Metode Penelitian

METODE PENELITIAN

 Oleh: Apip Sohibul Faroji

1. Pengertian Metode Penelitian

Sebelum mendefinisikan metode penelitian ilmiah, kita perlu menguraikan satu persatu istilah tersebut; Methode berasal dari bahasa Yunani ‘methodos yang artinya jalan sampai,  meta + hodos yaitu jalan[1]. Dilihat dari kamus Oxford, Metode adalah way of doing something[2]. Sedangkan Menurut Senn yang penulis kutip dari bukunya Jujun.  Methode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu, mempunyai langkah-langkah yang sitematis[3] Dalam literatur lain penulis menumukan definisi metode merupakan cara utama yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan[4].  

Setelah mendefinisikan metode, sekarang apa yang dimaksud dengan metodology. Metodology adalah ajaran-ajaran tentang methode-methode[5]. Methodology is set of methods and principles used to perform a particular activity[6]. Metodologi merupakam suatu rangkaian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut[7].

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan perbedaaan metode dan metodology, metode adalah sebuah jalan untuk melakukan sesuatu, sedangkan metodology adalah ilmu yang mengkaji tentang metode tersebut.  

Setelah menguraikan metode dan metodologi sekarang apa yang dimaksud dengan Penelitian; menurut  Sutrisno Hadi penelitan dapat diartikan sebagai usaha untuk menemukan, mengembangkan dan  menguji kebenaran suatu pengetahuan, usahamana yang dilakukan dengan menggunakan metode-metode ilmiah[8]  sedangakan menurut Laxmi Devi Resarch  is matter of raising a question and then trying to find an answer. In pther words, reseach means assort of investigation describing  the fact that same problem is being investigated to shed for generalization. Therefore, research is ther activity of solving problem which adds new knowledge and develoving of theory as well as gathering of evidence to test generation. (Penelitian adalah sesuatu memunculkan sebuah permasalahan dan mencoba untuk menemukan sebuah jawaban , dengan kata lain, Penelitian berarti penyusunan penyelidikan yang digambarkan oleh fakta permasalhan yang sama yang di investigasi untuk mengeneralisai, oleh karena itu , penelitian adalah activitas pengumpulan data-data untuk menguji generalisasi [9]). Dalam kamus wbster yang penulis kutif dari bukunya Laxmi Devi sebagai berikut; The webster’s international dictionary defines reseach as “ a careful critical enquiry or excamination in seeking facts for principles, diligent investigation in order to ascertain samething.” [10](sebuah pengungkapan phenomena secarakritis yang penuh dengan kehati-hatian atau pengujian dalam mencari fakta-fakta untuk prinsip-prinsip, pencarian yang serius untuk mengetahui sesuatu[11])

 

2. Metode Penelitian dan Metodologi Penelitian

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan, metodologi penelitian adalah membahas konsep teoritis berbagai metode , kelebihan, dan kelelmahan, yang dalam karya ilmiah dilanjutkan dengan pemilihan metode yang digunakan. Sedangkan metode penelitian mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam penelitian.

Metodologi penelitian didalamnya dapat kita jabarkan seperti pembahasanmengenai tentang populasi, dan teknik sampling, merumuskan masalah, mendesain korelasi, menerangkan instrument kuantifikasidatya dan seterusnya.[12]

Dari pengertian metode dan penelitian diatas kita dapat menyimpulkan bahwa metode penelitian adalah merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu, dengan langkah-langkah yang sitematis untuk menemukan, mengembangkan dan  menguji kebenaran suatu pengetahuan (masalah)

.

3. Jenis-Jenis Penelitian

Ditinjau dari tujuan essensialnya penelitian dapat dibagi kedalam dua bagian diamntaranya:

3.1 Pure research

Pure research/basic reseach atau penelitian murni, suatu research yang mempunyai alasan intelektual bertujuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, yaitu suatu alasan yang berdasarkan atas keinginan untuk mengetahui sesuatu semata-mata, yang tidak mempunyai keguaan praksis misalnya riset mengenai ruang angkasa, penyelidikan tentang bulan, untuk merumuskan metematik, teori baru dan lain-lain.

3.2 Applied reseach

Applied reseach/ penelitian terapan, adalah suatu reseach yang mempunyai alasan praksis yaitu suatu alasan yang bedaarkan atas keinginan untuk mengetahui tentang tujuan agar bisa mengetahui lebih baik , efektif, dan efisien, seperti contoh penelitian biaya hidup hasilnya bisa langsung dipakai sebagai dasar untuk penentuan upah/gaji, penelitian tentang efisisensi kerja dalam rangka menaika produktifitas, and lain sebagainya.[13]

 

4. Penelitian Ditinjau Dari Bidangnya

Penelitian ditinjau dari bidangnya,penelitian dapat dikelompokan kedalam dua bagian:

4.1 Penelitian bidang sosial

Penelitian bidang sosial yang secara lebih khusus berbentuk penelitian pendidikan, sejarah, penelitian hokum, penelitian ekonomi, penelitian psikologi, dan penelitia-penelitian yang lain yang berhubungan dengan masalah social manusia.

4.2 Penelitian bidang eksakta

Penelitian bidang eksakta yang secara lebih khusus berbentuk penelitian ilmu pengetahuan alam, penelitan kimia, penelitian biologi, penelitan pertanian dan lain-lain.

 

5. Penelitian Ditinjau Dari Tradisinya

5.1 Penelitian Kuantitatif

Penelitian kualitatif, perhatian lebih banyak ditujukan pada pembentukan teori substantive berdasarkan dari konsep-konsep yang timbul dari data empiris. Dalam penelitian kualitatif, penelitian merasa ” mengetahui apa-apa yang tidak diketahui” sehingga desain penelitian yang dikembangkan selalu merupakan kemungkinan yang terbuka akan berbagai perubahan yang diperlukan dan lentur terhaedap kondisi yang ada dilapangan pengamatannya.

5.2 Penelitian kualitatif

Pendekatan penelitian kuantitatif lebih banyak menggunakan lagika hiphotertika verivikatif, pendekatan tersebut dimulai dengan verfikir deduktif untuk menurunkan hipotesis, kemudian melakukan pengujian dilapangan. Kesimpulan atau hopotesisi tersebut ditarik berdasarkan data empiris. Dengan demikian penelitian kuantuitatif merasa”mengetahui apa yang tidak diketahui” sehingga desain yang dikembangkannya selalu merupakan rencana kegiatan yang bersifat apriori dan definitive.

Menurut moleong[14] penelitian kaulitatif adalah metode penelitian yang mengahasilkan data deskriptif berupa data-data tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamamti, sementara Kirk dan Miller mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan social secara fundamental bergantung pada pengamatan terhadap manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristiwanya.

Perbedaan penelitian kulitatif dengan penelitian kuantitatif. Pemakalah mengambil dari tujuan penelitiannya dari sekian banyak item perbedaaanya, diantaranya[15]:

Kalitatif :

  1. Mengembangkan serangkaian konsep-konsep yang sensitive.
  2. Mengambarkan kenyataan ganda
  3. Terori lapangan
  4. Mengembangkan pemahaman.

Penelitian kauntitatif:

  1. Mengukuhklan fakta-fakta
  2. Deskripsi secara statistic menunjukan hubungan diantara variable
  3. Peramalan
  4. menguji teori

Penelitian ilmu social dan ilmu eksakta sering pula dihubungkan dengan penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Semula penelitian kualitatif lebih banyak dipergunakan dilingkungan ilmu social dan sebalinya penelitian kuantiutatif telah memasuki penelitian bidang eksakta. Dewasa ini penelitian kuantitatif telah memasuki juga kedalam ilmu social karena dipandang telah mengemukakan bukti-bukti ilmiah secara objektif.

 

6. Penelitian Ditinjau Dati Tempat Dilakkukannya

6.1. Penelitian Labolatorium.

Penelitian bila ditinjau dari sudut tempat penelitaian dilakukan, terutama dalam pengumpulan data, maka penelitian dapat dibedakan antaralain:

Penelitian labolatorium, karena kegiatan penelitian dilakukan dilabolatorium.

6.2 Penelitian Kepustakaan

Penelitian kepustakaan, kegiatan penelitian dilakukan dengan menghimpun data dari berbagai litelatur, baik diperpustakaan maupun ditempat-tempat lain. Litelatur yang dipergunakan tidak terbatas hanya buku-buku, tetapi dapat juiga berupa bahan dokumentasi, majalah-majalah, Koran-koran, dari lliteratur terdsebut dapat ditemukan berbagai teori, hokum, dalil, prinsip-prinsip, pendapat, gagasan-gagasan, yang dapat dipergunakan untuk menganalisa dan memecahkan masalah yang diselidiki. Berdasakan sumberdata tersebut penelitian ini kerapkali disebut juga penelitian dukomentasi atau survey buku.

6.3 Penelitian Lapangan

Penelitian lapangan. Kegiatan penelitian ini dilakukan dilingkungan masyarakat tertentu, baik di lembaga-lembaga dan organisasi kemasyarakatan (sosial) maupun lembaga-lembaga pemerintahan. Penellitian dilingkungan lembaga social antara lain berupa keluarga, masyarakat/penduduk, sautu desa, suatu perusahaan,. Disamping itu juga penelitian ini dapat juga dilakuakan terhadap 0bjek-objek alam seperti penelitian tanah, seuatu jenis tanaman atau hewan, sungai , danua dan lain-lain[16].

 

7. Penelitian Dari Segi Pembahasannya:

7.1 Penelitian deskriptif

Penelitian deskriptif. Penelitian ini tergbatas hanya mengungkapkan suatu masalah atau keadaan atau peristiwa sebagaimana adanya sehingga bersifat sekedar untuk mngungkapkan fakta (fact finding). Hasil penelitian ditekankan pada membirikan gambaran secara objektif tentang keadaan sebenarnya dari objek yang diselidiki. Akan teapi guna mendapat menfaat yang lebih luas dalam penelitian ini kerap kali disamping pengungkapan fakta sebagai mana adanya dilakukan jugta pemberian interpretasi-interpretasi yang adekuat. Dalam langkah berikutnya istilah dan sifat deskriftif  ini dipergunakan juga untuk mnyatakan salah satu metode dalam penelitian. Untuk itu masih akan dilakukan pembahasan dalam salah satu bab berikutnya yang berkenaan dengan metode-metode yang dapat digunakan dalam penelitian ilmiah.

7.2. Penelitian Inferensial

Penelitian Inferensial. Penelitian ini bermaksud untuk mengungkapkan suatu masalah, keadaan atau peristiwa/kejadian dengan memberikan penilaian secara menyeluruh, meluas dan mendalam dari sudut pandang ilmu yang relevan. Fakta-fakta atau gejala-gejala yang ditemukan tidak sekedar di paparkan apa adanya, akan tetapi dihubung-hubungkan atau dipertentangkan dalam arti dianalisa untuk sampai pada suatu pendapat, gagasan, teori, hokum atau prinsip tertenut di dalam bidang yang diselidiki.[17]

 

8. Metode Penelitian Ilmiah

Tujuan umum penelitian adalah untuk memcahkan masalah, maka langkah-langkah yang akan ditempuh harus relevan dengan masalah yang telah dirumuskan . sejalan dengan itu perlu ditentukan perumusan masalah yang jelas dalam arti tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit. Disamping itu untuk mempermudah dalam meilih metode yang akan dipergunakan. Didalam penelitian terdapat meotde-metode yang dapat digunakan diantaraya[18] :

8.1 Metode Filosofis

Metode filosofis adalah prosedur pemecahan masalah yang diselidiki secara rasional melalui renungan atau pemikiran yang terarah, mendalam dan mendasar tentang hakikat suatu yang ada dan yang mungkin ada, baik dengan mempergunakan pola berfikir aliran filsafat tertentu maupun dalam bentuk analisa sistematik berdasarkan pola berfikir indukitf, dedukitif , fenomenologis  dan lain-lain dan dengan memperhatikan hukum-hukum berfikir (logika)

Metode ini bekerja dengan mempergunakan data kualitatif, sehingga dalam pemecahan masalahnya atau pembuktian hipotesanya pada umunya bersifat apriori. Penggunaan data atau fakta-fakta pengalaman cenderung dilakukan untuk memberikan dasar berfikir dan bukan untuk pembuktian hipotesanya. Oleh karena itulah maka metode ini kerapkali tidak dimasukan dalam jangkuan penelitian yang bersifat empiris di dalam ilmu atau pengetahuan yang dikelompokan sebagai science (pemngetahuan ilmiah). Namun  tidak berarti bahwa yang menggunakan metode filasafat merupakan pemecahan masalah yang tidak ilmiah, karena tidak sedikit masalah yang hanya dapat dilakukan dengan metode ini dan sama sekali tidak dapat dilakukan dengan menggunakan metode empiris.

Metode ini cara kerjanya selalu berhadapan dengan data kualitatif. Data itu dikemukakan dalam bentuk uraian-uraian atau berupa symbol-simbol verbal yang penafsirannya sangat tergantung pada pemakaian dalam kalimat. Kecermatan dalam pengguanaan symbol verbal ini sangat penting artinya dalam metode ini, karena sering terjadi suatu istilah dipergunakan untuk menjelaskan hal yang berbeda. Sebaliknya tidak mustahil pula istilah yang berbeda diperguanakan untuk menjelaskan hal yang sama[19].

Dalam keyataan sehari-hari data kualitatif ini tidak saja dimonopoli oleh penelitian dalam bidang filsafat, akan tetapi banyak pula dipergunakan dalam ilmu social yang mengahadapi masalah-masalah yang tidak dapat dipecahkan secara kuantitatif. Namun untuk mencapai objektivitas, validiatas dan relibilitas yang tinggi, dewasa ini pada umumnya ilmu sosialpun berusaha bekerja dengan data kuantitatif. Untuk itu metode-metode dibawah ini telah banyak menolong usaha tersebut.  

8.2 Metode Deskriptif[20] 

8etode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diserlidiki dengan menggambarkan /melukiskan keadaan subjek/objek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat, dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagai mana adanya

Usaha untuk mendeskripsikan fakta-fakta itu pada tahap permulaan tertuju pada usaha mengemukaakn  gejala–gejala secara lengkap terhadap aspek yang diselidiki, agar jelas keadaan atau kondisinya. Oleh karena itu pada tahap itu pada tahap ini metode deskriptip tidak lebih dari penelitian yang bersifat penemuan fakta-fakta seadanya (fact finding). Penemuan gejala-gejala itu berarti juga tidak sekedar menunjukan distribusinya, akan tetapi termasuk usaha mengemukakan hubungannya satu dengan yang lain di dalam aspek yang diselidiki itu[21].

Pada tahap berikutnya metode ini harus diberi bobot yang lebih tinggi, kaena sulit untuk dibantah bahwa hasil penelitian yang sekedar mendeskrifsikan fakta-fakta tidak banyak artinya. Untuk itu pemikiran dalam metode ini perlu dikembangkan dengan memberikan penafsiran yang adekuat terhadap fakta-fakta yagn ditemukan. Dengan kata lain metode ini tidak terbatas sampai pada pengumpulan dan penyusunan data, tetapi meliputi juga analisa dan interpretasi tentang data itu. Oleh karena itu penelitian ini dapat diwujudkan juga sebagai usaha memecahkan masalah dengan membandingkan persamaan dan perbedaan gejala yang ditemukan, menilai gejala, mengukur dimensi suatu gejala, mengadakan klasifikasi suatu gejala, menetafkanstandar, menetapkan hubungan antar gejala-gejala yang ditemukan dal lain-lain. Secara singkat dapat dikatakan bahwa metode deskriftif merupakan langkah-langkah melakukan representasi objek tentang gejala-gejala yang terdapat didalam masalah yang diselidiki.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri pokok metode deskriftif  adalah:

1.      Memustkan perhatian pada masalah-masalah yang ada pada penelitian  dilakuakan (saat sekarang) atau masalah-masalah yang bersifat actual.

2.      Mengambarkan fakta-fakta tentang masalah yang diselidiki sebagai mana adanya, diiringi dengan interpretasi rasional yang adequate. 

Selanjutnya agar penggunaan metode ini dalam memcahkan masalah yang dihadapi dapat mencapai hasil guna yang tinggi, akan diketengahkan beberapa bentuknya, bentuk-bentuk pokok dari metode ini digolongkan menjadi tiga bentuk sebagai berikut:

a)      Survei (survey studies)

b)      Studi hubungan (interrelationship studies)

c)      Studi perkemabangan (developmental studies)

Bentuk-bentuk penelitian deskriptif atas dasar tiga bentuik pokok tersebut diatas tidaklah bersifat kaku. Bentuk-bentuk yang akan dikemukakan dalam uraian berikut mengkin oleh seseorang penulis dimasukan dalam bentuk survey, sedang oleh penulis lain dimasukan kedalam studi hubungan atau juga didalam studi perkembangan  dan sebaliknya. Disamping itu dalam penggunaanya tidak mustahil dua atau lebih bentuk penelitian deskriftif digunakan bersama-sama. Penguraian setiap bentuk secara terpisah terutama dimaksudkan untuk mempermudah memahami secara teoritis.

8.2.1. Survey (Survei Studies)

Suvei pada dasarnya tidak berbeda dengan reseach (penelitian) pamakaian kedua istilah ini kerapkali hanya dimaksudkan untuk membirikan penekanan mengenai ruang lingkup, resesearch memusatkan diri pada salah satu atau beberapa aspek dari objeknya. Sedangkan survey besifat menyeluiruh yang kemudian akan dilanjutkan secara mengkhusus pada aspek tertentu bila mana diperlukan studi yang lebih mendalam.

Oleh karena itulah hasil dari suatu survey sering dipergunakan untuk menysusun suatu perencanaan yang sudah ada. Penggunaannya sebagai data perencanaan dimungkinkan karena melalui survey suatu objek penelitian diungkapkan secara menyeluruh[22]. Disamping itu suatu survey tidak sekedar bertujuaan memaparkan data tentang objeknya, akan tetapi juga bermaksud menginterpretasikan dan membandingkannya dengan ukuran standar tertentu yang sudah ditetapkan. Sebagai kegiatan penelitian survey pada umunya dilakukan pada sejumlah besar obyek, walaupun tidak berarti semua bentuk survey objeknya seperti itu karena mungkin saja ada survey yang objeknya sangat kecil misalnya dalam analisiss isi. Akan tetapi yang paling penting bahwa objek itu diungkapkan secara menyeluruh terlebih dahulu, sebelum sampai pada studi mengenai aspek atau variable tertentu yang bersifat khusus secara mendalam dan mendetail. Objeknya dapat terdiri dari : lingkungan suatu bangsa , daerah, sebuah kota, sebuah desa, suatu system dan lain-lalin.

Jenis-jenis studi yang dapat dikelompokan penelitian yang disebut survey adalah :

a)      Survey kelembagaan (institutional survey)

b)      Analisis jabatan/pekerjaan (job analisiss)

c)      Analisis dokumenter (dokumenteary analysis)

d)     Analisis isi (content analysis)

e)      Survey pandapat umum public (opinion survey)

f)       Survei kemasyarakana (community surver)[23]

Selanjutnya secara berurutan satu-persatu bentuk survey itu sebagai bagian dari metode deskriptif akan dibahas

8.2.1.1 Survei Kelembagaan (Institusional Survey)

Survey ini dilakukan dengan mengambil objek berupa lembaga tertentu yang terdapat dimasyarakat.. melalui survey ini diusahakan untuk menemukan data yang dapat dipergunakan sebagai dasar untuk meningkatkan kegiatan oprasional lembaga yang diselidiki. Misalnya dasar untuk menyusun dan memperbaiki rencana, dasar untuk mengatur mekanisme kegiatan dan lain-lain.

Untuk melaksanakan survey kelembagaan ini dapat ditempuh tiga cara sebagai berikut:

  1. Survey yang dilaksanakan sendiri, dalam bentuk ini suatu survey dilakukan oleh lembaga itu sendiri sepanjang dimiliki tenaga-tenaga ahli, baik dibidang kegiatan lembaga maupun dibidang penelitian .
  2. Survey yang dilakukan oleh tenaga ahli dari luar, yakni survey terhadap suatu lemabaga yang mempergunakan tenaga dari luar agar mampu mengungkap keadaan lembaga tersebut secara objektif, disamping kemugkinan tidak tersedia tenaga ahli dari lingkungan sendiri. Biasanya tenaga ahli yang diperbantukan itu diambil dari lingkungan universitas.
  3. Survey bersama (the cooperative survey), yakni survei terhadap suatu lembaga yang dilaksankan dalam bentuk kerjasama antara tenaga ahli dari lingkungan sendiri agar hasilnya dapat dikomparasikan. cara ini dapat pula dilakukan dengan penelitian sendiri tetapi menggunakan tenaga konsultan ahli dari luar. Dengan demikian pendapat ahli dilingkungan sendiri dapat diuji atau dibandingkan dengan pendapat konsultan ahli sebagai orang luar yang secara professional mungkin lebih objektif menilai dan menginterpretasikan fakta-fakta yang ditemukan.

Data yang terhimpun dalam survey kelembagaan ini dapat dikategorikan sebagai berikut:

  1. Kondisi fasilitas lembaga
  2. Karakteristik kemampuan personal dalam bidang yang diemban  lembaga
  3. Struktur lembaga dalam melaksanakan proses kegiatan yang diemban lembaga tersebut
  4. Proses mekanisme kerja yang diwujudkan dalam mencapai tujuan lembaga.

8.2.1.2 Analisiss Jabatan/Pekerjaan (Job Analisis)

Pada tarap permulaan studi ini banyak di lingkungan perindustrian dan perdagangan. kemudian masuk dan berkembang juga dilingkungan pemerintahan khusunya dalam bidang administrasi .

Analisa ini pada dasarnya bermaksud untuk menemukan gejala –gejala yang diperlakukan dalam melaksanakan pekerjaan secara berdaya guna dan hasil guna. Untuk itu informasi yang dikumpulkan meliputi tugas-tugas secara menyeluruh dalam jenis jabatan/pekerjaan, hubungan tugas-tugas dalam jabatan itu dengan tugas-tugas dalam jabatan dan dengan keseluruhan tugas lembaga, tugas-tugas khusus yang dituntut dalam jabatan itu, kedudukan petugasnya dalam unit kerjanya dan dalam kedeluruhan organisasi lembaga, persyaratan jam kerja, persyaratan keahlian dan keterampilan , persyratan kesehatan fisik dan fsikis petugasnya termasuk jenis kelamin  dan sifat-sifat pribadi yang diperlukan, keadaan, jenis, jumlah, dan bentuk peralatan yang ada dan yang seharusnya ada dan lain-lain.

Melalui penyelidikan tersebut selajutnya dapat disusun deskripsi pekerjaan yang dapat dipergunakan untuk menempatkan dan menseleksi calon pekerja/pejabat. Disamping itu dapat juga dipergunakan untuk merancangkan program pendidikan dan latihan termasuk juga penataran-penataran, pendidikan spesialisasi, latihan kerja dan lain-lain. Demikian juga tidak kalah pentingnya untuk menetapkan persayaratan upah/gaji dengan memperhatikan berat ringan pekerjaan dilingkungan suatu perusahaan.

Dari uraian diatas jelas bahwa penelitian analisiss pekarjaan /jabatan bertujuan untuk meletakan dasar objektif dalam;

  1. Menetapkan kelemahan, kekembaran dan tingkat efesiensi suatu jenis pekerjaan/jabatan pada saat sekarang
  2. Menetapkan klasifikasi persyaratan yang uniform untuk pekerjaan /jabatan yang sama
  3. Menyususn skala gaji /upah yang rasional sesuai dengan tuntutan pekerjaan/jabatan
  4. Mengidentifikasi pekerjaan pekerjaan sesuai dengan persyaratan kerja bagi suatu jabatan/pekerjaan yang bersifat khusus
  5. Menyusun dan menyeleksi pekerjaan sesuai dengan persyaratan setiap jenis pekerjaan /jabatan
  6. Menyusun program latihan jabatan sesuai dengan tuntutan persyaratan kerja
  7. Menyusun criteria penilaian dalam rangka memberikan promosi kenaikan pangkat, kenaikan upah dan lain-lain.
  8. Untuk meletakan dasar yang objektif bagi pemutasian petugas dalam rangka pendayagunaannya secara maksimal
  9. Mengembangkan kondisi kerja dan mekanismenya guna mencapai hasil kerja yang maksimal

8.2.1.3 Analisis Dokumen (Documentary Analisiss)

Analisa dokumen kerap kali disebut juga analisiss kegiatan (activity analisiss) atau analisiss informasi (information analysis) dan kadang juga dinamakan analisiss isi (content analysis ).. dari dukomen yang tersedia penelitian ini dilakukan untuk mengungkapkan informasi-informasi yang berguna dibidangya masing-masing. Banyak dokumen-dokumen resmi dan laporan-laporan yang oleh sebagian orang dipandang sebagai arsip yang tidak berguna. Bagi seorang peneliti dokumen itu sangat berharga untuk memahami aktivitas yang dilakukan oleh kelompok populasi tertentu, yang faktanya tersimpan didalam berbagai dokumen

Cara penelitian ini kerapkali dihubungkan juga dengan metode histories, walaupun sebenarnya kedunya terdapat perbedaan-perbedaan yang prinsipil. Di dalam analisis dokumen , data yang diungkapkan menyangkut bahan-bahan yang belum terlalu lama sehingga belum dikelopokkan sebagai peninggalan sejarah . Sedang dalam metode histories, bahan-bahan yang dijadikan sumber data pada umumnya terdiri dari peninggalan sejarah yang dari segi waktu sudah cukup lama .

8.2.1.4 Analisis Isi (Content Analysis)

analisis isi dalam penelitian dilakukan untuk mengungkapkan isi sebuah buku yang menggambarkan situasi penulis dan kemasyarakatannya pada waktu buku ditulis. dalam analisa ini seorang penulis dan masyarakatnya pada waktu buku itu ditulis. Dalam analisa ini seorang peneliti dapat menghitung frekuensi munculnya suatu konsep tertentu, penyusunan kalimat menurut pola kalimat yang sama, kelemahan-kelemahan pola berfikir yang sama, cara menyajikan bahan ilustrasi dan lain-lain.

Disamping itu dengan cara ini dapat dibandingkan antara satu buku dengan satu buku yang lain dalam bidang yang sama, baik dalam perbedaan waktu penulisannya maupun mengenai kemampuan buku-buku tersebut dalam mencapai sasarannya sebagai bahan yang disajikan kepada masyarakat atau kelompok masyarakat tertentu.

Informasi tentang isi sebuah atau beberapa buku yang dibandingkan, akan sangat berguna bagi pengembangan tulisan buku sejenis dimasa-masa mendatang sesuai dengan perkembangan masyarakat yang memerlukannya. Misalnya analisis  ini dilakukan terhadap sebuah kurikulum yang sedang dipergunakan dibandingkan dengan kurikulum lain, baik yang dipergunakan dimasa lau maupun yang dipergunakan dilembaga lain pada saat yang sama.

Prosedur analisa dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Menseleksi teks yang akan diselidiki dengan memperhatikan:
    • menghubungi pihak yang berwenang untuk menetapkan keyakinan bahwa analisa isi terhadap suatu buku teks akan berguna.
    • Mengadakan observasi untuk mengetahui keluasan buku tersebut
    • Menetapkan standar isi buku didalam bidang tersebut dari segi teoritis dan keguanaan praksisnya.
  2. Menyusun item-item yang spesifik tentang isi dan bahasa yang akan diselidiki sebagai alat pengumpulan data. Untuk itu diperlukan keahlian khusus dalam bidang yang dibahas oleh karena buku tersebut dan keahlian dalam bahasa yang dipergunakan buku yang akan dianalisa.
  3. Melaksanakan penalitian sebagai berikut :

a.    Menetapkan cara yang akan ditempuh, apakah dilakukan pada keseluruhan isi buku, bab per bab, pasal demi pasal, memisahkan ilustrasi dengan teks dan sebagainya.

b.    Melakukan pengukuran terhadap teks secara kualitatif dan kuantitif, misalnya tentang banyak paragraph di dalam suatu topic, jumlah idea dalam setiap paragraph atau topic, ketepatan menetapkan ilustrasi tertulis dan gambar serta kejelasannya dengan idea yang mendapat ilustrasi, panjang pendeknya kalimat untuk menjamin kejelasan penyampaian suatu idea lailn-lain

c.    Membandingkan hasil pengukuran berdasarkan standar yang telah ditetapkan melalui item-item spesifik yang telah disusun.

4.      Mengetangahkan kesimpulan sebagai hasil analisa kuantitatif dengan menggunakan perhitungan statistika yang relevan sebagai interpretasi isi buku, baik secara keseluruhan meupuan bagian demi bagian

8.2.1.5 Survey Pendapat Umum (Public Opinion Survey)

Pemimpin yang bergerak dalam bidang industri, pemerintahan, politik, pendidikan, perekonomian, dan lain-lain selalu berhadapan deengan keharusan menetapkan keputusan (decision making). Mereka berkewajiban menyusun formulasi kebijaksanaan yang akan mengenai sekelompok atau masyarakat. Untuk menetapkan kebijaksanaan yang tepat diperlukan pengetahuan yang cukup tentang pendapat umum (public opinion) berupa sikap dan beberapa kecendrungan lain yang berlaku dalam kelompok tertentu atau dalam masyarakat luas, terutama melalui kebijaksanaan yang akan ditetapkan. Untuk keperluan seperti itulah kerapkali diperlukan suatu penelitian yang objektif.

Penelitian tentang pendapat umum biasanya mempergunakan interview sebagai alat pengumpul data, dari sejumlah objek yang dipilih secara teliti agar mewakili kelompok atau masyarakat luas secara representative . penentuan yang cermat dan berhati-hati tentang;dimana, bilama dan dari siapa data akan diperoleh sangat penting dalam penelitian ini. Dari informasi subjek atau kelompok yang tidak tetap atau informasi yang diberikan tentang suatu peristiwa yang sudah kadaluarsa tidak akan banyak gunanya. Oleh karena itulah harus diakui bahwa kelemahan pokok penelitian ini adalah bila mana populasinya sangat besar dan terbesar diwilayah yang cukup luas.

Kelemahan lain yang berkenaan dengan tingkat validitas dan reebilitas jawaban/data yang terkumpul. Mengukur kedalaman dan reabilitas jawaban berupa pendapat-pendapat adalah pekerjaan yang sangat sukar.

Selain itu sulit juga untuk disangkal adanya kesulitan dari sipeneliti sendiri untuk bersikap objektif. Sering sipeneliti memiliki kecendrungan pada pendapat tertentu dari orang atau kelompok yang disenanginya atau sebaliknya peneliti hanya berdiri sebagai wasit untuk mencari jalan tengah dari pertentangan pendapat tanpa mengetahui pendapat mana yang sebenarnya berkembang luas dimasyarakat diantara dua atau lebih pedapat yang berbeda atau bertentangan.

Bila mana kesulitan-kesulitan diatas tidak mendapat perhatian maka sering terjadi kesimpulan yang dikemukakan tidak valid dan realibel. Akibatnya keputusan dan kebijaksanaan yang ditetapkan dengan bertolak dari kesimpulan itu, tidak bersifat mendasar sehingga tidak memecahkan problematika yang sebenarnya. Pada gilirannya akan muncul problematika baru yang tidak mustahil sifat dan bobotnya melebihi problem semula.

8.2.1.6 Survey Kemasyarakantan (Community Survey)

Penelitian ini juga sering disebut penelitian social yang dimaksudnya untuk mengungkapkan aspek atau beberapa aspek tertentu dalam kehidupan masyarakat. Melalui penelitian ini dikumpulkan data untuk mengambil kesimpulan tentang pendapat, keinginan, kebutuhan, kondisi dan lain-lain di dalam masyarakat mengenai aspek yang diselidiki.

Luas dan kedalaman penelitian ini sangat tergantung pada banyak sedikitnya aspek yang akan diungkapkan dalam permasalahan aspek yang dihadapi. Selain itu harus diakui pula bahwa luas dan kedalamanya dipengaruhi oleh beberapa factor lain seperti: keterbatasan waktu dan biaya, keterbatasan kemampuan tenaga pelaksana dan tenaga ahli penganalisa serta kesediaan masyrakat untuk bekerja sama dan membantu memberikan data relevan. Kesulitan tenaga pelaksana dan tenaga ahli semakin dirasakan apa bila penelitian ini bersifat komprehenship  yang bertujuan menetapkan karakteristik kehidupan masyarakat yang mengharuskan pengumpulan data yang menyeluruh. Penelitian ini antara lain dapat dilakukan dalam bidang sebagai berikut:

a.  Sejarah, yang bermaksud untuk mengungkapkan data dari seumber yang authentic (asli) tentang peninggalan sejarah, walaupun tidak mendetail seperti penelitian histories . dalam penelitian ini antara lain dibahas tentang dapt istiadat yang dipengaruhi sejarah masyarakat tersebut pada masa lalu, demikian juga tentang sikap , keyakinan/kepercayaan dan lain-lain.

b. Pemerintahan dan dapt dan perundang-undangan. Peneliitian dilakukan untuk mengatahui pelaksanaan pemerintahan, peraturan perundang-undangan tertentu. Hukum dapt dan lain-lain, diwilayah suatu desa atau wilayah yang lebih luas.

c.  Situasi geografis dan situasi ekonomi. Situasi geografis dan ekonomi banyak berpengaruhnya terhadap pola kehidupan masyarakat. Misalnya mempengaruhi system dan pelaksanaan system tranfortasi, komunikasi, administrasi pemerintahan, pelayanan kesehatan dan pendidikan , rekreasi, keamanan dan ketentraman masyarakat dan sebagainya. Semua kondidsi itu merupakan objek penelitian yang menarik.

d. Kerakteristik kebudayaan. Berbagai masalah kebudayaan dapat dijadikan masalah penelitian, antara lain tentang masyarakat terasing, pengaruh kebudayaan luar terhadap suatu masyarakat dan lain-lain.

e.  Kependudukan. Gejala social banyak yang bersumber dari masalah kependudukan, oleh karena itu penelitian dapat mencangkup banyak bidang, antara lain tentang komposisi penduduk menurut umur, jenis kelamin, ras, kebangsaan, tingkat pendidikan, bahasa yang dipergunakan, hubungan kependudukan dengan status social ekonomi, pendidikan, kesehatan, keluarga berencana dan lain-lain. Pengumpulan data dalam penelitian ini dapat dilakukan dengan mempergunakan berbagai intrumen seperti: observasi, angket, interview dan lain-lain. Sumber datanya cukup tersedia sesuai dengan masalah yang akan diuangkapkan. Disamping itu penelitian ini dapat mendorong pemecahan masalah secara interdisipliner dengan pendekatan dari sudut berbagai ilmu pengetahuan[24].

8.2.2 Studi hubungan (Interrelationship Studies)

Beberapa penelitian di bidang ilmu social kerapkali tidak cukup mendalam bila mana hanya dilakukan untuk mengumpulkan fakta-fakta yang teryata hanya dihubungkan satu dengan yang alain, agar suatu kondisi atau peristiwa dapat dipahami secara baik. Dengan menghubungkan fakta-fakta yang ternyata harus dihubungkan satu sama  lain, agar suatu kondisi atau peristiwa dapat dipahami secara baik. Dengan penghubungan fakta-fakta tersebut secara objektif, ternyata cakrawala pemecahan masalah menjadi semakin luas dan keguanaan hasil penelitian semakin bermanfaat[25].

Untuk itu didalam metode deskriptif telah dikembangkan beberapa cara penelitian sebagai berikut:

8.2.2.1 Studi kasus (Case Study)

Penelitian ini memusatkan diri dari secara intensif terhadap suatu objek tertentu, dengan mempelajarinya sebagai suatu kasus. Berbagai unit social seperti; seorang murid menunjukan kelainan, sebuah keluarga, sebuah kelompok anak nakal, sebuah desa, sebuah lembaga social dan lain-lain dapat diselidiki secara intensif, baik secara menyeluruh maupun mengenai aspek-aspek tertentu yang perlu mendapat perhatian khusus.

Seorang peneliti harus mengumpulkan data setepat-tepatnya dan selengkap-lengkapnya dari kasus tersebut untuk mengetahui sebab-sebab yang sesungguhnya bila mana terdapat aspek-aspek yang perlu diperbaiki. data yang tekumpul disusun dan dipelajari menurut urutannya (sequences) dan dihubungkan satu dengan yang lain secara menyeluruh (komprehensif) dan integral, agar mengahsilkan gambaran umum (general picture)dari kasus yang diselidiki. Setiap fakta itu dipelajari peranan dan fungsinya di dalam kehidupan kasus tersebut. Oleh karena itulah dapat disimpulkan.bahwa kedalaman sebuah studi kusus dapat diukur dari data yang dikumpulkan.

Suatu studi kasus akan kurang kedalamannya bilamana hanya dipusatkan pada masa fase tertentu saja atau salah satu aspek tertentu sebelum meperoleh gambaran umum tentang kasus tersebut. Sebaliknya studi kasus akan kehilangan artinya kalau titujukan hanya untuk memperoleh gambaran umum, tanpa menemukan sesuatu atau beberapa aspek kusus dalam mempelajari secara intensif dan mendalam.

Disamping itu studi kasus yang baik harus dilakukan secara langsung dalam kehidupan sebenarnya dari kasus yang diselidiki. Utuk itu data studi kasus dapat diperoleh tidak saja dari kasus yang bersangkutan, tetapi dapat juga diperoleh dari semua pihak yang mengetahui dan mengenalnya secara baik. Dengan kata lain data dalam studi ini dapat dikumpulkan dari berbagai sumber.

Pada taraf terakhir studi kasus harus mampu menemukan cara-cara yang dapat ditempuh untuk melakukan perbaikan atau penyembuhan terhadap aspek-aspek yang menunjukan kelainan kasus yang diselidiki[26].

8.2.2.2 Studi Sebab Akibat Dan Perbandingan (Causal-Comparative Studies)

Dalam studi ini dilakukan usaha untuk memahami mengapa suatu gejala terjadi atau apa sebabnya sautu peristiwa, keadaan atau situasi berlangsung. Sebagai bagian dari metode deskriftif, penelitian ini pada tahap pertama dilakukan dengan memgambarkan fakta-fakta seadanya untuk memperjelas bagaimana  keadaan, suatu peristiwa atau keadaan dari objek yang diteliti. Selanjutnya di usahakan mempelajari sebab-sebab mengapa gejala, peristiwa atau keadaan itu demikian. Untuk itu dilakukan usaha untuk membandingkan–bandingkan gejala guna mencari keguanan dan perbedaanya. Disamping itu dianalisa juga gejala itu secara berurutan untuk menemukan gejala yang bersifat tetap dan berubah-rubah yang mungkin merupkan sebab yang ingin diketahui.

Dari uraian diatas jelas bahwa studi ini pada dasarnya bermaksud menemukan hubungan sebab akibat didalam suatu peristiwa atau keadaan yang sedang atau sudah berlangsung. Berbeda dengan metode ekperimen yang berusaha mencari hubungan sebab akibat yang menimbulkan suatu perlakuan (treatment) untuk diketahui akibatnya. salah satu kesulitan penelitian ini kerena bidang social bersifat kompleks, sehingga sulit mengendalikan /control, menemukan dan mengubah factor-faktor yang akan diselidiki hubungan sebab akibat nya, terutama bila peristiwanya sudah berlangsung. dari uaraian-uaraian diatas dapat disimpulkan kelemahan-kelemahan dalam penelitian ini:

·         Sulit melakukan control terhadap berbagia variable, karena keadaan peristiwa atau kejadian yang diselidiki berlangsung dalam kehidupan social yang tidak dapat dirubah 

·         Apabila factor-faktor yang relevan sebagai sebab timbulnya suatu peristiwa atau kejadian tertentu tidak termasuk sebagai salah satu item yang diselidiki, maka sebab yang sebenarnya, maka sebab yang sebenarnya tidak akan pernah ditemukan

·         Variable yang dihubungkan dalam penelitian ini berbentuk variable tunggal sehingga kerap kali terjadi kesulitan mencari hubungannya dengan variable lain yang mungkin ikut juga berpengaruh pada munculnya peristiwa atau keadaan.

·         Suatu peristiwa atau keadaan mungkin bukan ditimbulkan oleh banyaknya variable, akan tetapi karena suatu paktor kecil didalam salah satu variable. dalam keadaan seperti itu sebab sebenarnya sulit juga diungkap karena tersembunyi didalam variable sebagai sebab yang tidak prinsipil

·         Sering terjadi bila mana hubungan dau variable ditemukan, sulit untuk menetapkan variable mana yang menjadi sebab dan yang menjadi akibat.

·         Sulit untuk membedakan variable yang bersifat dikotomus atau terpisah satu sama lain; karena didalam bidang social pada umumnya variable-varieabel itu berjalin satu dengan yang klaim secara kompleks.

·         Apabila digunakan sejumlah penelitian dapat terjadi perbedaan kecermatan dalam mengamati variabel yang menjadi sebab akibat terutama bila datanya dikumpulkan melalui observasi.

8.2.2.3 Studi Korelasi (Corelation Studies)

Hubungan antar dua variable tidak saja dalam bentuk sebab akibat. Hubungan sebab akibat menunjukan ketergantungan variable yang satu terhadap variable yang lain. Hubungan yang lain adalah hubungan linier yang berupa hubungan imbale balik antar dua variable atau lebih yang disebut korelasi.

Penelitian dengan cara ini bermaksud mengungkapkan hubungan imbale balik antar dua variable yang diselidiki. Intensitas hubungan itu diukur dengan menggunakan prosedur mathematis dengan menyatakan koefiensi korelasi, yang dapat bergerak dari -100 sampai dengan +1,00. hubungan korelasi ini dinyatkan tiga bentuk sebagai berikut:

Korelasi positif yang menunjukan bahwa kedudukan seseorang yang tinggi dalam salah satu variable (misalnya dalam test A), ternyata cenderung menempati kedudukan yang tinggi pula dalam variable kedua (misalnya test B). demikian juga sebaliknya seseoarang yang rendah dalam variable pertama, ternyata cenderung juga dalam variable kedua.

Korelasi negative yang menunjukan bahwa kedudukan-kedudukan seseorang yang tinggi dalam variable pertama (misalnya dalam test A), ternyata cenderung menempati kedudukan yang rendah dalam dalam variable yang kedua (misalnya dalam test B). demikian juga sebaliknya.

Korelasi nihil atau korelasi rendah atau tidak berkorelasi yang menunjukan bahwa variable tidak tetap atau tidak menentu. Seseorang mungkin tinggi kedudukannya dalam variable yang pertama, akan tetapi pada kedudukan yang kedua menempati kedudukan pada rata-rata. Sedang seseorang yang lain dengan kedudukan tinggi pada variable pertama mungkin berkedudukan tinggi dalam variable yang kedua. Demikianlah setiap orang kedudukannya tidak menetap atau tidak menentu di dalam kedua variable tersebut.

Hubungan dua variable dalam korelasi seperti yang disebutkan diatas pada dasarnya bukan hubungan sebab akibat. Korelasi dapat dikatakan menunjukan sebab akibat apa blia sebelumnya sudah diketahui bahwa antara kedudukan kedua gejala yang dicari hubungannya terdapat saling ketergantungan . misalnya antara intelegensi kuantum (IQ) dengan hasil Belajar Matematik. Dengan kata lain koefiensi korelasi sebenarnya menunjukan arah distribusi berupa hubungan linier atau hubungan sejajar antara dua variable atau lebih[27].

8.2.3 Studi Perkemabangan (Development Studies)

Studi perkembangan tidak sekedar fakta-fakta pada masa sekarang. Pengelompokannya sebagai bagian dari metode deskriptif karena studi ini bermaksud melukiskan hubungan antara gejala-gejala sebagaimana adanya sekarang dengan fakta-fakta lain berdasarkan fungsi waktu yang bersifat kontiniu. Untuk itu penelitian dapat menggambarkan berbagai variable dari aspek yang diselidikinya, mungkin selama sebulan, atau lebih sampai pada bagaimana adanya gejala itu pada masa seklarang.Untuk itu dapat dipergu8nakan dau cara penelitian sebagai berikut:

8.2.3.1 Studi Pertumbuhan (Growt Studies)

Studi ini bermaksud menggmbarkan pertumbuhan atau perkembangan yang dialami objeknya, baik secara keseluruhan maupun mengenai aspek-aspek tertentu dalam batas watu tertentu pula. Misalnya dalam pertumbuhan dan perkembangan universitas sebagai lembaga pendidikan, baik secara keseluruhan maupun salah satu aspeknya seperti perkembangan jumlah mahasiswa dan lulusan, penkembangan pengelolaan akademiknya dari sejak berdiri hingga sekarang. Studi ini dapat dilakukan dengan dua cara sebagai berikut:

·         Teknik longitudinal (longitudinal techniques)

·         Teknik memotong (cross sectional teqniques)

Didalam teknik longitudinal penelitian dilakukan terhadap satu abjek dengan mengurutkan gejala pertumbuhan/perkembangannya dari tahun-ketahun dalam kurun waktu tertentu,. Bila mana terjadi studi ini dilakukan terhadap beberapa objek yang sama, maka dapat ditarik kesinpulan tentang aspek-aspek yang berlaku umum untuk objek yang sejenis.

Didalam teknik memotong kegiatan penelitian dilakukan lebih cepat dengan menggunakan sejumlah objek dari macam-macam periode (misalnya sejumlah anak–anak dari macam-macam tingkat umur). Setiap variable dalam setiap periode diungkapkan dari sejumlah objek yang kemudian dirangkaian untuk menggambarkan perkembangan/pertumbuhan secara keseluruhannya. Dalam studi ini hasilnya lebih cepat diperoleh, karena penelitian tidak perlu mengikuti pertumbuhan atau perkembangan suatu objek selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Teknik longitudinal memiliki keterbatasan terutama karena memerlukan waktu yang lama dan bilamana terdapat kesalahan dalam prosedur, maka penelitian tidak dapat diulang pada obyek yang sama, sehingga sulit untuk melakukan perbaikan. disamping itu dalam melaksanakan penelitian ini sangat diperlukan dukungan fasilitas dan biaya yang cukup.

Teknik memotong sebagai cara yang lebih masih mempunyai keterbatasan juga, terutama dalam menetapkan jumlah sample yang cukup untuk setiap periode dari objek yang sielidiki. Disamping itu sulit juga untuk menentukan tingkat validitas dan reabilitas dalam mengurutkan gejala-gejala yang menggambarkan keseluruhan perkembangan/pertumbuhan kartena objeknya berbeda-beda[28].

8.2.3.2 Studi Kecenderungan (Trend Studies)

Dalam bidang social sering dijumpai kesulitian melakukan prediksi karena sifatnya yang kompleks. Akan tetapi dalam kenyataannya banyak ditemui bahwa variable variable tertentu menunjukan pola perkembangan tertentu pula, sehingga memungkinkan untuk melakukan analisa prediktif tentang kecenderungan perkembangan yang berpengaruh terhadap suatu situasi /keadaan dimasa datang.

Sehubungan dengan itu dapat dilakukan penelitan berupa studi kecenderungan yang bermaksud untuk memperkirakan (prediksi) keadaan suatu lembaga atau kemungkinan yang akan terjadi atau situasi yang akan dihadapi dimasa mendatang. Penelitian seperti itu termasuk metode deskriptif karena pada tahap permulaan bermaksud mengambarkan fakta-fakta masa sekarang sebagai mana adanya, yang kemudian dihubungkan dengan perkembangannya dimasa lalu untuk mengetahui pola perkembangan itu sehingga seperti adanya sekarang dilakukan perkiraan tentang kecenderungan keadaan variable yang diselidiki itu dimasa yang akandatang.

Penelitian dilakukan dengan mengklasifikasikan data menurut interval waktu yang dibagi-bagi menurut periode dengan jarak yang sama. Data setiap periode itu diperoleh dari sumber documenter dipelajari laju dan arah perubahan atau perkembangannya hingga sampai pada gambaran keadaannya pada masa sekarang dan selanjutnya dipergunakan untuk meramalkan keadaannya di masa yang akan datang.

8.3 Metode Historis

Metode histories adalah prosedur pemecahan masalah dengan menggunakan data  masa lalu atau peninggalan-peninggalan baik untuk memahami kejadian atau suatu keadaan yang berlangsung pada masa lalu terlepas dari kedaan masa sekarang maupun untuk memahami kejadian atau keadaan masa sekarang yang berhubungan dengan  masa lampau, selanjutnya kerapkali hasilnya dapat  digunakan untuk meramalkan kejadian atau keadaan masa yang akan datang. Dengan kata lain metode histories dapat dilakukan dalam dua cara sebagai berikut:

  1. Untuk menggambarkan gejala-gejala yang terjadi pada masa lalu sebagai suatu rangkaian peristiwa yang berdiri sendiri, terbatas dalam kurun waktu tertentu diamasa lalu
  2. Memnggambarkan gejala-gejala masa lau sebagai sebab suatu keadaan atau kejadian pada masa sekarang sebagai akibat. Data masa lalu itu dipergunakan sebagai informasi untuk memperjelas kejadian atau keadaan masa sekarang serangkaian yang tidak terputus atau saling berhubungan satu sama lain[29].

Dari uraian diatas perlu ditekankan bahwa metode histories tidak mengutamakan data masa sekarang, tetapi lebih memusatkan perhatiannya pada data masa lalu berupa: peninggalan sejarah, monument- monument, arsip-arsip, benda-beda bersejarah, benda-benda pusaka bahkan tempat-tempat yang dianggap keramat dan lain-lain. Data itu tidak sekedar diungkapkan dari seudut kepentingan sejarahnya, akan tetapi untuk memahami berbagai aspek kehidupan masa lalu seperti adat istiadat, kebudayaan, hokum yang berlaku, struktur yang berlaku, struktur masyarakat dan pemerintahan, kehidupan social dan ekonomi, pendidikan dan lain-lain.

Penggunaan dokumen-dokumen dan arsip-arsip harus dibedakan dengan studi documenter sebagai bagian dari metode deskriptip, didalam studi documenter penelitian tertuju pada data yang belum berlaku lama, sehingga masih dapat dikelompokan sebagai usaha mengungkapkan fakta-fakta masa sekarang. Sedang dalam metode histories, dokumen-dokumen atau arsip-arsip  yang digunakan dari segi waktu pada dasarnya merupakan bahan-bahan peninggalan yang relative sudah cukup lama.

Selain dengan uraian diatas, selanjuutnya sumber data dalam metode penelitian histories dapat dikelompokan sebagai berikut:

§         Peninggalan materi antara lain berupa candi, pyramid, fosil, monument-monumen, senjata, perhiasan, bangunan-bangunan tempat tinggal, peralatan atau perkakas perlenmgkapan kehidupan, benda–benda budaya, tempat-tempat keramat dan lain-lain

§         Peningglan tertulis antara lain berupa prasati, relief, daun bertulis (misalnya daun lontar), kitab-kitab, naskah-naskah perjanjian, arsip negara dan lain-lain.

§         Peninggalan tak tertulis/ Budaya antara lain berupa; cerita rakyat dongeng, bahasa, adat-istiadat,/hokum, kepercayaan dan lain-lain.

Dalam penelitian historis, validitas dan reabilitas hasil yang ditentukan oleh sifat yang ditentukan pula oleh sumber datanya. Untuk itu sifat data histories dapat diklasifikasikan sebaai berikut:

1.      Data primer merupakan data authentic atau data langsung dari data pertama tentang masalah yang diungkapkan. Secara sederhana data ini disebut juga data asli

2.      Data sekunder data yang mengutif dari berbagai sumber lain sehingga tidak bersifat authentic karena sudah diperoleh dari tangan kedua ketiga dan selanjutnya. Dengan demikian data ini disebut juga data tidak asli.

Dengan memperhatikan sifat diatas, maka dalam penelitian histories harus ditempuh tiga proses penting sebagai berikut:

  1. Pengumpulan data dengan menetaptkan sumber data dan membedakannya dalam kategori data primer atau data skunder yang harus dilakukan dengan system pencatatan yang relevan.
  2. Melakukan kritik terhadap data yang tersedia (critism of data) yakni melakukan penelitian tentang keasliannya melalui kritik intern dan kritik ekstern. Pada tahap pemulaan dilakukan kritik ekstern untuk mengetahui tingkat keaslian sumber data guna untuk memperoleh keyakinan bahwa dalam penelitian telah diselenggarakan dengan mempergunakan sumberdata yang tepat. Untuk itu perlu diungkap antara lain tentang usia atau waktu pembuatannya, tempat pembuatan atau diketemukannya, bahan dan perhitungan daya tahannnya dihubungkan dengan tempat diketemukannya, bentuknya dan lain-lain. Setelah diperoleh keyakinan tentang keasliannya dapat dilakukan kritik intern yang dilakukan untuk meneliti tingkat kebenaran isi (data) dari sumber data yang dipergunakan.. dengan kata lain melalui kritik intern harus ditetapkan apakah data itu dapat dipercaya kebenaran dan ketelitiannya. Perlu disadari bahwa batas antara dua kritik itu memang sulit untuk ditetapkan. Oleh karena itu sering terjadi data primer untuk suatu penelitian histories, akan menjadi data sekunder bagi penelitian histories yang lain. Sebaliknya data sekunder dari suatu penelitian  tidak mustahil akan menjadi data primer bagi penelitian yang lain. Sehubungan dengan itu perlu ditekankan pula bahwa penggunaan data sekunder dalam penelitian histories hanya dapat dilakukan bilamana data primer memang benar-benar tidak dapat diperoleh. Dalam penggunaan data sekunder harus diingat kemungkinan  kepalsuan data, karena data itu dari tangan kedua atau tanga ketiga yang tidak mustahil yang telah memberikan tafsiran-tafsiran yang memasukan unsure subjektivitas, sehingga tidak sesuai lagi dengan kejadian atau keadaan sebenarnya pada saat peristiwaw itu berlangsung.
  3. Penyusuanan hasil penelitian yang bernilai histories yang antara lain pengorganisasian materi, peletakan dasar pandangan dari sudut masa lalu, identifikasi masalah yang bernilai histories, ketelitian penulisan, pemakaian pola berfikir analisis, sintesis dan prinsip-prinsip deduksi serta induksi dan lain-lain.

Selanjutnya dalam penelitian histories ternyata proses dan system pencatatan sangat besar peranannya. Proses pencatatan biasanya dilakukan dengan menyusun urutan bahan menurut umur kronologis, kemudian dilanjutkan dengan menganalisa isinya dan melakukan pencatatan-pencatatan, baik secara keseluruhan maupun aspek demi aspek yang tertadapat dalam sumberdaya yang tersedia. Data harus dicatat sebagai mana adanya, kecuali bagi data yang memerlukan interpretasi. Untuk itu diperlukan suatu standar tertentu, misalnya dalam bentuk penafsiran relief, tulisan dan lain-lain. Pada tarap akhir dari pencatatan dilakukan pengelompokan untuk menemukan persamaan dan perbedaan dari data yang diperoleh, untuk mempermudah melakukan analisa melalui proses mengkompirmasikan data yang satu dengan data yang lain.

Sejalan dengan uraian diatas, penelitian histories dapat dibedakan bentuknya sebagai berikut:

8.3.1 Penelitian Komparatif-Historis

Penelitian ini dilakukan dengan membanding-bandingkan gejala yang sejenis, baik berdasarkan perbedaan waktu terjadinya maupun perbedaaan tempat terjadinya didalam waktu yang sama. Misalnya penelitian perkembangan adat istiadat masyarakat jawa dari tahun 1900 hingga sekarang atau penelitian tentang hokum yang berlaku dibeberapa negara pada tahun 1945 dan lain-lain.

8.3.2 Penelitian Legal atau Penelitian Yuridis.

Penelitian ini bermaksud mengungkapkan kegiatan-kegiatan pemerintahan suatu bangsa, kerajaan, lembaga dalam menetapkan kebijaksanaan sehingga pengaruh bagi kehidupan pada masa-masa tertentu dalam prospek sejarah.

8.3.3 Penelitian Bibliografis atau Kepustakaan.

Penelitian ini dilakukan untuk mengungkapkan berbagai teori, pandangan hidup, pemikiran filsafat dan lain-lain yang dapat ditemui di dalam berbagai peninggalan tertulis terutama berupa buku-buku yang dihasilkan pada jaman tertentu dalam prospek sejarah.

8.3.4 Penelitian Kronolgis

Penelitian ini dimaksudkan mengungkapkan kejadian-kejadian atau keadaan-keadaan dan peristiwa-peristiwa menurut urutan waktunya dari masa yang paling tua dapat dicapai sampai masa-masa mandekati masa sekarang.

8.4 Metode Eksperiment

Metode ekperimen adalah prosedur penelitian yang dilakukan untuk mengungkapkan hubungan sebab akibat dua variable atau lebih, dengan mengendalikan pengaruih variable yang lain. Metode ini dilaksanakan dengan memberikan variable bebas secara sengaja (bersifat induce) kepada objek penelitian untuk diketahui akibatnya di dalam variable terikat. Dengan demikian metode ini dilakukan dengan melakukan percobaan secara cermat untuk mengetahui hubungan sebab akibat antara gejala yang tmbul dengan variable yang sengaja diadakan. Variable yang sengaja diadakan itu disebutjuga variable eksperimen atau perlakuan (treatmen) yang berfungsi sebagai variable bebas seperti telah disebutkan diatas. Perlakuan yang diberikan pada obyek penelitian mungkin lebih dari satu bentuk, sehingga dalam suatu eksperimen mungkinpula dibandingkan pengaruh antara beberapa benutk perlakuan itu melalui akibat di timbulkannya di dalam variable terikat.

Dalam penggunaan metode ini dapat dibedakan dua jenis eksperimen, ditinjau dari segi hubungannya. Kedua jenis eksperimen itu adalah:

  1. Eksperimen eksploratif (explorative experimental)

Eksperimen ini bermaksud untuk mempertajam masalah dan perumusan hipotesa tentang hubungan sebab akibat antara dua variable atau lebih.. untuk itu eksperimen eksploratif biasanya menggunakan binatang atau benda percobaan. penggunaan manusia pecobaan dalam eksperimen ini sangat terbatas karena mengandung resiko yang cukup besar.

  1. Eksperimen pengembangan (developmental eksperiment)

Eksperimen ini dilakukan untuk menguji/mengetes atau membuktikan hipotesa dalam rangka menyusun generalisasi yang berlaku umum

Disamping itu berdasarkan cara pelaksanaannya, eksperimen dapat dikelompokan menjadi dua jenis , yakni:

  1. Eksperimen murni (ture eksperimen atau pure eksperiment)

Didalam eksperimen ini perlakuakm sengaja dibuat akan dikenakan pada objek penelitian. Dengan kata lain kondisi obyek penelitian sengaja dirubah dengan memberikan perlakuan tertentu dan mengontrol variable lainnya secara cermat selama jangka waktu tertentu. Eksperimen murni ini dapat dilakukan dilabolatorium yang dapat digunakan dalam ilmu exacta. Penggunaanya dalam ilmu social disebut juga field experiment biasanya didahului dengan binatang percobaaan. Penggunaan langsung pada manusi dapat digunakan bila mana tidak membawa resiko yang dapat merugikan.

  1. Eksperimen berpura-pura (quasy experiment).

Didalam ekperimen ini kondisi obyek penelitian sulit untuk dirubah dalam bentuk memberikan perlakuan teretentu. oleh karena itu di dalam kondisi yang sudah berlangsung itu diusahakan memisah-misahkan variable yang ada, seolah-olah terdapat perlakuan dan variabel kontrol setra variable-variabel lain seperti terdapat di dalam eksperiman yang sebenarnya. Dengan demikian eksperimen ini bukanlah percobaan yang sesungguhya, melainkan percobaan yang bersifat pura-pura (quasy)[30]

Dalam uraian diatas dapat disimpulkan bahwa didalam metode eksperimen, terdapat variable-variabel sebagai berikut:

1.    Variable eksperimen yang disebut variabel perlakuan (treatment), variable ini adalah sejumlah gejala (kondisi) yang sengaja ditimbulkan atau dirubah dan dikenakan atau diberi pada objek penelitian. Dengan demikian perlakuan (treatmen) ini merupakan sebab yang hendak di observasi atau yang diamati pengaruhnya pada objek penelitian

2.    Variable eksperimen yang lain adalah variable yang timbul setelah objek penelitian dikenai atau mendapat perlakuan (treatment) tertentu. Variable ini adalah akibat dari perlakuan yang dikenakan pada dikelompok-kelompok dalam suatu eksperiment tertentu, yang disebut juga variable terikat.

3.    Variable control (control variabel), variable ini adalah sejumlah gejala (kondisi) yang dikendalikan pengaruhnya atau disamakan pengaruhnya terhadap kelompok-kelompok yang terdapat didalam kelompok eksperimen tertentu. Dengan mengawasi atau mengendalikan pengaruh variable ini, maka setiap gejala yang timbul didalam eksperimen tersebut dapat dinayatakan timbul sebagai akibat perlakuan (treatment) dan bukan karena pengaruh variable yang dikontrol, sebagai mana treatmen, maka variable control ini harus ditetapkan secara pasti sebelum eksperimen dilakuakan.

4.    Variable sampingan (intervining variabel), di dalam suatu eksperiment kerap kali terdapat juga variable yang tidak dapat dikendalikan akan tetapi berpengaruh terhadap perlakuan dan atau variable terikat yang dapat timbul. Variable seperti itu disebut variable sampingan. Terhadap variabel ini harus dilakukan usaha untuk memperhitungkan pengaruhnya, agar dapat ditunjukan bahwa variable terikat yang timbul merupakan benar-benar merupakan akiibat dari perlakuan (treatment). Salah satu bentuk atau usaha untuk memperhitungkan pengaruh adalah dengan mempergunakan sistem blok dalam analisa yang dilakukan terhadap data yang diperoleh setelah eksperimen dilaksanakana.

5.    Variable ekstrane (extraneous variabel), variable ini adalah sejumlah gejala atau kondisi yang tidak dapat dikontrol dan diperhitungkan pengaruhnya, bahkan kadang-kadang gejala ini tidak diketahui bentuknya. Variable ini semakin besar pengaruhnya bila mana dalam menciptakan variable control dan variabel sampingan kurang cermat. Sebaliknya semakin kecil pengaruhnya bila mana control variable dan extraneous variable telah ditetapkan secara cermat. Variable ini yang dapat menimbulkan variable kesesatan atau kekeliruan atau hasil yang diperoleh tidak valid dan rearibel. Dengan kata lain semakin besar kesesatan atau kekeliruan yang dilakukan, maka semakin besar pula kemungkinan bahwa hasil yang diperoleh di dalam variable terikat sebenarnya bukan disebabkan oleh perlakuan (treatment). Untuk melakukan kontrol statistic di dalam setiap penelitian termasuk juga eksperimen di dalam bidang social, telah ditetapkan batas signifikasi atau tingkat kepercayaan penerimaan atau penolakan hipotesis, yang masih akan dibicarakan dalam uraian-uraian berikutnya.

Selanjut nya dengan bertolak dari uraian diatas dapat disimpulkan pula bahwa didalam waktu eksperiment terdapat kelompok-kelompok sebagai berikut:

Kelompok eksperiment

Kelompok ini adalah kelompok objek penelitian yang dikenai atau mendapat perlakuan (treatmen) tertentu. Jumlah  kelompok ini tergantung banyak perlakuan. Bila perlakuan hanya sebuah maka kelompok eksperimen hanya satu buah pula, yang berarti kelompok ini mungkin terdiri dari beberapa kelompok sesuai dengan jumlah perlakuan yang sengaja diadakan.

Kelompok control

Kelompok ini adalah kelompok objek penelitian yang tidak dikenei perlakuan tertentu, artinya kondisinya tidak diberubah dengan menjaga bahwa variable kontrolnya sama dengan kelompok eksperimen[31].

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

Earl Babbie, 1998. The Practice Of Social Reseach.  An international publishing company.

Hadari Nawawi, 1998. Metode Penelitian Bidang Social.Gajah Mada Press.Yogyakarta

Hadari Nawawi dan Mimi Martini, 1996.  Penelitian Terapan. Gajah Mada University Press. yogyakarta

Hlyman, 1960. Survey Design And Analisis, Principles, Cases, And Procedures. Glencoe. The free press

Jalaluddin Rahmat, 1999. Metode Penelitian Komunikasi. Remaja rosda karya . Bandung.

J Suprianto, 1997. Metode Riset Dan Aplikasinya Dalam Pemsaran..Rineka Cipta Jakarta

Jujun.s, 2003..Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Total Grafika.Jakarta

Kartini Kartono, 1980. Pengantar Metodologi Research Social. Alumni. .Bandung.

Koencaraningrat, 1993. Metode penelitian masyarakat. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

Laxmi Devi, 1997. Encyclopedy Of Social Research;  Theorical Concept Of Social Research. First edition. New Delhi India. 

Masri Singaribun dan sufyan Efendi, 1998. metode penelitian survey. LP3ES. Jakarta.

Oxford Learner’s Poket Dictionary; New Edition.

Rayce A. Singleton J.R. Bruce. 1999. Approach To Social Reseach. Oxford university press. New york.

Sutrisno Hadi, 1969. Metodologi Reseach. Yayasan Penerbit Fakultas Psycologi Universitas Gjah Mada, Yogyakarta.

Surahmi Arikunto.1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta. Jakarta

Surahmi Rikunto, 2005. Management Penelitian. Rineka Cipta. Jakarta

Sumadi Suryabrata, 1998. meodologi penelitian. Raja Grafindo Persada. Jakarta

Somargono, 2004. Metodologi Penelitian Pendidikan. Rineka cipta. Jakarta

Winarno Surahmad.1990. Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar Metoda Teknik. tarsito. Bandung

Yuong, P.V, 1996. Scientific Social Surveys And Research. Englewood Cliffs, NJ. Prentice Inc



[1] Lihat Kartini Kartono, Pengantar Metodologi Research Social. (Alumni . Bandung.1980 ). Hal. 15

[2] Lihat Oxford Learner’s Poket Dictionary; New Edition. Hal . 270

[3]  lihat Jujun.s .Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. (Jakarta:Total Grafika .2003) cet. 16

[4]  Bandingkan , Winarno Surahmad. Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar Metoda Teknik. (tarsito. Bandung1990). Hal. 131, cet. Ke 4

[5]  kartini kartono. Hal 15

[6]  Lihat Oxford Learner’s Poket Dictionary; New Edition. Hal . 270

[7] Jujun. Hal

[8]  Sutrisno Hadi, Metodologi Reseach , jilid I; yayasan penerbit fakultas Psycologi universitas Gajah Mada, yogyakarta. 1969. hal 4

[9]  Diterjemahkan oleh penulis                                      

[10] Bandingkan, Laxmi Devi, Encyclopedy Of Social Research;  Theorical Concept Of Social Research. First edition 1997. New Delhi India.  hal 5-6

[11]  Diterjamahkan oleh penulis

[12]  Somargono. Hal 17

[13]  Lihat, J Suprianto, Metode Riset Dan Aplikasinya Dalam Pemsaran.(Jakarta: Rineka Cipta, 1997) edisi revisi cet. 6 . hlm. 12-13 

[14]  Penulis mengutifnya dari Sumargono, metodologi penelitian, (Rineka Cipta. Jakarta. 2004) cet. 4 maret .  hal 36

[15] Somargono. Hal 45-46

[16]  Hadari Nawawi,metode penelitian bidang social. (Yogyakarta: Gajah Mada Press.1998) cet. VIII September 1998. Hal . 30-31

[17] Hadari Nawawi. 1998. 31-32

[18]  Sumadi Suryabrata, 1998. meodologi penelitian. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Cet. 11, hal  48

                                                                                           

[19] Hadari Nawawi. 1998.. hal 62

[20] Disamping beberapa bentuk penelitian deskriptif tersebut diatas, kerapkali beberapa bentuk penelitian lain seperti dibawah ini dikelompokan juga sebagai metode deskriftif.

1.     Studi waktu dan gerak.

Studi ini dipergunakan untuk mengukur efesiensi kerja dengan mencari pola dan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam melakukan suatu pekerjaan dan menghitung jumlah minimal yang diperlukan. Melalui ini akan ditemukan gerak-gerak yang perinsipil yang harus dilakukan dan yang tidak prinsipil sehingga harus dibuang guna menemukan gerak-gerak yang tepat untuk menghasilkan output yang maksimal, dalam jangka waktu yang setepat-tepatnya atau secepat-cepatnya dalam memproduksi sesuatu. Untuk itu penelitian ini dilakukan dengan mengamati dan mencatat gerakan dari dejumlah petugas yang melakukan suatu pekerjaan dengan mencatat waktu yang dipergunakannya. Dari hasil pengamatan itu akhirnya dapat dianalisa gerak-gerak yang mana harus dibuang, diperbaiki atau dilatih guna menghemat waktu akan tetapi tidak mengurangi mutu dan jumlah output yang dihasilkan.

2.     Analisa Tingkah Laku

Tidak banyak berbeda dengan studi waktu dan gerak, bentuk penelitian ini bermaksud untuk menetapkan criteria penilian pekerjaan atau tingkah laku yang baik dalam rangka  menciptakan kseimbangan antara tuntutan suatu pekerjaan dengan upah yang diterima setiap petugas dilingkungan tertentu

[21] Jalaluddin Rahmat, 1999. Metode Penelitian Komunikasi. Remaja rosda karya . Bandung. Cet. 7. hal. 22-23

 

[22] Hadari Nawawi dan Mimi Martini, 1996.  Penelitian Terapan. Gajah Mada University Press. Yogyakartacet 2. hal 63-

[23] Masri Singaribun dan sufyan Efendi, 1998. metode penelitian survey. LP3ES. Jakarta. Cet. 9. hal. 35-37

 

[24] Koencaraningrat, 1993. Metode penelitian masyarakat. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Hal 46

 

[25] Yuong, P.V, 1996. Scientific Social Surveys And Research. Englewood Cliffs, NJ. Prentice Inc. hal. 56

 

[26] Surahmi Arikunto.1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta. Jakarta. Edisi revisi IV. Hal . 89-92

 

[27] Somargono, 2004. Metodologi Penelitian Pendidikan. Rineka cipta. Jakarta. Cet. 4. hal

  

[28] Surahmi Rikunto, 2005. Management Penelitian. Rineka Cipta. Jakarta cet. 7. hal. 239-241

 

[29]  Sumadi Suryabrata, 1998. meodologi penelitian. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Hal 16

 

[30] Rayce A. Singleton J.R. Bruce. 1999. Approach To Social Reseach. Oxford university press. New york.. tird edition, hal. 239-241

[31]  Earl Babbie, 1998. The Practice Of Social Reseach.  An international publishing company. Hal 271-272

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s