumah orang berada, nampan–nampan itu terbuat dari perak, meja kayu berlapis ebonit, kulit kerang mutiara atau tempurung kura-kura yang mirip dengan kini yang masih dibuat di Damaskus.

Salah satu gaya hidup, dan kebiasaan masyarakat pada periode Abbasiyah adalah berendam di tempat pemandian umum. Baghdad pada masa al-Muqtadir mmemiliki sekitar 27 ribu tempat pemandian umum yang terdiri dari aliran air dingin dan panas. Seperti pada masa sekarang, tempat pemendian itu terdiri atas beberapa kamar dengan lantai bermotif mosaic dan bagian dalam dinding terbuat dari marmer yang mengelilingi ruang utama yang luas. Ruangan paling dalam ini, yang dinaungi kubah dengan atap bundar yang trasparan sehingga memungkinkan cahaya masuk kedalam ruangan, dipanaskan dengan uap yang naik dari pusat semburan air di tengah. Ruang bagian luar digunakan untuk duduk, menikmati minuman dan makanan kecil

Al-Rasid dikenal sebagai khalifah dinasti Abbasiyah pertama yang memainkan catur. Catur (bahasa arab, syihranj, dari bahasa sangkrit), yang bersal dari India, segera menjadi permainan ruangan yang popular untuk mengisi kalangan aristokrat, dan mengantikan permainan lempar dadu. Khalifah al-Rasyid diriwayat juga mengirim papan catur sebagai hadiah untuk Charlemagne, dan pada masa perang Salib Si Tua dari gunung memberikan memberikan hadiah yang sama kepada raja St. Lois. Diantara permainan lain yang dimaikan dengan menggunakan papan adalah damdaman, yang juga bersal dari India.

Olah raga luar ruangan yang juga popular adalah panahan, polo, bola dan pemukul, lempar lembing, lomba kuda dan berburu. Dikalangan teman-teman akrabnya, al-Jahij yang dikenal mahir memanah, berburu, bermain bola, dan catur. Ketika sedang main teman akrabnya dipandang setara dengan khalifah dan mereka tidak merasa kahwatir dan menyinggung khalifah.

 

2.4 Perdagangan dan Induatri

Kekuasaan kerajaan yang sedemikian luas dan tingkat peradaban yang tinggi itu dicapai dengan melibatkan jaringan perdangan internasional yang luas. Pelabuhan-pelabuhan seperti Baghdad, Bashrah, Siraf[11]Kairo, dan Iskandariyah menjadi pelabuhan internaisonal.

Disebelah timur, pedagang islam telah menjelajah sampai ke Cina, yang berdasarkan riwayat berbahasa arab, telah dilakukan sejak masa kahlifah al-Manshur para pengusaha dari Bashrah yang membawa dagangannya dengan kapal laut kebergabagai negriyang jauh, masing-masing membawa muatan bernilai lebih dari satu juta diraham. Seorang pemilik penggilingan di Bashrah di Baghdadmampu berderma untuk orang miskin 100 dinar perhari, tingkat aktivitas perdagangan di dukung oleh pengembangan industri kerajinan tangan diberbagai pelook kerajaan. Daerah asia barat menjadi pusat industri karpet, sutra, kapas, dan kain wol, satin dan brokat, sofa lengkapan dapur dan rumah tangga lailainnya.

Di Tustar dan Sousa di Kuzistan (Susiana) terdapat sejumlah pabrik yang terkemnal dengan kain sulamannya (damask)[12] yang dihiasi dengan emas, juga terkenal dengan gordennya yang terbuat dari tenunan sutra (khazz). Produksi mereka yang lainnya adalah kain yang terbuat dari bulu unta dan domba, juga rompi dari tenunan sutera yang terkenal luas. Syiraz menghasilkan rompi dari wol, kain transparan dan brokat. Dikenal dengan nama “taffeta”.  Perempuan Eropa membeli kain sutra Persia, di toko-toko Eropa. Khurasan dan Armenia terkenal dagangannya yang berupa tilam meja, hiasan dinding, serta kain pembungkus sofa dan bantal.

Industri lain yang sangat penting pembuatan kertas tulis, yang di perkenalkan pada abad ke 8 dari cina ke Samarkhan [13] kertas samarkand, yang diduduki islam pada tahun 704, di pandang tidak ada tandingannya pada saat itu. Sebelum akhir abad ke 8 Baghdad memiliki pabrik kertas pertama. Secara bertahap kota-kota lain juga mendirikan pabrik.

Seni mengolah perhiasan juaga mengalami perkembangan pada masa Dinasti Abbasiyah, mutira, safir, rubi, emerald, dan permata sangat disukai para bangasawan; sedangakan batu zamrud yang berwarna biru kehijauan, batu carnelius, coklat, atau hitam disukai oleh kalangan bawah. Salah satu batu berharga paling terkenal di dalam sejarah Arab adalah rubi besar, yang pernah dimiliki oleh raja Persia, yang diatasnya di ukir nama Harun, ketika ia memperoleh 40 ribu dinar,  rubi itu begitu besar dan berkilau hingga “jika pada malam hari kita meletakan di kamar yang gelap, ia akan bersinar seperti lampu. Suadara perempuan Harun seperti yang kita ketahui mengenakannya uantuk menghias kepalanya, sedangkan istrinya menggunakannya untuk menghias sepatunya.

 

2.5 Bidang Pertanian

Bidang pertnian maju pesat pada masaa awal dinasti Abbasiyah karena pemerintahannya sendiri terletak diderah yang sangat subur, ditepian sungai yang biasa di kenal Sawad; karena mereka menyadari pertanian merupakan sumber utama pemasukan Negara; dan pengelohan tanah hampir sepenuhnya di kerjakan oleh penduduk asli, yang statusnya mengalami peningkatan pada masa rezim baru ini. lahan-lahan pertanian yang terlantar, di desa-desa yang hancur di berbagai wilayah kerajaan di perbaiki dan dibangun kembaii secara bertahap. daerah rendah didaerah tigris-efrat, yang merupakan daerah terkaya setelah mesir, dan dipandang sebagai surga aden, mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat. Mereka membuka kembali saluran irigasi yang lama dari sungai effrat, dan membuat saluaran irigasi baru sehingga membentuk “jaringan yang sempurna”. Kanal besar pertama, yang disebut Nahr I’sa setelah digali kembali oleh keluarga al-Mansur, menghubungkan aliran sungai effrat di Anbar sebelah barat laut dengan sungai tigris di Baghdad.

Tanaman asli Irak terdiri atas gandum, padi, kurma, wijen, kapas dan rami. Daerah yang sangat subur berada di daratan tepian sungai ke selatan, Sawad, yang menumbuhkan berbagai jenis buah dan sayuran, yang tumbuh didaerah panas maupun dingin. Kacang , jeruk, terung, tebu, dan beragam bunga seperti, bunga mawar dan violet tumbuh subur.

Daerah Khurasan merupakan daerah pertanian yang paling makmur sehingga menjadi pendapatan pajak kerajaan terbesar. Kota bundar Bukhara, merupakan daerah perkebunan yang subur, disini antara Samarkan dan Bhukara, terbentang lembah Sogdiana, salah satu dari “empat sorga dunia”, yaitu Shi’b Bawwan (celah bavvan di Faris), kebun Ubalah Canal, yang membentang dari Bashrah  ketenggara. Ditaman-taman ini tumbuh subur beberapa jenis buah, sayuran dan bunga, seperi kurma, apel apricot, persik, prem, lemon, jeruk, anggur, zaitun, almond, delima, terung, lobak, mentimun, mawar, kemangi, segka, di datangkan dari Kwarizm ke istana al-Ma’mun dan al-Wastiq dalam peti yang diisi es, harga satu buah semanga diBaghdad mencapai 700 dirham. Pada keyataannya , pohon dan sayuran yang kini tumbuh sudah dikenal pada masa itu, kecuali magga, kentang, tomat, dan tanaman sejenis baru diperkenalkan dari dunia baru. Dan Negara koloni eropa di seberang benua.

Minat terhadap peranian tampak dari kebanyakan buku mengulas tentang tumbuh-tumbuhan, termasuk terjemaahan dari bahasa Yunani, yang terdapat dalam fihrist, jaga ada buku tentang pembutan farfum dari bunga, dan buku yang di klaim sebagai karya ibnu Wahsyiyah yang berjudul al-Filahah  al-Nabatiyah

 

2.6 Bidang Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan yang bekembang di dunia islam tidak terlepas dari pengaruh dunia asing, diriwayatkan sebagia\n pengaruhnya berasal dari Indo-Persia dan Suriah dan yang paling penting adalah pengaruh Yunani. Gerakan intelektual itu ditandai dengan penerjemaahan bahasa-bahaa Persia sang sekerta, suriah, Yunani, ke bahasa arab. Dimulai dengan karya mereka sendiri tentang ilmu pengetahuan, filsafat, atau karya sastra yang tidak terlalu banyak, orang Arab islam, memiliki keingintahuan yang tinggi dan minat belajar yang besar. Disyuriah, mereka menyerap perdaban Armaik yang telah ada sebelumnya, yang  dipengaruhi oleh Yunani, dan Irak mereka juga mngadopsi pererdaban serupa yang telah di pengaruhi oleh Persia. Tiga perempat abad setelah berdirinya Baghdad, dunia literarur arab telah memiliki karya filsafat utama Aristoteles, karya para komentator Platonis, dan tulisan-tulisan kedokteran Galen, , juga karya-karya ilmiah Persia dan India.

Bagi dunia islam India telah memberikan infirasi dibidang mistisme dan matematika. Sekitar 154H.771M, seorang pengembara India memperkenalkan naskah astronomi kedunia Baghdad yang berjudul Sinddhanta (bahasa Arab sindhin), yang atas perintah al-Mansur yang kemudian diter jemahkan oleh Muhammad Ibn Ibarahim al-Fazari, yang kemudian menjadi astronom islam pertama. Pengembara India itu juga membawa naskah tentang matematika, yang darinya bilangan-bailangan dari Eropa disebut bilangan dari Arab, dan yang oleh orang Arab di sebut bilangan India (Hindi), masuk kedunia Arab[14]. Pada abad ke 9, orang India juga memberi sumbangan penting terhadap pengetahuan Arab yaitu system desimal dalam matematikaa

Persia juga memberikan sumbangan dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dunia islam, disamping kesenian, sastra Persia lebih menonjol pengaruhnya dibanding karya filasafat. Versi bahasa Arabnya menjadi landasan penerjamaahan 40 bahasa, termasuk bahasa Eropa , Ibrani, Turki, Etiopa, dan Melayu. Buku tersebut dimaksudkan bagi para pangeran mengenai hukum-hukum pemerintahan, yang disampaikan melalui kisah-kisah hewan, di terjmahkan kedalam bahasa arab oleh al-Muqtaffa[15]

Pemikiran Yunani banyak mempengaruhi para pemikir dunia islam sehingga puncaknya pada masa khalifah al-Ma’mun yang berfikir rasionalistik, yang menyatakan teks-teks al-qur’an harus bersesuaian dengan nalar manusia, Fihrist mengungkapkan bahwa Aristoteles muncul pada mimpi khalifah dan menyakinkanya wahyu harus sejalan dengan akal. sejalan dengan kebijakan yang ia ambil, pada 830 di Baghdad al-Ma’mun membangun al-Hikamh[16] (rumah kebijaksanaan), sebuah perpustakaan, akademi, sekaligus biro penerjemaahan, yang bergai hal merupakan  lembaga pendidikan paling penting setelah berdirinya museum iskandariyah pada paruh pertama abad ke 3 S.M.. Dimulai pada masa al-Ma’mun , dan berlanjut pada masa penerusnya, aktivitas intelektual berpusat di akademi  yang baru didirikan itu. Era penerjemahaan dinasti Abbasiyah berlangsung selama seabad yang dimulai pada 750 M. karena kebayakan penerjemaahan adalah orang yang berbahasa Aramaik, maka bahasa Yunani pertama diterjamaahkan kedalam bahasa Aramaik (Syuriah) sebelum akhirnya diterjamahkan kedalam bahasa Arab.

Salah satu penerjemah pertama dari bahasa Yunani adalah Abu Yahya ibn al-Bathiq, yang terkenal karena menrjemahkan karya-karya Galen dan Hipocrates (w.  436 S.M.) untuk al-Manshur, dan karya Ptolemius, Quadripartitun, untuk khalifah lainnya. Elemen karya Eauclid dan Almagest, dalam bahasa Arab disebut al-Majisthi atau al-Mijisthi (yang berasal dari bahasa Yunani, Megistc, yang berarti “terbesar”), sebuah karya besar Ptolemius tentang astronomi dan terjadi perivisian semua karya yang telah diterjemaahkan pada masa al-Rasyid dan al-Ma’mun, terutama  manuskrip tentang kedokteran, yang dibawa oleh khalifah dari Ankara dan Amorium.

2.6.1 Ilmuan –Ilmuan Islam

Zakaria al-Arazi (865-925), Al-Razi terkenal dengan Razhes (bahasa latin), beliau adalah ahli kedokteran klinis, dan penerus ibn Hayyan dalam pengembangan ilmu kimia. Ia melakukan penelitian empiris dengan menggunakan peralatan yang lebih canggih dibanding dengan kegiatan ilmiah sebelumnya dan mencatat setiap perlakuan kimiawi  yang dikenakannya terhadap bahan-bahan yang ditelitinya serta hasilnya. Bukunya merupakan buku manual laboratorium kimia pertama.

Al-Farabi (870-950); al-Farabi dikenal dibarat dengan nama Alpharabius adalah filosof yang ahli dalam bidang logika, matematika, dan pengobatan. Dalam bidang fisika, al-Farabi menulis kitab al-Musiqa, kitab yang ditulisnya begitu banyak dan sebagian masih dapat dibaca hingga sekarang ini. Diantaranya adalah; al-Tanbih ‘ala Sabil al-Sadat, Ihsa al-Ulum, al-Jam’bayn Ra’y al-Hakimayn, dan masih anyak lagi.

Al-Biruni (973-1048); dia tinggal di istana Mahmud di Ghani (Afghanistan). Dia dijuluki gelar ahli antropologi pertama oleh Akbar S, Ahmed,  argumentasinnya adalah karena al-Biruni merupakan observer partisipan yang luas tentang masyarakat “asing” dan berupaya mempelajari naskah primer dan pembahasannya. Disamping sebagai Antropolog, al-Biruni juga ahli matematika, astronomi, dan sejarah. Al-Biruni menulis buku kitab al-Hind atau Tahqiq (investigasi atas india). Tahqiqi ma al-Hind adalah judul buku yang asli ditulis oleh al-Biruni  kitab ini yang merupakan hasil penelitian yang dilakukan antara tahun 1017-1031 di India. Kitab ini kemudian diterjemahkan kedalam bahasa jerman oleh E. Sachau pada tahun 1887; setelah itu diterjamaahkan lagi kedalam bahasa Inggris dengan judul al-Bruni’s India. Salah satu isi buku tersebut adalah membicarakan kasta dan kelas social dibawahnya.

Achnmad Biquni menginformasikan bahwa al-Biruni merupakan ulama yang pertama yang mempersoalkan perputaran bumi mengelilingi sumbunya, dan menyebabkan universalitas hokum alam dengan mengatakan bahwa gravitasi di bumi sama dengan graviatsi dilangit. selain itu, ia pun menulis kitab al-Sidina yang berisi sejumlah informasi pengobatan pada waktu itu.

Ibn Sina (980-1037); nama latin Ibnu Sina adalah Avecenna, beliau dalah ahli kedokteran dan Filsafat. Karya besar dalam bidang kedokteran adalah al-Qonun fi al-Thib. Buku ini selama lima abad menjadi buku pegangan di unversitas Eropa. Selain itu, beliau juga memiliki karya ilmiah pada bidang logika,matematika, astronomi,  fisika, mineralologi, ekonmi, dan olitik.

Umar Khayam (1038-1148); Umar Khayan adalah seorang ahli astronomi, kedokteran, fisika dan sebagian besar karyanya dalam bidang matematika. Akan tetapi, beliau lebih dikenal sebagai penyair dan sufi. beliau adalah penemu koefisien-koifisien binomial dan memcahkan persamaan persaman kubus

Al-Frdausi ,beliau temasuk orang yang di terkenal dikalangan pujangga Ghazna[17], karya terbesarnya adalah Shahnama,menurut Chahar Maqala.  kitab syair terdiri dari 60.000 bait. Ibn Masykawaih, pakar sejarah dan kemudian jadi filosuf dengan karyanya yan gsangat terkenal Hayy Ibn Yaqzhan. Istahkridia adalah ahli ilmu-ilmu bumi . Al-khawarizmi biliau adalah ahli bidang al-zabar. Ibn Haitami beliau adalah pemilik teori cahaya yang lebih sempurna disbanding dengan toeri cahaya sebelumnya yang dibangun oleh Euclid dan ptolemius. Dan masih banyak lagi ilmuan yang hidup pada masa Dinasti Abbasiyah.

 

2.7. Fase Kemunduran Dinasti Abbasiyah

factor-ktor yang mrmbuat Dinasty Abbasiyah lemah dapat dikelompokan menjadi factor ektern dan factor intern adalah (a) adanya persaingan tidak sehat anatara beberapa bangsa yang terhimpun dalam Daulah Abbasiyah, terutama Arab, Persia, dan Turky,(b) adanya konflik aliran pemikiran dalam islam yang sering memnyebabkan timbulnya konflik berdarah, (c) munculnya dinasti–dinasti kecil yang memerdekakan diri dari kekusaaan pusat Baghdad dan (d) kemerosotan ekonomi akibat kemunduran politik. Adapun factor ektern antara lain, adalah (a) perang salib yang terjadi dalam beberapa gelombang, dan (b) hadirnya tentara mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan. Yang terakhir inilah yang secara langsungmenyebabkan hancurnya Dinasty Abbasiyah dan mengusai kota Baghdad[18].

Kemunduran Dinasty Abbasiyah terlihat begitu tajam ketika terjadi banyak provinsi yang memerdekakan diri dengan membuat kekhlaifahan baru[19]. Perkemabangan-perkembangan politik abad ke 5 dapat dilihat seperti perpecahan dalam ke khalifahan. dimana perlawanan syi’ah tidak lagi mnguntungkan sebuah provinsi yang jauh dari ke khalifahan (banyak gubernur yang jadi otonom) di akibatkan dari khalifah pusat yang terkuasai aleh pengaruh lain yaitu militer atau oleh wazirnya.[20]

Pada saat itu sebenarnya tidak ada pemulihan apaupn bagi Negara. Bukan hanya tentara secara social tidak berakar, demikian juga keungan  Negara pada umunya dikelola oleh  pengusaha-pengusaha (orang-orang Syi’ah) yang tertarik untuk memperoleh keuntungan peribadi, ketimbang oleh aristoklasi yang independent atau oleh birokarasi yang berakar yang mandiri, yang punya kepentingan terhadap stabilitas pemerintahan. apa yang tersisa dari kelas birokraratik Sansani lama barang kali lebih terpaku pada gubernur-gubernur lokal. Istana al-Muqtadir mewah tidak karuan dengan kondisi seperti ini yang terjadi adalah mis-managemant keuangan, yang beraksih dengan masalah-masalah suplai fiskal yang kronis dan ketika pembayaran bala tenatara yang telat mengakibatkan kedsiplinan tentara menurun drastis . menjelang akhir kepemimipinan al-muqtadir, negara menjadi bangkrut. Secara beramaan,  otoritas  Baghdad bahkan provinsi-provinsi yang lebih dekat dengan cepat menjadi kecil, empat khaliafah yang berkuasa dengan singkat antara tahun 932-945, masing-masing mereka berada dalam kekuasaan faksi-faksi militer yang telah mengangkat mereka ke dalam kekuasaaan. Jenderal kemudian diberi gelar, amir al-umara, panglima tinggi dan dikaruniai ini kekuasaan untuk menurunkan (penguasa) di dalam negara, sang khalifah, melepaskan semua peran administrasi langsungnya, dan hanya mempertahankan fungsi-fungsi seremonial belaka. Tetapi pemerintah di Baghdad, sekalipun dirampas oleh tentara, segera memerintah lebih dari irak itu sendiri. Teritori yang cukup besar yan telah diwariskan oleh al-Muqtadir telah terbagi diantara kekuatan-kekuatan militer yang kurang bertangungg jawab ketimbang mereka yang sekarang memegang propinsi-propinsi yang lebih jauh kesebelah barat atau ketimur. Disini kekuatan-keuatan syiah berjaya, seklipun kurang spektakuler dan juga kurang ambisius ketimbang kaum Ismailiyah, tetapi juga dalam berapa waktu lebih menonjol dalam peristiwa-peristiwa kekaisaran.

Telah sejak (menjelang) tahun 897, syiah Zaidiyah telah mendirikan kekkuasaan mereka di Yaman. Tetapi ini merupakan sebuah kasus yang terlepas, seperti pendirian Ismailiyah di Magrib. Lebih dekat ke pusat, pada tahun 905 Bani Hamdani, pemimpin-pimpinan blok suku baduwi, telah mengangkat diri mereka sendiri sebagai gubernur-gubernur mosul di Zajirah sendiri sebelum akhir pemerintahan al-Muqtaqdir, mereka menjadi betul-betul otonom . mereka adalah syiah , seperi banyak baduwi utara pada masa itu, nampaknya sandaran-sandaran Nusyayiri. Teapi kekuatan utama mereka adalah posisi mereka yang terhormat sebagai kepala-kepala dikalangan kaum pengembala, yang dapat mereka senangkan dengan kebebasan dari hukuman. ditahun 994, satu cabang dari keluarga tersebut didirikan di Aleppo. Disana mereka dapat mengemban beban utama dari pertahanan kaum muslimin terhadap kedatangan mlitier Byzantium yang di perbaharui. Orang-orang Bizantium, memperoleh kembali Sisilia dan banyak teritori lain, disebelah timur dari dataran tinggi Anotolia, dan yang maju sampai Syiria  ghazi-ghazi yang dengan sukarela mengabdikan diri untuk perang suci datang dari jauh untuk mencegah melapetaka. Sayfaf al-Dawah , yang paling terkenal dari kaum hamadni, menararik para penyair dan sarjana ke Aleppo; ia melindungi al-mutanabi’ dan al-Farabi. Ia kurang berhasil dalam perang melawan Bizantium, dimana dia mendapat sedikit bantuan formal dari tempat lain, dan ia tidak menyelamatkan Antioch; namun para penyair memuji keberaniannya, dan untuk tepatnya dalam nyayian mereka, ia meneriama sama banyaknya pujian dan nama baik seolah-olah ia betul-betul telah mengembalikan sang musuh.

Menjelang tahun 928, di negeri-neri sebelah tenggara laut Kaspia, kaum Ziyariyah, pemimpin-pemimpi militer, telah memrdekakan diri dan telah merayap kegubernuran-gubernuran Irak A’jami juga. Di antra tentara-tentara mereka dari Daylam, sebuah teritori sub Kaspia yang kecil tapi terjal, tiga orang bersaudara dari keluaga buyid (dalam bahasa arab buawiyah), naik kekaptenan yang tinggi  dan segera memerdekakan diri mereka, dengan bantuan bala tentara dari Daylami, sekaligus dari kaum Ziariyah dan juga dari para khalifah. menjelang tuhan 934, mereka mengusai bagian yang lebih besar dari iran barat, meskipun, sebagaian bani Hamdani, dalam memerintahnya tidak bisa mengabaikan kesenangan dari orang-orang mereka _prajurit-prajurit propesional, baik dari kaum Daylami maupun kemudian orang Turki juga. Kaum Bayid juga adalah syia’h, sebagaimana kebanyakan orang-orang Daylami _mereka adalah memluk syi’ah  kebanyakan melalui pemberontakan-pemberontakan syi’ah yang menggunakan gunung-gunug mereka sebagai basis. Kaum Buyid cenderung ke syi’ah s, tetapi tida secara eklusif mereka memberi status resmi dalam teritori mereka kepada hari Raya syi’ah.

Karena tidak muncul, sebagaimana orang Thahiri dan Thuluni misalnya, sebagai gubernur-gubernur yang secara biasa diangkat sebagai pimpinan militer yang mengisi kekuasaan militer, mereka tidak memiliki jalinan khusus dengan pemerintahan sang khalifah  dengan figur-figur utama lainya; mereka semata-mata mengosongkan secara efektif kekuasan dan otoritas mereka di negeri-negeri mana saja yang dapat mereka rampas. Meskipun begitu, mereka mencoba melaksanakan administrasi kekhalifahan meskipun dalam bentuk yang lebih disederhanakan.

Mesir, yang diambil kembali dari bani Thulun pada tahun 906, dikuasai untuk kekuasan pusat melalui  pemerintah al-Muqtadir, tetapi pada tahun 937 gubernur kekhalifahan _seorang kapten yang telah mewarisi dari sebuah Negara diseberang Okus gelar “Ikhsyid”_ terbukti cukup kuat sehingga dia tidak dapat digantikan. Ia terus berkuasa secara independent, dengan menguasai banyak juga dari Syiria (dan pertama-tama yang mencegah orang-orang Bizantium dengan lebih berhasil yang ketimbang dilakukan oleh Syaf al-Dawlah ). Keturunan-keturunannya berkuasa secara fiktif dibawah perlindungan dari yang kuasa dari kafur, selain kasim budak _negro; hanya setelah kematianya Bani Fatimiayah dari Mahdiyah mengejawantahkan tujuannya yang lama dinanti-nanti menduduki mesir.

Para pendukung kerajaan Dinasti Abbasiyah (absolute universal )  telah gagal membangun sebuah struktur kekkuasaan lestari, setelah membiarkan prestise kekhalifahan yang besar terdesak sedikit demi sedikit dari satu generasi kegenerasi lainnya. Demikian juga lama syari’ah tidak mampu memberikan tatanan politik yang stabil, baik melalui kerjasama dengan Negara di bawah kekuasan al-Ma’mun dan al-Mu’tashim maupun dalam kemandiriannya yang cukup besar darinya yang mereka nikmati pada masa berikutnya. Tetapi bukannya hanya prestise kekahlifahan yang memudar, tetapi juga prestise tradisi monarkis yang telah dimulai jauh sebelum islam. keselurauhan absolutisme (Bani Abbasiyah) Irano_semetiklah yang harus dipertayakan; ia tidak didukung secara efektif dan tidak juga digantikan dengan yang baru.

Pada tahun 945 salah seorang kapten Bayid yang saudara-saudaranya telah menguasai dataran tinggi Iran atas Irak, menduduki Baghdad. Walaupun ia Syi’ah, kepala Bayid Baghdad (Muiz al-Dawlah) mengambil gelar amir al-umara, komandan tertinggi, dan mengakui posisi teoritis dari kekhalifahan Abbasiyah yang mempertahankan sebuah istana lokal dengan otoritas lokal yang cukup besar. Dalam kenyataanya, Irak sekarang ini hanya merupakan sebuah propinsi dibawah kekuasaan Buyid. Negara kekhalifahan telah berganti sebagai kekhaisaran idependen yang actual.[21]

Pada khalifah al-Mu’tashim beliau kurang peduli terhadap propinsi-propinsi yang yang jauh dari kerajaan malah khalifah al-Mu’tashim lebih memikirkan dirinya sendiri dan kerluarganya sampai beliau mengatakan jika pasukan mongol menyerang kekuasaanku maka akan kasihkan daerah mana saja yang tentara mongol suka, bagiku Baghdad dan kedudukanku cukup untuk keluarga ku dan diriku”, dari perkataan ini menurut para penyair menunjukan khalifah Abbasiyah ini sudah tidak lagi penduli terhadap Negara dan sudah mementingkan kepentingan peribadi. Demi daerah barat banyak Negara non muslim di Eropa yang sudah jatuh terhadap kekusaaan orang-orang mongol setelah menguasai Eropa Hulagu Khan dengan pasukannya maju kewilayah Azarbaijan dan Armenia dan memutar haluannya keselatan memasuki wilayah l-Jazirah dan langsung menuju ke Baghdad

Dengan kedaan yang sudah semakin lemah pasukan mongol datang Hulagu Khan datang pada bulan safar 656 H dan segera mengepung Baghdad. Panglima Rukkunudin dengan persetujuan khalifah keluar dengan pasukannya untuk menghalau pasukan mongol yang melakukan pengepungan terhadap kota Baghdad. Pasukannya kalah, dia pun tewas sisa pasukannya menyelamatkan diri di blik tembok ibu kota Baghdad dan sebagiannya menyelamatkan diri ke Syiria. Setelah kekalahan yang memalukan, wazir Ibn Aqlami  menemui Hulagu Khan , atas persetujuan khalifah dan berlangsung perundingan, dia dan pasukannya pulang ke Baghdad dan melalui suatu kicohan, ia pun mengatakan kepada khalifah “Hulagu Khan bertetap mengakui ke Khalifah. Khalifah al-Mu’tashim dengan seluruh pembesar pemerintahan dan para hakim (al-Quddhat) dan para ulama, berjumlah lebih dari 3000 orang, berangkat keluar ibu kota bagi menjumpai Hulagu Khan. semuanya pada mulanya disambut dengan seyum. tetapi kemudian terjadi pembantain besar-besaran, termasuk kalifah al-Munthansir, keluaga dan putra putrinya, terhadap Ibn Aqlami sendiri maka “fa Inna Hulaku qatala-hu syarra qatlatin ba’da wa-babhakhahu ‘ala khiyanati wali al khalifati”, bermakna Hulagu Khan mebunuhnya dengan lebih bengis lagi, setelah lebih dahulu menistanya, atas perbuatanya penghianatannya pihak yang telah melimpahkan kepadanya yaitu khalif sendiri”.

Hulagu Khan dengan pasukannya menyerbu kedalam kota empat puluh hari lamanya rebut rampas, pembakaran, pengahancuran, pembunuhan masal terhadap peduduk; lelaki, wanita, kanak-kanak, bayi-bayi di dalam gendongan, wanita hamil di tusuki perutnya. Rumah-rumah ibadah dan perpustakaan di obrak-abrik.dalam bukunya Karen dia mngatkan sampai manyat mngisi jalan-jalan[22] sehingga sungai tigris merah oleh darah dan penuh dengan lembaran-lembaran perkamen tragedy dasyat itu mengakhiri dinasti Abbbasiyah  (750-1258) yang berkedudukan di Baghdad setelah berkuasa lebih dari 542 tahun lamanya.[23]

                                       

 

 

                                        

BAB III KESIMPULAN

DINASTI ABBASIYAH

750-1258

 

  1. Dinasti Abbasiyah adalah peletak peradaban dunia pertama yang berkembang hingga sekarang terbukti dari banyak buku (literature ) yang diajdikan rujukan oleh sarjana muslim maupun non muslim
  2. Kemegahan Dinasti Abbasiyah yang tidak tertandingi oleh peradaban manapun pada waktu itu menunjukan bahwa islam dengan ajarannya yang bersumberkan al-qur’an mampu menajadi solusi bagi permasalahan kehidupan
  3. Percampuran pemikiran dari berbagai budaya dan Negara asing menunjukan islam memiliki sikap terbuka
  4. Khalifah pusat dan lokal membangun kota secara fisik dan mental masyarakat dengan ilmu pengetahuan, meskipun status mereka penjajah  
  5. Dinasti Abbasiyah menitik beratkan pada perkembangan peredaban dibanding perluasasan wilayahnya  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Badari Yatim, 2002.  Sejarah Peradaban Dirasah Islamiayah. Raja Grafindo. Jakarta.

Dewan redaksi ensiclopedy islam, 1997. Ensiclopedy Islam. Ichtiar Baru. Jakarta.

Huston Smith, 1999 .Cyril glasse ensklopedi Islam. Raja Grafindo. Jakarta

Jaih Mubarok, 2004. Sejartah Perdaban Islam. Pustaka Bani Qurais. Bandung

Joesoep Souy’B,1978. sejarah daulah abbasiyah. Bulan Bintang . Malysia

Karen Amstrong,  2002 . Islam A short History. Phonik Press. India

Marshall G.S. Hodson, 1984. The Venture Of Islam conscience And Hystory In a World Civilization; The Expansion Of Islam In The Middle Periodes The University Of Cichago Press. London

Marsall G..S.Hodgson, 1974. The Venture Of Islam conscience And Hystory In a World Civilization; The Classic Civilization Of The High Calipath. Universitas Cichago Press.. diterj oleh Dr. Mullyadhi cet I.maret 2002. Theventure Of Islam Iaman Dan Sejarah Peradaban Dunia Khalifah Yang Agung. Paramadina. Jakarta.

Philip K Hitt, 2002.  History of Arabs . New York

PM.M. Holt.. ANN. K.S. Lambton, 2000.  The Cambridge History Of Islam; The Central Islamic Land From Pre-Islamic Times To The First World War. Cambridge University Press

Rafi Ahmad Fidai, .2001 .Consience History Of Muslim Word. Nusrat Ali Nasri For Kitab Bhavan.  New Delhi. India

 


[1] Philip K Hitti History of Arabs. Hal 414

[2]  Abu Abbas meninggal pada 13 djulhijah, dia meninggal di usia 63 dan menurut sumber lain di usia 66 tahun. Kekuasaan saffah adalah 4 tahun 8 bulan. karakternya meskipun terkenal dengan pnumpah darah tapi dia orang yang baik hati. lihat Rafi Ahmad Fidai.2001.consience history of muslim word. Vol.III. New Delhi 1974

[3]  Ibid .hal 385

[4] Huston Smith .Cyril glasse ensklopedi Islam, hal. 3

[5] lihat,  Jaih mubarok  , Sejartah Perdaban Islam (Bandung: pustaka bani qurais) hal. 75

[6]  Lihat Badari yatim , sejarah peradaban dirasah islamiayah II, hal. 49-50.

[7] Huston Smith .Cyril glasse ensklopedi islam, hal.3

[8]  Diwan al barid, biro pos. bahasa arab, barid kemungkinan kosa kata semit, tidak ada kaitannya dengan kasa kata laitin .veredus, bahasa Persia, birdan,  kuda yang cepat, bahasa arab, birdzawn, kuda pengangkut. Bandingkan dengan Ester 8:10 Ishfahni, tarikh, hlm.39. Dikutip dari Philip K. Hitti . History of Arabs.(New York. 2002)  Hal 402 

.

[9]  kosa kata Arab ini menjadi kosa kata bahasa sepayol, yang bisa ditemukan pada sebuah kamus yang disusun pada akhir abad ke 10, dan masuk kedalam bahasa-bahasa Romawi dan dari sana masuk ke Inggris dan rumpun bahasa Jerman lainnya seperti bahasa Slovanic. Dalam kosa kata inggris, kosa kata itu meninggalkan jejak yang menarik dalam bentuk kata “gibber”, yang berarti “tiang gantungan”. Dikutip dari Philip K. Hitti . History of Arabs.(New York. 2002)  Hal 417

[10]  Model baju ini masih diikuti oleh genrasi tua di Libanon dan Suriyah. Dikutip dari Philip K. Hitti . History of Arabs.(New York. 2002)  Hal. 417

[11] Sebuah kota diPersia di Teluk Persia. Penduduk siraf dan Oman dikenal sebagai pasukan mariner. Dinasti Abbasiyah pada masa paling awal.  Dikutip dari Philip K. Hitti . History of Arabs.(New York. 2002)  Hal 428

[12]  jenis kain ini awalnya dibuat di Damaskus, sehingga terkenal dengan sebutan Damask. Dikutip dari Philip K. Hitti . History of Arabs.(New York. 2002)  Hal 432 

[13]  lihat Fredrich Hirt, CHineise studies (Munichdan Leopzig, 1890), jilid I. hlm. 259-271. lihat hal .530 uang kertas , yang juga bersal dari china , di cetak (1294 ) dalam bahasa Arab Tibriz, salah satu tempat tertua didunia islam yang terkenal dengan cetakan batu bertulis. Dikutip dari Philip K. Hitti . History of Arabs.(New York. 2002)  Hal 433 

 

[14]  Bahasa Persia, Nawbahkt  berarti nasib baik. Kebanyakan anggota keluarga ini terkenal dengan penguasaan ilmu pengetahuan. Al-Thabari , jilid, hal. 317-318 (yang muncul dengan nama Nibahkt atau Naybahkt). 1364.  Dikutip dari Philip K. Hitti . History of Arabs. Hal 383 

[15]al-Muktaffa menerjemahkan karya Aristoteles, penerjemahaan karya Aristoteles dalam tiga bagian yang pertama categories, hermenetika dan priot analisis. Bandingkan dengan Jhon L. Esposito, the oxford histori of islam, (oxford university press. New york. 1999), hlm. 271

[16] Jhon L. Esposito, the oxford histori of islam, (oxford university press. New york. 1999), hlm. 272

 

[17] Lihat Rafi Ahmad Fidai.2001.consience history of muslim word. Vol.III. New Delhi 1974 . ha1.74

[18]  Dewan redaksi ensiclopedy islam, Ensiclopedy Islam.cet.4. vahove. 1997.

[19]  lihat PM.M. Holt.. ANN. K.S. Lambton..  the Cambridge history of islam . vol I A , the central islamic land from pre-islamic times to the first world war. (Cambridge University Press.2000) hal.123

[20]  Lihat Marshall G.S. Hodson , The Venture Of Islam conscience And Hystory In a World Civilization . vol. III. (The Expansion Of Islam In The Middle Periodes. The university of cichago press. London 1984). hal 85

 

[21]  Lihat terjmaahan Marsall G..S.Hodgson The Venture Of Islam conscience And Hystory In a World Civilization . vol. II. The Classic Civilization Of The High Calipath..(universitas cichago press. 1974) diterjamaahkan oleh Dr. Mullyadhi cet I.maret 2002. (Theventure Of Islam Iaman Dan Sejarah Peradaban Dunia Khalifah Yang Agung.Paramadina.2002 )

[22]  Lihat, Karen Amstrong. Islam A short History.Edisi ke III Maret. 2002  (Phonik Press. India)

[23] Joesoep Souy’B, sejarah daulah abbasiyah, cet I (Bulan Bintang , Malysia 1978) hal 307-308

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s