Budaya dan Institusi Sosial

BUDAYA DAN INSTITUSI SOCIAL

Oleh: Apip Sohibul Faroji

1. PENDAHULUAN

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta[1] yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.

Akal adalah kemampuan pikir manusia sebagai kodrat alami yang dimiliki manusia. Berpikir adalah perbuatan operasional yang mendorong untuk aktif berbuat demi kepentingan

Fungsi akal adalah untuk berfikir, kemampuan berfikir manusia mempunyai fungsi mengingat kembali apa yang telah diketahui sebagai tugas dasarnya untuk memecahkan masalah dan akhirnya membentuk tingkah laku.

Budi adalah akal yang merupakan unsur rohani dalam kebudayaan. Budi diartikan sebagai batin manusia, panduan akal dan perasaan yang dapat menimbang baik buruk segala sesuatu[2]

Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.

1.1. Pengertian

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat[3].

Menurut Edward B. Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat[4].

Robert H Lowie, Kebudayaan adalah segala sesuatu yang diperoleh individu dari masyarakat, mencakup kepercayaan, adat istiadat, norma-norma artistic, kebiasaan makan, keahlian yang diperoleh bukan dari kreatifitasnya sendiri melainkan merupakan warisan masa lampau yang didapat melalui pendidikan formal atau informal

Keesing, Kebudayaan adalah totalitas pengetahuan manusia, pengalaman yang terakumulasi dan yang ditransmisikan secara sosial

Koentjaraningrat, Kebudayaan berarti keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar beserta keseluruhan dari hasil budi pekertinya

Rafael Raga Maran, Kebudayaan adalah cara khas manusia beradaptasi dengan lingkungannya, yakni cara manusia membangun alam guna memenuhi keinginan-keinginan serta tujuan hidupnya, yang dilihat sebagai proses humanisasi[5].

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan yaitu sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia[6], sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia[7] sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

1.2 Unsur-Unsur Kebudayaan

Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut:

  • Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
    • alat-alat teknologi[8]
    • sistem ekonomi
    • keluarga
    • kekuasaan politik
  • Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
    • sistem norma yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
    • organisasi ekonomi
    • alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
    • organisasi kekuatan (politik)
  • C Kluckhohn
    • Peralatan dan perlengkapan hidup (pakaian, perumahan, alat-alat produksi, transportasi)
    • Mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi (pertanian, peternakan, sistem produksi, distribusi )
    • Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, perkawinan)
    • Bahasa
    • Kesenian
    • Sistem pengetahuan
    • Religi

1.3 Ciri, sifat, dan fungsi kebudayaan

Ciri Kebudayaan

Bersifat menyeluruh

Berkembang dalam ruang / bidang geografis tertentu

Berpusat pada perwujudan nilai-nilai tertentu

Sifat kebudayaan

Beraneka ragam

Diteruskan dan diajarkan

Dapat dijabarkan : manusia sebagai pembentuk kebudayaan

Berstruktur terbagi atas item-item

Mempunyai nilai

Statis dan dinamis

Terbagi pada bidang dan aspek

Fungsi kebudayaan,

Fungsi kebudayaan, Mendasari, mendukung, dan mengisi masyarakat dengan nilai-nilai hidup untuk dapat bertahan, menggerakkan serta membawa masyarakat kepada taraf hidup tertentu :

1. Hidup lebih baik

2. Lebih manusiawi

3. berperikemanusiaan[9]

1.4 Wujud

Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.

  • Gagasan (wujud ideal )

Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.

  • Aktivitas (tindakan)

Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.

  • Artefak (karya)

Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.

Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.

1.5 Komponen kebuadayaan

Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama[10]:

  • Kebudayaan material

Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci

· Kebudayaan nonmaterial

Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional[11].

1.6 Bahasa

Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat.

Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari naskah-naskah kuna, dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

1.7 Proses kebudayaan

Proses pembudayaan adalah tindakan yang menimbulkan dan menjadikan sesuatu lebih bermakna untuk kemanusiaan. Proses tersebut diantaranya

Internalisasi : Merupakan proses pencerapan realitas obyektif dalam kehidupan manusia

Sosialisasi : Proses interaksi terus menerus yang memungkinkan manusia memperoleh identitas diri serta ketrampilan-ketrampilan social

Enkulturasi adalah pencemplungan seseorang kedalam suatu lingkungan kebudayaan, dimana desain khusus untuk kehidupan kelihatan sebagai sesuatu yang alamiah belaka.

Difusi : Meleburnya suatu kebudayaan dengan kebudayaan lain sehingga menjadi satu kebudayaan.

Akulturasi : percampuran dua atau lebih kebudayaan yang dalam percampuran itu masing-masing unsurnya masih kelihatan

Asimilasi : proses peleburan dari kebudayaan satu ke kebudayaan lain[12].

1.8 Penetrasi kebudayaan

Yang dimaksud dengan penetrasi kebudayaan adalah masuknya pengaruh suatu kebudayaan ke kebudayaan lainnya. Penetrasi kebudayaan dapat terjadi dengan dua cara:

a. Penetrasi damai (penetration pasifique)

Masuknya sebuah kebudayaan dengan jalan damai. Misalnya, masuknya pengaruh kebudayaan Hindu dan Islam ke Indonesia. Penerimaan kedua macam kebudayaan tersebut tidak mengakibatkan konflik, tetapi memperkaya khasanah budaya masyarakat setempat. Pengaruh kedua kebudayaan ini pun tidak mengakibatkan hilangnya unsur-unsur asli budaya masyarakat.

Penyebaran kebudayaan secara damai akan menghasilkan Akulturasi, Asimilasi, atau Sintesis. Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Contohnya, bentuk bangunan Candi Borobudur yang merupakan perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dan kebudayaan India. Asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru. Sedangkan Sintesis adalah bercampurnya dua kebudayaan yang berakibat pada terbentuknya sebuah kebudayaan baru yang sangat berbeda dengan kebudayaan asli.

b. Penetrasi kekerasan (penetration violante)

Masuknya sebuah kebudayaan dengan cara memaksa dan merusak. Contohnya, masuknya kebudayaan Barat ke Indonesia pada zaman penjajahan disertai dengan kekerasan sehingga menimbulkan goncangan-goncangan yang merusak keseimbangan dalam masyarakat.

2.1.9 Penyebab Perubahan Sosial & kebudayaan

Factor yang mempengaruhi perubahan sebuah budaya minimal didasarkan pada empat factor diantaranya;

faktor intern

Bertambah atau berkurangnya penduduk

Penemuan-penemuan baru (inovation – discoveri [gagasan] – invention [diterapkan dalam masyarakat] )

Pertentangan-pertentangan dalam masyarakat (konflik)

Pemberontakan / revolusi

faktor ekstern

Perubahan lingkungan fisik manusia (bencana alam )

Pengaruh kebudayaan masyarakat lain

Peperangan

Faktor-faktor yang mendorong

v Kontak dengan kebudayaan lain

v Sistem pendidikan yang maju

v Sikap menghargai hasil karya orang lain dan keinginan untuk maju

v Toleransi terhadap perbuatan menyimpang

v Sistem lapisan masyarakat yang terbuka

v Penduduk yang heterogen

v Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu

v Orientasi ke depan

v Nilai meningkatkan taraf hidup

Faktor-faktor yang menghambat

§ Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain

§ Perkembangan ilmu pengetahuan yang lambat

§ Sikap masyarakat yang tradisional

§ Adanya kepentingan-kepentingan yang telah tertanam dengan kuat (vested Interest)

§ Rasa takut terjadinya kegoyahan dalam integrasi kebudayaan

§ Prasangka terhadap hal baru

§ Hambatan ideologis

§ Kebiasaan

§ Sikap pasrah[13]

1.9 Cara Pandang Terhadap Kebudayaan

a. Kebudayaan sebagai peradaban

Saat ini, kebanyakan orang memahami gagasan “budaya” yang dikembangkan di Eropa pada abad ke-18 dan awal abad ke-19. Gagasan tentang “budaya” ini merefleksikan adanya ketidakseimbangan antara kekuatan Eropa dan kekuatan daerah-daerah yang dijajahnya. Menurut cara pikir ini, kebudayaan satu dengan kebudayaan lain dapat diperbandingkan; salah satu kebudayaan pasti lebih tinggi dari kebudayaan lainnya.

Pada prakteknya, kata kebudayaan merujuk pada benda-benda dan aktivitas yang “elit” seperti misalnya memakai baju yang berkelas, fine art, atau mendengarkan musik klasik, sementara kata berkebudayaan digunakan untuk menggambarkan orang yang mengetahui, dan mengambil bagian, dari aktivitas-aktivitas di atas. Sebagai contoh, jika seseorang berpendendapat bahwa musik klasik adalah musik yang “berkelas”, elit, dan bercita rasa seni, sementara musik tradisional dianggap sebagai musik yang kampungan dan ketinggalan zaman, maka timbul anggapan bahwa ia adalah orang yang sudah “berkebudayaan”.

Orang yang menggunakan kata “kebudayaan” dengan cara ini tidak percaya ada kebudayaan lain yang eksis; mereka percaya bahwa kebudayaan hanya ada satu dan menjadi tolak ukur norma dan nilai di seluruh dunia. Menurut cara pandang ini, seseorang yang memiliki kebiasaan yang berbeda dengan mereka yang “berkebudayaan” disebut sebagai orang yang “tidak berkebudayaan”; bukan sebagai orang “dari kebudayaan yang lain.” Orang yang “tidak berkebudayaan” dikatakan lebih “alam,” dan para pengamat seringkali mempertahankan elemen dari kebudayaan tingkat tinggi (high culture) untuk menekan pemikiran “manusia alami” (human nature)

Sejak abad ke-18, beberapa kritik sosial telah menerima adanya perbedaan antara berkebudayaan dan tidak berkebudayaan, tetapi perbandingan itu_berkebudayaan dan tidak berkebudayaan_dapat menekan interpretasi perbaikan dan interpretasi pengalaman sebagai perkembangan yang merusak dan “tidak alami” yang mengaburkan dan menyimpangkan sifat dasar manusia. Dalam hal ini, musik tradisional (yang diciptakan oleh masyarakat kelas pekerja) dianggap mengekspresikan “jalan hidup yang alami” (natural way of life), dan musik klasik sebagai suatu kemunduran dan kemerosotan.

Saat ini kebanyak ilmuwan sosial menolak untuk memperbandingkan antara kebudayaan dengan alam dan konsep monadik yang pernah berlaku. Mereka menganggap bahwa kebudayaan yang sebelumnya dianggap “tidak elit” dan “kebudayaan elit” adalah sama_masing-masing masyarakat memiliki kebudayaan yang tidak dapat diperbandingkan. Pengamat sosial membedakan beberapa kebudayaan sebagai kultur populer (popular culture) atau pop kultur, yang berarti barang atau aktivitas yang diproduksi dan dikonsumsi oleh banyak orang

b. Kebudayaan sebagai “sudut pandang umum”

Selama Era Romantis, para cendikiawan di Jerman, khususnya mereka yang peduli terhadap gerakan nasionalisme_seperti misalnya perjuangan nasionalis untuk menyatukan Jerman, dan perjuangan nasionalis dari etnis minoritas melawan Kekaisaran Austria-Hongaria_mengembangkan sebuah gagasan kebudayaan dalam “sudut pandang umum”. Pemikiran ini menganggap suatu budaya dengan budaya lainnya memiliki perbedaan dan kekhasan masing-masing. Karenanya, budaya tidak dapat diperbandingkan. Meskipun begitu, gagasan ini masih mengakui adanya pemisahan antara “berkebudayaan” dengan “tidak berkebudayaan” atau kebudayaan “primitif.”

Pada akhir abad ke-19, para ahli antropologi telah memakai kata kebudayaan dengan definisi yang lebih luas. Bertolak dari teori evolusi, mereka mengasumsikan bahwa setiap manusia tumbuh dan berevolusi bersama, dan dari evolusi itulah tercipta kebudayaan.

Pada tahun 50-an, subkebudayaan_kelompok dengan perilaku yang sedikit berbeda dari kebudayaan induknya_ mulai dijadikan subyek penelitian oleh para ahli sosiologi. Pada abad ini pula, terjadi popularisasi ide kebudayaan perusahaan – perbedaan dan bakat dalam konteks pekerja organisasi atau tempat bekerja.

c. Kebudayaan sebagai mekanisme stabilisasi

Teori-teori yang ada saat ini menganggap bahwa (suatu) kebudayaan adalah sebuah produk dari stabilisasi yang melekat dalam tekanan evolusi menuju kebersamaan dan kesadaran bersama dalam suatu masyarakat, atau biasa disebut dengan tribalisme[14].

2. Institusi Sosial

organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara. Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.

Lembaga soial adalah organisasi norma-norma untuk melaksanakan sesuatu yang dianggap penting, lembaga berkembang berangsur-angsur dari keshidupan sosisal manusia. Bila kegiatan penting tertentu dibakukan, dirutinkan diharapkan dan disetujui, maka prilaku itu telah melembaga. Peran yang melembaga adalah peran yang telah dibakukan disetujui dan diharapkan, dan biasanya dipenuhi dengan cara-cara yang sungguh-sungguh dapat diramalakan, lepas dari siapa orang yang mengisi peran itu. Lembaga mencangkup sekumpulan unsur kelembagaan (norma prilaku, sikap, nilai, symbol, ritual dan ideologi) fungsi manifest (tujuan yang dikehendaki) dan fungsi laten (hasil/akibat yang tidak dikehendaki dan tidak direncanakan). Lima lembaga dasar yang penting dalam masyrakat yang kompleks adalah lembaga keluarga, keagamaan, perintahan, perekonomian, dan pendidikan

2.1 Lembaga Keluarga

Kelurga merupakan lembaga social dasar. Bentuk lembaga ini sanga berbeda, berpariasi. Keluarga yang berdasarkan pertalian perkawinan atau kehidupan suami istri disebut kelurga kehidupan susmi istri (conjungal fanily), yang terdiri dari suami, istri dan anak-anak. Namun, dalam banyak masayarakat keluarga bersipat kerabat[15], hubungan sedarah, (consanguine), yaitu kelompok keluarga hubungan sedarah yang jauh lebih besar dengan suatu lingkaran pasangan.

Suatu keluarga mungkin merupakan : 1 suatu kelompok yang mempunyai nenek moyang yang sama; 2 suatu kelompok kekerabatan yang disatukan oleh darah atau perkawinan; 3 pasangan perkawinan dengan atau tanpa anak ; 4 pasangan tanpa nikah yang mempunyai anak; 5 satu orang dengan beberapa anak.

Perkawinan adalah suatu pola social yang disetujui, dengan cara mana dua orang atau lebih membentuk keluarga perkawinan neo local yakni pasangan suami istri membangun rumah tangganya sendiri; perkawinan patri local, dimana pasangan nikah tinggal bersama keluargga suami; dan dari perkawinan matri local dimana pasangan suami istri tinggal bersama keluarga istri.

Semua masyarakat mempraktekan endogamy yakni kawin dengan orang dari dalam kelompoknya sendiri, dan juga eksogami, yakni kawin dengan orang dari luar kelompok sendiri. Meskipun kebanyakan perkawinan bersifat mono gami yaitu satu pria dengan satu wanita, banyak masyarkat mengijinkan poligami yang memperbolehkan seorang pria kawin lebih dari satu wanita ada tiga bentuk poligami. Bentuk yang pertama adalah perkawinan kelompok yakni perkawinan beberapa pria dan beberapa wanita bentuk yang sangat jarang ditemukan adalah poliandri dimana satu istri memiliki banyak suami; sedangkan bentuk poligami yang umum adalah poligini, yakni seorang suami mempunyai lebih dari satu istri pada saat yang sama.

Funsgsi keluarga diantaranya mengatur hubungan seks, memberikan keturunan, mensosialisasikan anak-anak, memberikan apeksi dan keakraban, menetukan status, melindungi para anggotanya dan berfungsi sebagai tim kerja berbagai rasa.

2.2 Lembaga Agama

Agama dan sistem kepercayaan lainnya seringkali terintegrasi dengan kebudayaan. Agama (bahasa Inggris: Religion, yang berasar dari bahasa Latin religare, yang berarti “menambatkan”), adalah sebuah unsur kebudayaan yang penting dalam sejarah umat manusia. Dictionary of Philosophy and Religion (Kamus Filosofi dan Agama) mendefinisikan Agama sebagai berikut:

… sebuah institusi dengan keanggotaan yang diakui dan biasa berkumpul bersama untuk beribadah, dan menerima sebuah paket doktrin yang menawarkan hal yang terkait dengan sikap yang harus diambil oleh individu untuk mendapatkan kebahagiaan sejati[16].

Agama biasanya memiliki suatu prinsip, seperti “10 Firman” dalam agama Kristen atau “5 rukun Islam” dalam agama Islam. Kadang-kadang agama dilibatkan dalam sistem pemerintahan, seperti misalnya dalam sistem teokrasi. Agama juga mempengaruhi kesenian.

Semua agama besar menekankan kebajikan seperti kejujuran dan cinta sesama. Kebajikan ini sangat penting bagi keteraturan prilaku masyarakat manusia, dan agama membantu manusia untuk memandang serius kebajikan seperti itu.

Lembaga agama merupakan system keyakinan dan praktek keagamaan yang penting dari masyarakat yang telah dibakukan dan dirumuskan serta yang dianut secara luas dan dipandang perlu dan benar. Agama berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya lebih dari prilaku moral. Agama menawarkan suatu pandangan dunia dan jawaban atas berbagai persoalan yang membingungkan manusia. Agama mendororng manusia untuk tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri melaikan memikirkan kepentingan sesama.

2.3 Lembaga pedidikan

Lembaga pendidikan dikiembangkan sebagai suatu upaya sistematis untuk mengajarkan apa yang tidak bisa di pelajari secara mudah dalam lingkungan keluarga. Lembaga pendidikan primer adalah sekolah formal, yang bermula dari jenjang sekolah kanak-kanak hingga jenjang perguruan tinggi. Pendidikan formal mencangkup berbagi jenis sekolah seperti: sekolah korepondensi, sekolah bagi para siswa sambilan (part time) dan siswa yang bertempat tinggal jauh; sekolah kejuruan yang menawarkan beraneka ragam latihan dan keterampilan khusus; ditambah dengan latihan pendidikan magang; serta program pendidikan industry yang diselenggarakan oleh banyak perusahaan besar dengan tujuan untuk melatih para karyawan mereka sendiri. Disamping itu berbagai bentuk pendidikan informal berlangsung, baik dalam kondisi yang menyenangkan maupun yang buruk, dirumah, dijalanan, dan melalui media massa_terutama televise.

Salah satu aspek pendidikan yang terdapat dalam setiap aspek masyarakat adalah seperangkat asumsi menyangkut siapakah yang memerlukan pendidikan dan berapa banyak pendidikan yang diperlukannya. System pendidikan persaingan (contest education) berpandangan bahawa setiap orang harus diberi kesempatan untuk bersaing dan tidak diperlukan sponsor khusus. Sitem pendidikan sponsor (sponsored education) berpandangan bahwa setiap orang sudah termasuk dalam suatu kelas social sejak ia lahir, dan jika ia memiliki kemampuan yang luar biasa dapat masuk kekelas social yang lebih tinggi. Di banyak Negara membatsi penerimaan mahasiswa untuk program studi diperguruan tinggi, dengan harapan agar kebanyakan mehasiswa dapat lulus.

Sekolah merupakan suatu system social yang memiliki jumlah peranan, status, dan hubungan-hubungan sendiri. Pendidikan memiliki sejumlah fungsi manifest (nyata). Fungsi manifes yang utama ialah membantu orang dalam mengembangkan potensi dan mempersiapkan mereka untuk bekerja. Fungsi laten (terselubung) mencangkup: memperpanjang masa ketidak dewasaan, memprlemah pengawasan orang tua, memprtahankan atau mengubah kelas social, dan memberikan tempat berlindung bagi pertikaian pendapat.

System interaksi disekolah dapat ditinjau sekurang-kurangnya dari tiga persfektif yang berbeda: (1) hubugan antara orang dalam dengan orang luar (2) hubungan natara orang-orang dalam yang memiliki kedudukan berbeda, (3) hubungan antara orang-orang dalam yang memiliki hubungan sama.

Orang yang paling banyak mengadakan hubungan dengan luar system adalah pengawas sekolah. Ia bertanggung jawab mengoprasikan jenis sekolah yang dikehendai oleh masyarakat. Pengawas sekolah dipandang oleh orang-orang yang berada di dalam system sebagai pelindung mereka terhadap tuntutan orang-orang luar yang tidak masuk akal dan tidak professional. Selain itu, juga dipandang sebagai orang yang berusaha memelihara keharmonisan hubungan antara kelompok-kelompok yang berbeda di dalam sekolah.

Lembaga pendidikan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lembaga-lembaga lainnya, oleh karena itu lembaga pendidikan selalu berjuang untuk memperoleh otonomi dari lembaga-lembaga tersebut. Alat untuk melindungi otonomi pendidikan meliputi kebebasan akademik dan jabatan akademik. Kebebasan akademik mengandung pengertian ;(1)sekolah harus dikelola oleh para pendidik dengan campur tangan pihak luar yang terbatas, dan (2) para sarjana dan guru besar diperkenankan melakukan penelitian, mempublikasikan dan mengajar tanpa harus kawatir terhadap penekanan, meskipun penelitian atau apa yang mereka ajarkan terbukti tidak disenangi orang.

Jabatan tetap akademik melindungi tenaga pengajar dari pemberhentian mendadak yang disebabkan baik oleh pandangan tenaga pengajar meupun hanya adanya sikap-sikap pilih kasih kepala sekolah atau pengawas sekolah.

2.4 Lembaga politik-ekonomi

Lembaga-lembaga politik ekonomi adalah sarana yang distandirasi untuk memlihara ketertiban dalam proses produksi dan distribusi barang dan jasa. Lembaga-lembaga politik-ekonomi memiliki tiga pola yakni;

a. System ekonomi campuran, dimana keuntungan dan pemilikan swasta digabungkan dengan beberapa unsur sosialisme dan paham Negara kesejah teraan

b. System komunisme, yang mencangkup pengertian bahwa pencarian keunutngan swasta tidak diperkenankan dan perusahaan penting dikelola oleh Negara

c. System fasisme, yang berarti bahwa perusahaan swasta diperkenakan berjalan dibawah pengendalian Negara secara otoriter

System ekonomi campuran, yang paling banyak berkembang didunia dewasa ini sedang berjuang mengahdapi resesi, inflasi, dan konflik yang menyangkut masalah sejauh mana batas fungsi Negara dalam mensejah terakan rakyatnya.

Funsi nyata dari lembaga-lembaga politik-ekonomi adalah untuk memelihara ketertiban, menciptakan consensus, dan meningkatkan produksi semaksimal mungkin. Tidak ada satupun masyarakat yang telah berhasil memnuhi segenap fungsi tersebut. Fungsi laten dari lembaga-lembaga politik ekonomi banyak jumlahnya, antara lain adalah merusak kebudayaan tradisional dan mempercepat pengrusakan lingkungan hidup.

Ideology yang menyangkut hubungan antara pemerintah dengan ekonomi meliputi ideology yang dikembangkan oleh Adam Smith, karl Mark, John Maynard Keynes, dan Milto Friedman. Telah sekian tahun demokrasi dan dikecam keras oleh para cendikiawan didunia barat. Diwasa ini banyak kritik intelektual ditujukan terhadap model ekonomi komunisme-sosialisme, yang mengecam bahwa model tersebut tidak menunjang kebebasan dan produktivitas.

Kelompok-kelompok pendukung gagasan tunggal yang relative kecil, dapat memegang kekuasaan politik yang besar, kecuali jika mendapat tantangan langsung dari kelompok pendukung gagasan tunggal yang berkekutan sama. Sitem perwakilan yang proporsional; menigkatkan kekuatan pendukung-pendukung gagasan tunggal, karena system itu memperbesar kemungkinan bagi pertai-pertai politik kecil untuk dapat melakukan veto. Kekuatan semacam itu bisa menghalangi langkah-langkah efektif pemerintah, dan dapat merangsang timbulnya dictator.

Paksaan dan pengacauan merupakan teknik yang digunakan oleh kelompok minoritas untuk menciptakan perubahan kebijakan. Paksaan dapat berwujud kekerasan atau tanpa kekerasan. Paksaan tanpa kekrasan meliputi pembangkangan sipil, dan sejumlah istilah lainnya yang dikenal dengan nama tanpa perlawanan atau perlawanan tanpa kekerasan. Pengacauan sering kali digunakan oleh kelompok-kelompok kecil untuk memperoleh keringanan-keringanan dari kelompok menyoritas. Semua itu merupakan senjata yang berbahaya, yang dapat mengahsilkan kemenangan, namunvjuga merusak proses demokrasi dan memancing terjadinya tindakan penekakan. terorisme memungkinkan suatu kelompok kecil untuk memaksakan keinginannya terhadap kelompok manyoritas dengan menggunakan ancaman kekrasan. Tindakan demikian merupakan cara yang dipakai untuk mengacaukan keseimbangan pemerintahan .

Kecendrungan pengadilan dan birokrasi mengarah ke upaya memperluas (atau sesekali mempersempit) pengertian peraturan hokum dan ketetapan konstitusi di luar kehendak para pembuat peraturan hokum dan ketetapan terseut[17].

DAFTAR PUSTAKA

Barzilai, Gad. 2003. Communities and Law: Politics and Cultures of Legahkjkjl Identities. University of Michigan Press.

Forsberg, A .1995. Definitions of culture CCSF Cultural Geography course notes. New York.

Goodall, J. 1986. The Chimpanzees of Gombe: Patterns of Behavior. Cambridge, MA: Belknap Press of Harvard University Press.

Hoult, T. F., ed. 1969. Dictionary of Modern Sociology. Totowa, New Jersey, United States: Littlefield, Adams & Co.

Iskandar, jusman. 2003. Teori social. Puspaga. Bandung .

Kim, Uichol, 2001. “Culture, science and indigenous psychologies: An integrated analysis.” In D. Matsumoto (Ed.), Handbook of culture and psychology. Oxford: Oxford University Press.

Kroeber, A. L. and C. Kluckhohn, 1952. Culture: A Critical Review of Concepts and Definitions. Cambridge, MA: Peabody Museum.

O’Neil, D. 2006. Cultural Anthropology Tutorials, Behavioral Sciences Department, Palomar College, San Marco, California.

Tylor, E.B. 1974. Primitive culture: researches into the development of mythology, philosophy, religion, art, and custom. New York: Gordon Press.

UNESCO.2002. Universal Declaration on Cultural Diversity, issued on International Mother Language Day,

Reese, W.L. 1980. Dictionary of Philosophy and Religion: Eastern and Western Thought,


[1] Sanskerta adalah salah satu bahasa Indo-Eropa paling tua yang masih dikenal dan sejarahnya termasuk yang terpanjang. Bahasa yang bisa menandingi ‘usia’ bahasa ini dari rumpun bahasa Indo-Eropa hanya bahasa Hitit. Kata Sansekerta, dalam bahasa Sanskerta Sasktabhāsa artinya adalah bahasa yang sempurna. Maksudnya, lawan dari bahasa Prakerta, atau bahasa rakyat.Bahasa Sanskerta merupakan sebuah bahasa klasik India, sebuah bahasa liturgis dalam agama Hindu, Buddhisme, dan Jainisme dan salah satu dari 23 bahasa resmi India. Bahasa ini juga memiliki status yang sama di Nepal.Posisinya dalam kebudayaan Asia Selatan dan Asia Tenggara mirip dengan posisi bahasa Latin dan Yunani di Eropa. Bahasa Sanskerta berkembang menjadi banyak bahasa-bahasa modern di anakbenua India. Bahasa ini muncul dalam bentuk pra-klasik sebagai bahasa Weda. Yang terkandung dalam kitab Rgweda merupakan fase yang tertua dan paling arkhais. Teks ini ditarikhkan berasal dari kurang lebih 1700 SM dan bahasa Sanskerta Weda adalah bahasa Indo-Arya yang paling tua ditemui dan salah satu anggota rumpun bahasa Indo-Eropa yang tertua.

[2] O’Neil, D. 2006. Cultural Anthropology Tutorials, Behavioral Sciences Department, Palomar College, San Marco, California. hlm: 234

[3] Barzilai, Gad. 2003. Communities and Law: Politics and Cultures of Legahkjkjl Identities. University of Michigan Press. Hlm: 134

[4] Tylor, E.B. 1974. Primitive culture: researches into the development of mythology, philosophy, religion, art, and custom. New York: Gordon Press. First published in 1871. ISBN 978-0-87968-091-6. Hlm: 98

[5] Kim, Uichol (2001). “Culture, science and indigenous psychologies: An integrated analysis.” In D. Matsumoto (Ed.), Handbook of culture and psychology. Oxford: Oxford University Press. hlm: 156-57

[6] Manusia sebagai pencipta kebudayaan memiliki kemampuan daya sebagai berikut : Akal, intelegensia dan intuisi ,Perasaan dan emosi ,Kemauan ,Fantasi ,Perilaku

[8] Teknologi merupakan salah satu komponen kebudayaan. Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian.

[9] Forsberg, A .1995. Definitions of culture CCSF Cultural Geography course notes. New York. Hlm: 234-236

[10] Komponen utama kebudayaan : Individu ,Masyarakat ,alam

[11] Goodall, J. 1986. The Chimpanzees of Gombe: Patterns of Behavior. Cambridge, MA: Belknap Press of Harvard University Press. Hlm 233-235

[12] Hoult, T. F., ed. 1969. Dictionary of Modern Sociology. Totowa, New Jersey, United States: Littlefield, Adams & Co. hlm 156-157

[13] Kroeber, A. L. and C. Kluckhohn, 1952. Culture: A Critical Review of Concepts and Definitions. Cambridge, MA: Peabody Museum. Hlm 167-168

[15] M. Fortes mengemukakan bahwa sistem kekerabatan suatu masyarakat dapat dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan. Kekerabatan adalah unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan. Anggota kekerabatan terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek dan seterusnya. Dalam kajian sosiologiantropologi, ada beberapa macam kelompok kekerabatan dari yang jumlahnya relatif kecil hingga besar seperti keluarga ambilineal, klan, fatri, dan paroh masyarakat. Di masyarakat umum kita juga mengenal kelompok kekerabatan lain seperti keluarga inti, keluarga luas, keluarga bilateral, dan keluarga unilateral.

[16] Reese, W.L. 1980. Dictionary of Philosophy and Religion: Eastern and Western Thought, p. hlm: 488.

[17] Iskandar, jusman. 2003. Teori social. Puspaga. Bandung . hlm 210-2208

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s