HADIS SOSIAL

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL

Oleh Apip Sohibul Faroji

 

 

Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk individu ia memiliki karakter yang unik, yang berbeda satu dengan yang lain (bahkan kalaupun merupakan hasil cloning), dengan fikiran dan kehendaknya yang bebas. Dan sebagai makhluk sosial ia membutuhkan manusia lain, membutuhkan sebuah kelompok – dalam bentuknya yang minimal – yang mengakui keberadaannya, dan dalam bentuknya yang maksimal – kelompok di mana dia dapat bergantung kepadanya[1].

Manusia membutuhkan kebersamaan dalam kehidupannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia beraneka ragam dan berbeda-beda tingkat sosialnya. Ada yang kuat, ada yang lemah, ada yang kaya, ada yang miskin, dan seterusnya. Demikian pula Allah Subhanahu wa Ta’ala ciptakan manusia dengan keahlian dan  Kepandaian yang berbeda-bedapula[2]

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Manusia membutuhkan kebersamaan dalam kehidupannya. Semua itu adalah dalam rangka saling memberi dan saling mengambil manfaat. Orang kaya tidak dapat hidup tanpa orang miskin yang menjadi pembantunya, pegawainya, sopirnya, dan seterusnya. Demikian pula orang miskin tidak dapat hidup tanpa orang kaya yang mempekerjakan dan mengupahnya. Demikianlah seterusnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala  berfirman:

أَهُمْ يَقْسِمُوْنَ رَحْمَةَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيْشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَةُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُوْنَ
“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Rabbmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Az-Zukhruf: 32)

Kebutuhan untuk berkelompok ini merupakan naluri yang alamiah, sehingga kemudian muncullah ikatan-ikatan – bahkan pada manusia purba sekalipun. Kita mengenal adanya ikatan keluarga, ikatan kesukuan, dan pada manusia modern adanya ikatan profesi, ikatan negara, ikatan bangsa, hingga ikatan peradaban dan ikatan agama. Dalam kaitannya dengan hal ini, Allah berfirman:

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (Al Hujurat:10)

Juga di dalam sebuah hadits dari Ibnu Umar ra yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw bersabda:

Artinya: “Orang muslim itu saudara bagi orang muslim lainnya. Dia tidak menzaliminya dan tidak pula membiarkannya dizalimi.[3]

Dari dalil naqli di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa sesama muslim dan juga sesama mu’min adalah bersaudara, di mana tentunya kesadaran terhadap hal ini akan memberikan konsekuensi berikutnya.

Penyebutan secara eksplisit adanya persaudaraan antar sesama muslim (dan mu’min) di dalam Al Qur’an dan Hadits menunjukkan bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang perlu diperhatikan oleh kaum muslimin.

Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa sebuah komunitas (bisa berbentuk negara) hanya akan eksis dengan adanya kesatuan dan dukungan elemen-elemennya. Sedang kesatuan dan dukungan ini tidak akan lahir tanpa adanya rasa saling bersaudara dan mencintai. Namun persaudaraan inipun perlu didahului oleh suatu faktor pemersatu, berupa ideologi atau aqidah[4].

Dalam rangka menjalin hubungan sosial dalam maknanya yang umum – ada beberapa tahapan konseptual yang perlu diperhatikan. Secara garis besar tahapan tersebut dapat dibagi menjadi:

  1. Ta’aruf

Ta’aruf dapat diartikan sebagai saling mengenal. Dalam rangka mewujudkannya, kita perlu mengenal orang lain, baik fisiknya, pemikiran, emosi dan kejiwaannya. Dengan mengenali karakter-karakter tersebut,

Dalam Surat Al Hujurat, Allah berfirman:

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al Hujurat:13)

Ta’aruf ini perlu kita lakukan dari lingkungan yang terdekat dengan kita. Dengan keluarga, dengan lingkungan sekolah atau tempat bekerja, hingga berta’aruf dalam komunitas yang lebih luas,

Di era sekarang ini hal ini sudah hampir tidak diperhatikan apalagi masalah ta’aruf, diwilayah perkotaan, oran-orang sibuk memikirkan kepentingannya peribadi dan tidak memperdulikan lingkungan sekitarnya seperti yang bisa lihat di daerah perumahan (real estate) semua hidup dengan serba individulaistik.[5]  

  1. Tafahum

Pada tahap tafahum (saling memahami), kita tidak sekedar mengenal saudara kita, tapi terlebih kita berusaha untuk memahaminya. Sebagai contoh jika kita telah mengetahui tabiat seorang rekan yang biasa berbicara dengan nada keras, tentu kita akan memahaminya dan tidak menjadikan kita lekas tersinggung. Juga apabila kita mengetahui tabiat rekan lain yang sensitif, tentu kita akan memahaminya dengan kehati-hatian kita dalam bergaul dengannya.

Perlu diperhatikan bahwa tafahum ini merupakan aktivitas dua arah. Jadi jangan sampai kita terus memposisikan diri ingin difahami orang tanpa berusaha untuk juga memahami orang lain.

  1. Ta’awun

Ta’awun atau tolong-menolong merupakan aktivitas yang sebenarnya secara naluriah sering (ingin) kita lakukan. Manusia normal umumnya telah dianugerahi oleh perasaan ‘iba’ dan keinginan untuk menolong sesamanya yang menderita kesulitan – sesuai dengan kemampuannya. Hanya saja derajat keinginan ini berbeda-beda untuk tiap individu.

Dalam surat Al Maidah, Allah berfirman:

Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Al Maaidah:2)

Dalam hadits:

Artinya: “Dan Allah akan selalu siap menolong seorang hamba selama hamba itu selalu siap menolong saudaranya[6].”

Juga dalam hadits Ibnu Umar di atas (“al muslimu akhul muslimi …”), seterusnya disebutkan bahwa siapa yang memperhatikan kepentingan saudaranya itu maka Allah memperhatikan kepentingannya, dan siapa yang melapangkan satu kesulitan terhadap sesama muslim maka Allah akan melapangkan satu dari beberapa kesulitannya nanti pada hari qiyamat, dan barangsiapa yang meneyembunyikan rahasia seorang muslim maka Allah menyembunyikan rahasianya nanti pada hari qiyamat.

Dalil naqli di atas memberi encouragement bahkan perintah kepada orang beriman untuk tolong-menolong, yang dibatasi hanya dalam masalah kebajikan dan taqwa. Bentuk tolong-menolong ini bisa dilakukan dengan saling mendo’akan, saling menasihati, juga saling membantu dalam bentuk amal perbuatan.

Dalam hal ini kita perlu memperhatikan hadits shahih dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw bersabda:

Artinya: “Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim atau yang dizalimi.” Aku bertanya, “Ya Rasulullah, menolong orang yang dizalimi dapatlah aku mengerti. Namun, bagaimana dengan menolong orang yang berbuat zalim?” Rasulullah menjawab, “Kamu cegah dia agar tidak berbuat aniaya, maka itulah pertolonganmu untuknya.”

Jadi kita seharusnya berterima kasih jika ada yang menegur kita, bahkan mencegah kita dengan kekuatan manakala kita sedang berbuat kesalahan.

  1. Takaful

Takaful ini akan melahirkan perasaan senasib dan sepenanggungan. Di mana rasa susah dan sedih saudara kita dapat kita rasakan, sehingga dengan serta merta kita memberikan pertolongan. Dalam sebuah hadits Rasulullah memberikan perumpamaan yang menarik tentang hal ini, yaitu dengan mengibaratkan orang beriman – yang bersaudara – sebagai satu tubuh.

Dalam hadits:

Artinya: “Perumpamaan orang-orang beriman di dalam kecintaan, kasih sayang, dan hubungan kekerabatan mereka adalah bagaikan tubuh. Bila salah satu anggotanya mengaduh sakit maka sekujur tubuhnya akan merasakan demam dan tidak bisa tidur[7].”

Unsur pokok di dalam bersosial adalah mahabbah (kecintaan), yang terbagi dalam beberapa tingkatan[8]:

  • Tingkatan terendah adalah salamus shadr (bersihnya jiwa) dari perasaan hasud, membenci, dengki dan sebab-sebab permusuhan/pertengkaran. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, Rasulullah saw bersabda bahwa tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya selama tiga hari, yang apabila saling bertemu maka ia berpaling, dan yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai dengan ucapan salam. Juga dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Rasulullah saw bersabda bahwa ada tiga orang yang shalatnya tidak diangkat di atas kepala sejengkal pun, yaitu seorang yang mengimami suatu kaum sedangkan kaum itu membencinya, wanita yang diam semalam suntuk sedang suaminya marah kepadanya, dan dua saudara yang memutus hubungan di antara keduanya.
  • Tingkatan berikutnya adalah cinta. Di mana seorang muslim diharapkan mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri, seperti dalam hadits: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” (HR muttafaq alaihi)
  • Tingkatan yang tertinggi adalah itsar, yaitu mendahulukan kepentingan saudaranya atas dirinya dalam segala sesuatu yang ia cintai, sesuatu yang untuk zaman sekarang sering baru mencapai tahap wacana. Patut kita renungkan kisah sahabat nabi dalam sebuah peperangan, di mana dalam keadaan sekarat dan kehausan dia masih mendahulukan saudaranya yang lain untuk menerima air[9].

Aktivitas-aktivitas sosial yang  memang merupakan seruan Islam harus dilaksanakan supaya kohevitas social terjaga  diantaranya dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut;

1. Silaturahim

Islam menganjurkan silaturahim antar anggota keluarga baik yang dekat maupun yang jauh, apakah mahram ataupun bukan. Apalagi terhadap kedua orang tua. Islam bahkan mengkatagorikan tindak “pemutusan hubungan silaturahim” adalah dalam dosa-dosa besar.

“Tidak masuk surga orang yang memutuskan hubungan silaturahim” (HR. Bukhari, Muslim)

2. Memuliakan tamu

Tamu dalam Islam mempunyai kedudukan yang amat terhormat. Dan menghormati tamu termasuk dalam indikasi orang beriman.

“…Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya” (HR. Bukhari, Muslim)

3. Menghormati tetangga

Hal ini juga merupakan indikator apakah seseorang itu beriman atau belum.

“…Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tetangganya” (HR. Bukhari, Muslim)

Apa saja yang bisa dilakukan untuk memuliakan tetangga, diantaranya:

– Menjaga hak-hak tetangga
– Tidak mengganggu tetangga
– Berbuat baik dan menghormatinya
– Mendengarkan mereka
– Menda’wahi mereka dan mendo’akannya, dst.

4. Saling menziarahi.

Rasulullah SAW, sering menziarahi para sahabatnya. Beliau pernah menziarahi Qois bin Saad bin Ubaidah di rumahnya dan mendoakan: “Ya Allah, limpahkanlah shalawat-Mu serta rahmat-Mu buat keluarga Saad bin Ubadah”. Beliau juga berziarah kepada Abdullah bin Zaid bin Ashim, Jabir bin Abdullah juga sahabat-sahabat lainnya. Ini menunjukkan betapa ziarah memiliki nilai positif dalam mengharmoniskan hidup bermasyarakat[10].

“Abu Hurairah RA. Berkata: Bersabda Nabi SAW: Ada seorang berziyarah pada temannya di suatu dusun, maka Allah menyuruh seorang malaikat (dengan rupa manusia) menghadang di tengah jalannya, dan ketika bertemu, Malaikat bertanya; hendak kemana engkau? Jawabnya; Saya akan pergi berziyarah kepada seorang teman karena Allah, di dusun itu. Maka ditanya; Apakah kau merasa berhutang budi padanya atau membalas budi kebaikannya? Jawabnya; Tidak, hanya semata-mata kasih sayang kepadanya karena Allah. Berkata Malaikat; Saya utusan Allah kepadamu, bahwa Allah kasih kepadamu sebagaimana kau kasih kepada kawanmu itu karena Allah” (HR. Muslim).

6 Peduli dengan aktivitas sosial.

Orang yang peduli dengan aktivitas orang di sekitarnya, serta sabar menghadapi resiko yang mungkin akan dihadapinya, seperti cemoohan, cercaan, serta sikap apatis masyarakat, adalah lebih daripada orang yang pada asalnya sudah enggan untuk berhadapan dengan resiko yang mungkin menghadang, sehingga ia memilih untuk mengisolir diri dan tidak menampakkan wajahnya di muka khalayak.

“Seorang mukmin yang bergaul dengan orang lain dan sabar dengan gangguan mereka lebih baik dari mukmin yang tidak mau bergaul serta tidak sabar dengan gangguan mereka” (HR. Ibnu Majah, Tirmidzi, dan Ahmad).

7. Memberi bantuan sosial.

Orang-orang lemah mendapat perhatian yang cukup tinggi dalam ajaran Islam. Kita diperintahkan untuk mengentaskannya. Bahkan orang yang tidak terbetik hatinya untuk menolong golongan lemah, atau mendorong orang lain untuk melakukan amal yang mulia ini dikatakan sebagai orang yang mendustakan agama.

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin” (Al Maa’un: 1-3).

Dari uraian-uraian di atas jelaslah bahwa Islam menuntut ummatnya untuk menerapkan perilaku-perilaku kebaikan sosial. Untuk lebih luas lagi dapat dikatakan bahwa wujud nyata atau buah dari seorang mu’min yang rukuk, sujud, dan ibadah kepada Allah SWT adalah dengan melakukan aktivitas kebaikan. Seorang yang menyatakan diri beriman hendaknya senantiasa menyuguhkan, menyajikan kebaikan-kebaikan di tengah masyarakat. Jika setiap orang yang beriman rajin melakukan hal ini, maka tatanan sosial yang di cita-citakan oleh ilmuan-ilmuan sosial akan terujud[11].

Manusia harus manjalin tiga hubungan yang harmonis dengan tiga elimen didunia ini, diantaranya dengan tuhannya, manusia, dan alam. Alam akan terperlihara ketika manusia sadar bahwa dia membutuhkan alam untuk keberlangsungan hidupnya, terjadi ekploitasi terhadap alam dikarenakan manusia tidak beriman kepada tuhannya, padahal tuhan memberikan anugrah alam ini untuk di urus oleh manusia supaya seimbang dan tidak menimbulkan malapetaka bagi manusia sendiri, seperti dalah hadits nabi saw;

حد ثنا ابو بكر بن ابى شيبة ومسدد المعنى قالا حد ثنا سفيان عن عمرو عن ابى قا بوس مولى لعبد الله بن عمرو عن عبد الله بن عمرو يبلغ به النبي صلى الله عليه وسلم الراحمون يرحموهم الرحمن ارحموا اءهل الرض يرحمكم من فى السماء[12]   

Artinya :

Mengajarkan kepada kita abu bakar Ibn Abi syaibah dan musaddad al-ma’na berkata Abu Bakar telah mengajarkan Sufyan dari Umar bin Qabus Maula Lingabdillah dari Abdullah bin Umar sampai Abu Bakar kepada Nabi SAW; Yang merohmat kamu sekalian akan merahmat kamu yaitu allah swt, harus saling menyayangi terhadap ahli bumi maka akan merahmat kepada kamu dzat yang ada dilangit

Dalam kata “ ارحموا” menyatakan bahwa kita harus menyayangi terhadap segala apa yang ada dimuka bumi ini, baik terhadap manuisa, hewan, tumbuhan , dan lain-lain yang dikatergarikan sebagai makhluk yang ada dimuka bumi ini.

Manusia mengekplotasi alam sekitarnya maka dia sesungguhnya telah berbuat dholim pada dirinya dan tidak menyayangi terhadap alam, contoh, banjir yang melanda banyak daerah di Indonesia, karena manusia telah mengekplotasi alam dengan menebang pohon yang tidak memperhatikan keseimbangan alam dalam artian manusia tidak memakai etika tetang tata cara pemakaian sumberdaya alam.

Untuk menciptakan tatanan social yang tentram dan yaman bagi semuanya manusia dituntuk untuk menjaga lisan, tangan, darah dan hartanya seperti hadis rasullah

حد ثنا قتيبة حد ثنا الليث عن ابن عجلان القعقاع بن حكيم عن ابي صالح عن ابى هريرة قال قال رسول الله عليه وسلم المسلمو من سلم المسلمون من لسنانه ويده والمؤمن من امنه الناس على دمائهم واموالهم

Artinya : telah menagajarkan Kutaibah telah mengajarkan al-Laitsu dari ibnu A’jlan dari Qa’qa’i bin Hakim dari Abi Sholih dari Abi Khurairah berkata Abu Khurairah berkata nabi saw; yang disebut orang muslim adalah orang yagn bisa menjaga lisan dan tangannya dan yang disebut orang mu’min adalah orang yang menjaga darah-darah manusia dan harta-hartanya

 

حدثنا عبدالرحمن حدثنا شعبة عن سعيد بن ابي بردة عن ابيه عن جده انرسول الله صلى الله عليه وسلم قال على كل مسلم صدقة قال افرايت ان لم يجد قال يعمل بيده فينفع نفسه وتصدق قال افرايت ان لم يستطع ان يفعل قال يعن ذا الحاجة الملهوف قال افرايت ان لم يفعل قال ياء مر بلاخير او بالعدل افرايت ان لم يستطع ان يفعل قال يمسك عن الشر فانه له صد قة

Artinya : mengajrakan Abdurrahman mengajarkan Syu’bah dari Sya’id bin abi Burdah dari ayahnya dari kakekeknya  bahwasannya Rasulallah saw  berkata; setiap orang muslim itu sodaqah, berbicara rasul apakah kamu tidak tahu kalau tidak menjumpai, maka berkata rasul beramal dengan tangan mencari manfaat  terhadap dirinya sadaqah , apa kamu  tidak mengetahui jikau tidak mapu untuk mengerjakannya maka rasul berkata tentukan kebutuhan yang dianiyaya, berkata rasul apa kamu tidak mengetahui  kalau tidak mengerjakan itu berkata rasul, memerintah terhadap kebaikan atau terhadap keadilan, jikalau tidak mampu untuk mengerjakannya maka berhentilah kamu dari berbuat kejelekan maka itu sudah merupakan sadaqah buat kamu.

DAFTAR PUSTAKA

 

Asy-Syari’ah , Al-Ajurri Rahimahullahu, . Darus Salam, Riyadh

Dikutif dari silabus mata kuliah hadis social, “Manusia Sebagai Makhluk Social

Hasan, Muhamad Thalhah. 2005. Islam Dalam Perspektif Sosio Cultural. Lantabora Press. Jakarta

Hamka. 1984.Tasawauf Perkambangan Dan Pemurniannya, Pustaka Panjimas. Jakarta.

Imam Ghozali.1984, Cinta Dan Bahagia (terj) Abdullah Bin Nuh. Judul asli “Al Mahabbah Dan Minhadj Al Abidin”, Tinta Mas. Jakarta

Machasin. 1995, Menyelami  Kebebasan Manusia; Telaah Kritis Terhadap Konsepsi Al-Qur’an, Pustaka Pelajar. Yoyakarta

Sanderson, K., Stephen, Sosiologi Makro Sebuah Pendekatan Terhadap Realitas Sosial, Rajawali Press, Jakarta.

Scharf, R., Betty, 1995, Kajian Sosiologi Agama, Pusataka Gramendia, Jakarta.

Sabiq, Sayid. 1994  Islam Dipandang Dari Segi Moral-Rohani Social .Rineka Cipta. Jakarta  Terj. Drs .Zainuddin. dkk

Takhesita ,Mastaka. . 2005. Insane Kamilpandangan Ibnu ‘Arabi. Risalah Gusti. Surabaya

 

 

 

 

 

 

 



[1] Sanderson, K., Stephen, Sosiologi Makro Sebuah Pendekatan Terhadap Realitas Sosial, Rajawali Press, Jakarta. Hlm 78

[2] Scharf, R., Betty, 1995, Kajian Sosiologi Agama, Pusataka Gramendia, Jakarta. Hlm 90

 

[3] Shahih, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Sunan-nya 4/465, cet. Musthafa Al-Babi, Mesir, cet. II. At-Tirmidzi berkata: “Ini adalah hadits hasan shahih.”; juga Al-Imam Ahmad rahimahullahu dalam Al-Musnad 1/18 cet. Al-Maktabul Islami Beirut. Dishahihkan oleh Ahmad Syakir rahimahullahu dalam Syarhul Musnad 1/112 cet. Darul Ma’arif, Mesir. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi ‘Ashim rahimahullahu dalam As-Sunnah dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Zhilalul Jannah cet. Al-Maktab Al-Islami Beirut cet. III, hal 42-43 dari jalan Muhammad bin Suqah, dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu ‘Umar.

[4] Hasan, Muhamad Thalhah .Islam Dalam Perspektif Sosio Cultural. Cet ke 1oktober 2005 (Lantabora Press. Jakarta ). Hlm 56

[5] Takhesita ,Mastaka. Insane Kamilpandangan Ibnu ‘Arabi. (Risalah Gusti. Surabaya. 2005). Hlm. 112

[6] HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya 13/121, cet. Maktabatur Riyadh Al-Haditsah, Riyadh; Muslim dalam Shahih-nya 3/1469, cet. Dar Ihya`it Turats Al-‘Arabi, Beirut, cet. I

[7] Asy-Syari’ah karya Al-Ajurri rahimahullahu, hal. 23-24, cet. Darus Salam, Riyadh cet. I

[8] Hamka. Tasawauf Perkambangan Dan Pemurniannya, (Pustaka Panjimas. Jakarta. 1984). Hlm. 45

[9] Imam Ghozali, Cinta Dan Bahagia (terj) Abdullah Bin Nuh. Judul asli “Al Mahabbah Dan Minhadj Al Abidin”, Tinta Mas. Jakarta. 19984. hlm. 110

[10] Sabiq, Sayid. Islam Dipandang Dari Segi Moral-Rohani Social. Cet. 1 Januari 1994 (Rineka cipta. Jakarta ) terj. Drs . Zainuddin. Dkk. Hlm. 20

[11] Machasin, Menyelami Kebebasan Manusia; Telaah Kritis Terhadap Konsepsi Al-Qur’an, cet 1 september 1995 (Pustaka Pelajar. Yoyakarta). Hlm 98

[12]  Dikutif dari silabus mata kuliah hadis social, “Manusia Sebagai Makhluk Social

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s