TAH KITA

BAB 1

PENDAHULUAN

Materialisme adalah satu aliran filsafat yang pandangannya bertitik tolak dari materi. Materialisme memandang bahwa materi itu adalah primer, sedangkan ide ditempatkan sebagai sekundernya. Sebab materi itu timbul atau ada lebih dulu, kemudian baru ide.

Pandangannya itu berdasarkan atas kenyataan menurut proses waktu dan zat. Artinya,, Menurut proses waktu: Lama sebelum manusia yang bisa mempunyai ide itu ada atau lahir di dunia, dunia dan alam atau materi ini sudah ada lebih dahulu, Menurut proses zat: Manusia ini tidak bisa berpikir atau tidak bisa mempunyai ide tanpa ada atau tanpa mempunyai otak. Dan otak itu adalah suatu materi. Otak itu adalah materi, tapi materi atau benda yang berpikir. Otak atau materi ini yang lebih dulu ada, baru kemudian bisa timbul ide atau pikiran pada kepala manusia.

materialisme mempunyai banyak macam aliran. Dari banyak macam aliran materialisme itu terdapat tiga aliran yang besar dan pokok, yaitu materialisme mekanik, materialisme metafisik dan materialisme dialektik[1]. Ketiga asliran filsafat itu mempunyai perbedaan-perbedaan antara yang satu dengan yang lain, dan bahkan juga terdapat saling pertentangannya.

Materialisme mekanik adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya materialis, sedangkan metodenya mekanis. Ajaran materialisme mekanik ialah bahwa materi itu selalu dalam keadaan gerak atau berubah. Geraknya itu adalah gerak yang mekanis, artinya gerak yang yang tetap begitu saja selamanya seperti yang telah terjadi, atau gerak yang berulang-ulang seperti geraknya mesin yang tanpa perkembangan atau peningkatan.

Materialisme metafisik adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya materialis, sedangkan metodenya metafisis. Ajaran materialisme metafisik mengajarkan bahwa materi itu selalu dalam keadaan diam, tetap, tidak berubah selamanya. Tapi seandainya materi itu berubah, maka perubahan itu terjadi karena faktor luar atau karena kekuatan dari luar. Gerak materi itu gerak ekstern atau disebut gerak luar. Selanjutnya materi itu dalam keadaan yang terpisah-pisah, tidak mempunyai dan tidak ada saling hubungan antara yang satu dengan yang lain.

Materialisme dialektik adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya materialis, sedangkan metodenya dialektis. Ajaran materialisme dialektik mengajarkan bahwa materi itu selalu saling punya hubungan, saling mempengaruhi, dan saling bergantung antara yang satu dengan yang lain. Bukannya saling terpisah-pisah atau berdiri sendiri. Materi itu juga selalu dalam keadaan gerak, berubah dan berkembang. Bukannya selalu diam, tetap atau tidak berubah. Dalam makalah ini akan menyajikan filsafat matesia lisme dialektika historis yang dikemukakan oleh karl Mark


BAB II

PEMABAHSAN

2.1 Riwayat Hidup Karl Marx

Karl Marx lahir pada tahun 1818 di kota Trier di Jerman[2] sebagai anak seorang pengacara Yahudi yang telah menjadi Kristen Protestan. Setamat SMA pada tahun 1836, ia selama satu semester belajar ilmu hukum di kota Bonn dan selanjutnya pindah ke kota Berlin untuk belajar ilmu filsafat. Selama di Berlin ia menjadi anggota kelompok orang intelektual muda yang menamakan diri Klub Doktor. Kelompok ini sangat terpengaruh  dan mengagung-agungkan seorang pemikir aliran idealisme yaitu G.W.F. Hegel yang meninggal di Berlin pada tahun 1831.

Pada tahun 1841 Karl Marx mendapat promosi menjadi doktor filsafat di Universitas Jena dengan tesisnya yaitu filsafat Demokrit dan Epikur. Tahun berikutnya Karl Marx menduduki jabatan pemimpin redaksi di sebuah harian progresif di Köln. Jabatan ini tidak bertahan lama karena adanya sensor dari Prussia. Ia terpakasa meninggalkan Jerman dan tinggal di Paris. Pada pertengahan tahun 1843 ia menikahi seorang puteri bangsawan yang bernama Jenny von Westphalen. Di Paris Karl Marx suka bergaul dan berkenalan dengan beberapa tokoh sosialis, di antaranya dengan Friedrich Engels (1820-1895) yang selama hidupnya menjadi sahabat karibnya. Di Paris inilah ia untuk pertama kalinya bertemu dengan kaum buruh yang sungguh-sungguh[3].

Selama di Paris Karl Marx menulis beberapa karangan penting yaitu “Tentang Masalah Yahudi”, “Pengantar Kepada Kritik Filsafat Hukum Hegel”, “Naskah-Naskah Paris tentang Filsafat dan Ekonomi Nasional” dan “Keluarga Suci”

Pada tahun 1845 Karl Marx dan isterinya diusir oleh pemerintah Perancis. Mereka terpaksa pindah ke Brussel. Di Brussel mereka tinggal selama 2 tahun lebih dan selanjutnya pindah ke London. Pada tahun 1846 Karl Marx bersama Engels merumuskan pandangan materialis mereka tentang sejarah dalam sebuah karangan yang berjudul “Ideologi Jerman”. Pada permulaan tahun 1848 Karl Marx dan Engels menulis “Manifesto Komunis“ yang terkenal itu. Dua bulan  setelah “Manifesto Komunis” pecahlah di seluruh Eropa dengan apa yang dinamakan Revolusi ’48. Karl Marx memutuskan kembali ke Jerman dan mendirikan sebuah harian. Sayang, Revolusi ’48 itu gagal sehingga pada tahun 1849 Karl Marx terpaksa kembali lagi ke London dan menetap di sana untuk selamanya.

Di London pasca kegagalan Revolusi ’48, Karl Marx tidak memusatkan diri pada aksi-aksi praktis dan revolusioner. Ia kini memusatkan perhatiaannya pada hal-hal yang bersifat teoritis, khususnya pada ilmu ekonomi. Pada tahun 1857 Karl Mark mulai menulis sebuah buku yang ternyata baru bisa diterbitkan pada tahun 1883 dengan judul “Foundation of the Critique of Political Economy”. Buku setebal 1100 halaman ini berisi tentang masalah ekonomi dan perkembangan masyarakat. Pada tahun 1887 buku yang sangat terkenal dari Karl Marx yaitu “Das Kapital” jilid pertama terbit. “Das Kapital” jilid kedua dan ketiga baru diterbitkan oleh Engels setelah Karl Marx meninggal dunia.

Pada tahun 1864 partai-partai buruh nasional mendirikan Asosiasi Buruh Internasional.  Karl Marx masuk dalam anggota dewan. Di dalam asosiasi ini Karl Marx mengalami konflik dengan Mikail Bakunin dan akhirnya perselisihan itu menghacurkan eksistensi Asosiasi Buruh Internasional.

Hidup pribadi Karl Marx sangat memprihatinkan. Mereka menderita kekurangan dan kemlaratan. Dalam beberapa sumber disebutkan bahwa salah seorang anaknya mati karena kurang makan. Karl Marx tidak memiliki pendapatan yang tetap dan tidak tahu mengurus uang. Hidup keluarganya banyak disokong oleh sahabat karibnya yaitu Engel yang memiliki pabrik di Menchester[4].

Karl Marx besar adalah seorang yang keras kepala dan otoriter. Rekan-rekannya yang tidak suka dengan teorinya diserang dengan kata-kata yang bahkan menjelekkan nama dan kepribadian mereka. Ia bermusuhan dengan banyak teman sekerjanya. Hanya Engels yang sepertinya memahami dan mau menerima kepribadian Karl Marx. Di banyak buku Engels disebut sebagai sahabat karib Karl Marx. Tahun-tahun terakhir kehidupan Karl Marx sangat memprihatinkan. Ia banyak mengalami kesendirian dan kesepian. Karl Marx meninggal dunia pada tahun 1883 hanya diiringi oleh delapan orang yang berdiri di pinggir makamnya[5].

2.2 Filsafat Kalr Mark

2.2.1Materialism dialektis

“Metode dialektika saya,” tulis Marx, “bukan hanya berbeda dengan Hegel, tapi persis kebalikannya. Bagi Hegel, proses kehidupan dari otak manusia, yaitu proses berpikir, yang di bawah panji “Ide” bahkan diubahnya menjadi satu subjek yang independen, adalah inti hakikat dari dunia nyata, dan dunia nyata hanyalah sekedar bentuk “Ide” yang eksternal dan fenomenal. Bagi saya, sebaliknya, ide bukanlah apa-apa melainkan dunia nyata yang tercermin dalam pikiran manusia, dan diterjemahkan dalam bentuk-bentuk pikiran.”[6]

Hukum-hukum dialektika telah diungkapkan secara rinci oleh Hegel walaupun, dalam tulisannya, hukum-hukum itu muncul dalam bentuk yang idealis dan mistis. Marx dan Engels-lah yang pertama kali memberi basis yang ilmiah[7]

Proposisi dasar dialektika adalah bahwa segala hal berada dalam proses perubahan, pergerakan dan perkembangan yang terus-menerus. Demikian mendasarnya ide ini bagi dialektika sehingga Marx dan Engels berpendapat bahwa gerak adalah ciri paling hakiki dari materi

Beginilah Engels menyatakannya “Gerak, dalam makna yang paling luas, dipandang sebagai cara untuk mengada (mode of existence), sifat inheren, dari materi, mencakup segala perubahan dan proses yang terjadi di alam raya, dari sekedar pertukaran tempat sampai proses berpikir. Penyelidikan atas sifat gerak secara alamiah harus mulai dari yang bentuk-bentuk gerak yang paling rendah dan sederhana, dan untuk belajar memahaminya sebelum penyelidikan itu dapat mencapai penjelasan apapun mengenai bentuk-bentuk pergerakan yang lebih tinggi dan kompleks.”

Engels mendefinisikan dialektika sebagai “ilmu tentang hukum-hukum umum tentang gerak dan perkembangan alam, masyarakat manusia dan pemikiran.” Dalam Anti-Dühring dan The Dialectics of Nature, Engels memberikan satu ringkasan tentang hukum-hukum dialektika, yang dimulai dengan tiga yang paling dasar:

1) Hukum peralihan dari kuantitas menjadi kualitas dan sebaliknya

2) Hukum tentang kutub berlawanan yang saling merasuki

3) Hukum tentang negasi dari negasi[8].

a) Kuantitas dan Kualitas

Hukum peralihan dari kuantitas menjadi kualitas memiliki penerapan yang amat luas, dari partikel materi yang terkecil di tingkat sub-atomik sampai gejala paling besar yang pernah dikenal oleh manusia. Hukum ini dapat terlihat dalam segala bentuk perwujudan, dan dalam berbagai tingkatan.

Menurut Mark , perubahan dari kuantitas dapat mengakibatkan perubahan kualitas. Umpamanya, kualitas air akan berubah menjadi uap jika dipanaskan hingga 110 derajat celcius dan akan menjadi es jika air itu bersuhu 0 derajat celcius. Perubahan kuantitaitf selalu berlangsung secara kontiniu dan berangsur-angsur, atau berlangsung secara evolusi. Sedangakan perubahan dari satu kualitas kepada kualitas lainnya tidak berlangsung kontiniu dan terus menerus, akan tetapi loncatan yang terjadi sewaktu-waktu saja. Titik perubahan dari suatu kualitas kerpada kaulitas lainnya disebut revolusi[9]

b) Pertentangan Antar-Kutub (kontradiksi)

Pengkutuban adalah satu ciri alam yang selalu hadir di manapun dan kapanpun. Bukan hanya ia hadir dalam pengkutuban Utara dan Selatan di bumi. Pengkutuban juga ditemukan di matahari dan bulan dan planet-planet lain. Ia juga hadir di tingkat sub-atomik, di mana inti-inti atom berperilaku persis seakan mereka memiliki, bukan hanya satu, melainkan dua pasang kutub magnetis.

“Dialektika,” tulis Engels, “telah membuktikan dari hasil pengalaman kita akan alam sejauh ini bahwa semua kutub yang bertentangan secara umum ditentukan oleh aksi yang dilakukan oleh kedua kutub yang saling berseberangan satu terhadap yang lain, bahwa pemisahan dan pertentangan kedua kutub ini hanya hadir dalam kesalingterhubungan dan kesatuan mereka, dan, sebaliknya, bahwa kesatuan mereka hanya hadir dalam pemisahan dan kesalingterhubungan mereka hanya hadir dalam kesalingberlawanan mereka. Jika hal ini telah dipahami, tidak akan lagi ada persoalan tentang penghapusan final atas tarikan dan tolakan, atau pemisahan final antara bentuk-bentuk pergerakan pada materi di satu kutub dan bentuk-bentuk pergerakan pada materi di kutub yang lain, dan karena itu, tidak akan ada lagi persoalan tentang kesalingrasukan atau tentang pemisahan mutlak antara kedua kutub tersebut. Akan setara halnya jika kita menuntut bahwa kutub-kutub utara dan selatan magnet saling meniadakan diri mereka sendiri, atau bahwa dengan membelah sebatang magnet kita akan memperoleh satu batang dengan hanya kutub utara tanpa kutub selatan, dan satu batang dengan kutub selatan tanpa kutub utara.”[10]

Engels menunjukan peran universal dari gaya tarik dan gaya tolak “Semua gerak tersusun dari interaksi dari gaya tarik dan gaya tolak. Gerak, dengan demikian, hanya dimungkinkan ketika setiap gaya tarik diimbangi oleh gaya tolak tertentu di tempat yang lain. Kalau tidak demikian, salah satu pihak akan unggul dari yang lain dan gerak itu sendiri akan terhenti. Maka semua gaya tarik dan gaya tolak di alam semesta haruslah saling menyeimbangkan satu sama lain. Dengan demikian hukum yang mengatur bahwa gerak tidak mungkin dihancurkan ataupun diciptakan dinyatakan dalam bentuk bahwa tiap gerak tarikan dalam alam semesta harus memiliki penyeimbang gerak tolakan yang setara dan sebaliknya; atau, seperti yang dinyatakan oleh filsafat kuno – jauh sebelum perumusan ilmu-alam menyatakan hukum kekekalan gaya atau enerji: jumlah dari semua gaya tarik di alam semesta adalah sama dengan jumlah semua gaya tolak di dalamnya.”

Pada masa Engels, ide tentang gerak yang dominan diturunkan dari mekanika klasik, di mana gerak dihubungkan dengan satu sebab dari luar yang mengatasi kekuatan inersia. Engels agak sinis dengan istilah “gaya”, yang dianggapnya sepihak dan tidak cukup untuk menggambarkan proses nyata yang terjadi di alam. “Semua proses alami,” tulisnya, “selalu dari kedua belah pihak, semua berdasarkan pada setidaknya dua bagian yang bekerja, aksi dan reaksi. Pandangan tentang gaya, yang memiliki akar dari aksi organisme manusia pada dunia eksternalnya dan, lebih jauh lagi, dari mekanika terestrial, menyatakan bahwa hanya satu bagian yang aktif, yang bekerja, bagian lainnya pasif dan hanya menerima saja.”

Engels telah maju jauh melampaui jamannya ketika ia mengeluarkan kritik yang tajam atas pandangan tersebut yang telah pula diserang oleh Hegel. Dalam History of Philosophy, Hegel menyatakan bahwa “Lebih baik (untuk menyatakan) bahwa sebuah magnet memiliki jiwa (seperti yang dinyatakan Thales) daripada menyatakan bahwa dia memiliki gaya tarik; gaya adalah sejenis sifat yang, terpisah dari materi, dikemukakan sebagai sejenis predikat – sementara jiwa, di pihak lain, adalah pergerakan itu sendiri, identik dengan sifat materi itu sendiri.” Pernyataan Hegel ini, yang dikutip dengan penuh persetujuan oleh Engels, mengandung satu ide yang mendasar – bahwa gerak dan enerji adalah hal yang terkandung dalam materi itu sendiri. Materi bergerak karena kekuatan sendiri dan mengorganisir dirinya sendiri.

Bahkan kata “enerji” tidak, dalam pendapat Engels, terlalu mencukupi, sekalipun jauh lebih disukai daripada “gaya”. Penolakannya adalah bahwa “Istilah itu masih mengesankan bahwa ‘enerji’ adalah sesuatu yang berada di luar materi, sesuatu yang ditanamkan ke dalamnya. Tapi, dalam segala keadaan, istilah itu masih lebih baik dari istilah ‘gaya’.” Hubungan yang sejati telah diditunjukkan oleh teori Einstein tentang kesetaraan massa dan enerji, yang menunjukkan bahwa materi dan enerji adalah dua hal yang sama dan satu. Hal ini persis merupakan sudut pandang materialisme dialektik, seperti yang dinyatakan oleh Engels, bahkan telah diantisipasi oleh Hegel, seperti yang ditunjukkan oleh kutipan di atas[11],.

c) Negasi dari Negasi

‘Negasi’ secara sederhana berarti gugurnya sesuatu, kematian suatu benda karena ia bertransformasi (berubah) menjadi benda yang lain[12]. Sebagai contoh, perkembangan masyarakat kelas dalam sejarah kemanusiaan menunjukkan negasi (gugurnya) masyarakat sebelumnya yang tanpa-kelas. Dan di masa yang akan datang, dengan adanya perkembangan komunisme, kita akan mendapati suatu masyarakat tanpa-kelas yang lain, yang ini akan berarti negasi terhadap semua masyarakat kelas yang ada sekarang[13].

Jadi, hukum negasi dari negasi secara sederhana menyatakan bahwa seiring munculnya suatu sistem (menjadi ada/eksis), maka ia akan memaksa sistem lainnya untuk sirna (mati). Tetapi, ini bukan berarti bahwa sistem yang kedua ini bersifat permanen atau tak bisa berubah. Sistem yang kedua itu sendiri, menjadi ter-negasi-kan akibat perkembangan-perkembangan lebih lanjut dan proses-proses perubahan dalam masyarakat. Karena masyarakat kelas telah menjadi negasi dari masyarakat tanpa-kelas, maka masyarakat komunis akan menjadi negasi dari masyarakat kelas – negasi dari negasi.

Konsep lainnya dari dialektika adalah hukum ‘interpenetration of opposites’ (saling-menerobos dari hal-hal yang bertentangan). Hukum ini secara cukup sederhana menyatakan bahwa proses-proses perubahan terjadi karena adanya kontradiksi-kontradiksi – karena konflik-konflik yang terjadi diantara elemen-elemen yang berbeda, yang melekat dalam semua proses alam maupun sosial.

setiap masyarakat saat ini terdiri atas elemen-elemen berbeda yang bertentangan, yang bergabung bersama dalam satu sistem, yang membuat mustahil bagi masyarakat apapun, di negeri manapun untuk tetap stabil dan tak berubah.

Kaum marxis mengatakan bahwa terdapat elemen-elemen yang bertentangan dalam setiap proses sosial. Sebaliknya, justru dengan mengenali dan memahami kepentingan-kepentingan yang bertentangan, yang terdapat dalam proses yang sama itu, maka kita akan mampu untuk mengarahkan perubahan yang diinginkan, dan konsekuensinya juga berusaha untuk mengidentifikasi maksud dan tujuan yang perlu dan mungkin dalam situasi seperti itu untuk dirumuskan dari sudut pandang kelas-pekerja. [14]

2.2.2 Materialisme Historis

a. Produksi dan Komunikasi Manusia

Manusia adalah binatang yang unik, baik karena kualitas fisiknya maupun karena kelemahan fisiknya. Di satu sisi, manusia memiliki postur tubuh yang berdiri tegak, dua buah tangan dengan sebuah jempol yang bebas dan fleksibel, mata menonjol yang dapat digunakan untuk melihat jauh dan tajam, lidah, tenggorokan dan pita suara yang memungkinkannya mengeluarkan berbagai bunyi-bunyian secara terpisah maupun secara terpadu. Dan manusia juga memiliki kulit otak yang sudah tinggi perkembangannya, cuping otak yang menonjol keluar dan belitan-belitan serebral, selubung batok kepala, dan permukaan wajah yang menyusut, yang memungkinkan kesemua perkembangan di dalam diri manusia. Semua kualitas fisik tersebut tak pelak lagi berguna bagi pembuatan alat-alat secara tekun dan hati-hati. Kualitas fisik ini secara progresif telah disempurnakan bersamaan dengan semakin sempurnanya alat-alat dan kerja produktif manusia.

Manusia tidak dapat bertahan hidup atau bisa menjamin subsistensinya secara individual tanpa bekerjasama dengan anggota lain dalam spesiesnya. Organ-organ firiknya terlalu sedikit berkembang untuk membuat mereka bisa memperoleh bahan makanan secara langsung. Dengan bantuan alat, manusia harus memproduksi bahan makan itu secara kolektif untuk bisa mempertahankan dan menyempurnakan organ-organnya. Produksi tersebut dijamin melalui tindakan komunal oleh sekelompok manusia. Oleh karena itu, bayi manusia diintegrasikan ke dalam kelompok dan belajar tentang aturan-aturan dan teknik-teknik bertahan hidup sebagai anggota kelompok melalui teknik sosialisasi yang maju.

Organisasi sosial manusia dan sosialisasi bayi-bayi manusia menuntut adanya bentuk komunikasi di antara anggota-anggota kelompok yang secara kualitatif lebih unggul dari bentuk komunikasi di antara spesies binatang lainnya. Bentuk bahasa yang lebih unggul ini, yang berkaitan dengan perkembangan kulit otak, memungkinkan pertumbuhan kapasitas abstraksi dan belajar -yaitu, konservasi, transmisi dan akumulasi pelajaran-pelajaran dari pengalaman. Bentuk superior ini juga memungkinkan diproduksinya konsep-konsep, pikiran, dan kesadaran. Di sinilah, ciri-ciri kemanusiaan yang berbeda-beda tersebut -yang adalah ’sifat antropologis’ kita-saling berkait satu sama lain

Manusia adalah binatang sosial yang mengembangkan bahasa, yang menyimpan kesan-kesan dan bayangan-bayangan berturut-turut, serta mampu menggunakan dan menyempurnakan diri untuk tujuan-tujuan praktis, belajar, mengantisipasi keadaan, berpikir, mengabstraksi, menggunakan imajinasi dan rekaan.

Interaksi, perpaduan dari ciri-ciri ini bersifat sangat menentukan. Ada primata seperti manusia yang menggunakan alat-alat dan bahkan kadang-kadang melampui tingkat perkembangan elementer mereka yang biasanya. Ada beberapa spesies yang bisa tahu bentuk-bentuk kerjasama kolektif secara instingtif. Dan masih ada banyak spesies, yang tampak punya bentuk komunikasi elementer. Tapi spesies manusia adalah satu-satunya yang secara progresfi membuat alat-alat dengan cara yang lebih terencana, menyempurnakanya setelah mereka dapat memahaminya dengan sadar berdasarkan pengalaman berturut-turut, yang juga dialihkan ke pihak lain sebagai hasil dari semakin banyaknya dan semakin sempurnya komunikasi. Pada akhirnya, perkembangan alat-alat membebaskan mulut. Mulut menyempurnakan bahasa dan kemampuan abstraksi, yang pada gilirannya memungkinkan alat-alat diperbaiki dan alat-alat baru ditemukan. Tangan mengembangkan otak, yang dengan memperbaiki penggunaan otak bisa menciptaakan kondisi-kondisi bagi perbaikan otak itu sendiri.

Meskipun transformasi pirmata anthropoid menjadi manusia dikondisikan oleh keberadaan suatu infrastruktur anatomis dan neurologis, tetapi transformasi itu tidak bisa dipandang hanya dikarenakan infrastruktur ini saja. Dialektika ‘produksi/komunikasi’ menciptakan kemungkinan perkembangan yang tak terbatas dalam menghasilkan, menemukan, dan menyempurnakan alat-alat. Oleh karenanya dalam proses produksi, manusia menciptakan kemungkinan perkembangan tanpa batas dalam pengalaman hidupnya, belajar dan mengantisipasi dan karenanya memungkinkan kekenyalan dan adaptabilitas spesies manusia tanpa batas secara praktis. Wujud masyarakat manusia secara material dan kultural merupakan sifat kedua dari transformasi tersebut.

Dialektika ‘produksi atau komunikasi’ menguasai seluruh kondisi hidup manusia. Segala sesuatu pada orang-orang dilakukan ‘dengan melewati kepalanya’. Produksi manusia itu berbeda dari cara binatang memperoleh makanan. Hal ini terutama karena kegiatan itu tidak merupakan kegiatan yang murni instingtif. Secara umum, kegiatannya merupakan realisasi sebuah ‘rencana’ yang pertama tumbuh di kepala manusia. Tentu saja, ‘rencana’ ini bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Rencana itu adalah reproduksi atau pemaduan kembali otak oleh manusia, semua elemen dan masalah dalam kegiatan mereka itu yang memang tidak terhindarkan dalam kelangsungan hidup manusia, yang telah dialami dan diserap oleh otak beribu-ribu kali dalam pengalaman hidup. Tapi di sisi lain, kemampuan untuk memadukan kembali konsep-konsep yang pada akhirnya lahir dari praksis sosial memungkinkan kemanusiaan untuk menemukan, mengantisipasi, membayangkan perubahan-perubahan di alam dan masyarakat, yang sebelumnya belum pernah terjadi dan hanya hipotesis sifatnya atau paling tidak sebagian akan diwujudkan karena kegiatan antisipasi ini. Materialisme historis adalah ilmu masyarakat manusia yang pada dasarnya mencoba memperhatikan dan menerangkan dialektika produksi atau komunikasi ini.

b. Basis Sosial dan Superstruktur

Tiap masyarakat manusia harus menghasilkan supaya tetap hidup. Produksi subsistensi –dalam pengertian luas atau sempit dapat ditafsirkan sebagai sekedar pemuasan kebutuhan makan maupun pemuasan seluruh kebutuhan yang diakui secara sosial-dan pembuatan perangkat serta benda-benda kerja yang dibutuhkan untuk produksi ini merupakan kondisi awal bagi tiap organisasi atau aktivitas sosial yang lebih kompleks.

Materialisme historis menyatakan bahwa cara manusia mengorganisir produksi materialnya merupakan dasar dari seluruh organisasi sosial. Dasar ini pada gilirannya menentukan semua kegiatan sosial lainnya – pengaturan hubungan antara kelompok manusia (terutama muncul dan berkembangnya negara), pengaturan produksi spiritual, moral, hukum, agama, dan sebaginya. Apa yang umum disebut kegiatan superstruktur ini dalam satu atau lain cara, selalu tetap mengacu pada basis.

Materialisme historis tidak lain menegaskan bahwa produksi maerial (’faktor ekonomi’) secara langsung dan segera menentukan isi dan bentuk apa yang disebut sebagai kegiatan superstruktur. Lebih lagi, basis sosial tidak sekedar semacam aktivitas produksi, bahkan ‘produksi material’-nya tidak terisolasi. Yang dibentuk orang dalam produksi kehidupan material mereka adalah hubungan sosial.

Kegiatan-kegiatan di tingkat superstruktural tidak sesegera itu tumbuh dari hubungan sosial produksi. Hanya pada akhirnya saja mereka ditentukan oleh hubungan sosial produksi. Oleh karenanya serangkaian perantara ikut campur mengantarai dua tingkat kegiatan sosial itu.

basis sosial itu menentukan fenomena dan kegiatan di tingkat superstruktur, maka superstruktur ini dapat juga melakukan tindakan kembali pada basis. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan diberikan satu gambaran. Negara pada dasarnya selalu memiliki watak kelas yang tepat dan berhubungan dengan basis sosio-ekonomi tertentu. Tapi, untuk sebagian, negara bisa memodifikasi basis itu. Jika selama beberapa abad untuk menyelamatkan kebangsawanan feodal dari kehancuran ekonomi tertentu dilakukan suatu cara dengan mengeruk pajak dari kelas-kelas sosial lain, maka itu berarti negara monarki absolut (dari abad ke-16 sampai abad ke-18 di Eropa) dengan penuh kuasa telah membantu digantikannya mode produksi feodal dengan mode produksi kapitalis dengan cara mengembangkan merkantilisme, kolonialisme, mendorong manufaktur, sistem moneter nasional, dan lain-lain.

Ada beberapa alasan mengapa kegiatan-kegiatan di tingkat superstruktur pada akhirnya ditentukan oleh basis sosialnya. Mereka yang mengontrol produksi material dan produksi surplus sosial juga menjamin keberlangsungan mereka yang hidup dari produk surplus sosial. Apakah ideolog, seniman, dan ilmuwan itu menerima atau menolak ketergantungan tersebut, tetapi produksi surplus masih menentukan kerangka kegiatan mereka. Hubungan sosial produksi karenanya mengandung konsekuensi-konsekuensi yang berkaitan dengan bentuk-bentuk kegiatan di lingkaran superstruktural, yang juga merupakan suatu pengkondisian. Hubungan produksi dipersatukan oleh bentuk-bentuk komunikasi yang dominan di masing-masing masyarakat, yang mendorong tampilnya struktur mental dominan yang mengkondisikan bentuk-bentuk berpikir dan penciptaan artistik.

c. Produksi Material dan Produksi Pikiran

Produksi material adalah obyek fundamental aktivitas di tingkat basis sosial. Produksi ideologis (filsafat, agama, peradilan, politik, dan sebagainya) adalah obyek fundamental aktivitas di tingkat superstruktur sosial. Empat tingkatan ketergantungan dan hubungan timbal-balik

  1. Semua produksi pikiran dalam satu atau lain cara berkait dengan proses kerja material. Proses produksi ini selalu beroperasi serentak bersama infrastruktur materialnya itu sendiri. Beberapa hasil seni pada awal adalah hasil langsung kerja material (fungsi magis dari lukisan primitif; asal-muasal tarian yang merupakan formalisasi gerak berproduksi; masuknya lagu-lagu ke dalam kegiatan produksi; .) Revolusi teknologi secara mendalam mempengaruhi produksi ideologis, ilmu geometri, astronomi, hidrografi, biologi dan kimia berkembang dalam hubungan yang erat dengan irigasi di pertanian, pengembangan pemeliharaan ternak, dan perkembangan metalurgi.
  2. Semua produksi pikiran bergerak maju mengikuti sebuah dialektika internal yang sesuai dengan proses sejarahnya sendiri. Setiap filsuf, pengacara, pendeta atau ilmuwan mulai sebagai seorang murid. Melalui kegiatan studi, mereka menggunakan berbagai tingkat konsep-konsep (atau sistem konsep-konsep) yang diproduksi oleh generasi sebelumnya dan diwariskan ke generasi-generasi sebelumnya dan diwariskan ke generasi berikutnya. Para penghasil pikiran memperlakukan dengan hati-hati, mengubah di sana-sini, menyesuaikan atau merombak konsep-konsep atau hipotesis dari suatu kerja, sesuai dengan prosedur produksi yang mereka ambil atau mereka temukan dalam kerangka dialektik yang sesuai dengan kegiatan mereka. Tiap generasi baru selalu menolak jawaban atas persoalan yang muncul dari subyek yang menjadi bidang perhatian mereka. Kadang-kadang mereka menemukan persoalan baru (yang kemudian menuntut suatu jawaban ‘revolusioner’: revolusi yang filosofis, artistik, ilmiah, dan sebaginya.) atau mengemukakan kembali persoalan yang sudah dibuang oleh generasi sebelumnya.
  3. Tapi perubahan-perubahan dalam memperlakukan konsep, bentuk-bentuk keindahan, hipotesa ilmiah, tidak terjadi dengan cara yang serampangan, apapun kondisi sosio-historisnya. Perubahan itu didorong, dikondisikan atau yang paling akhir dimajukan oleh kebutuhan dan konteks sosio-ekonomik. Evolusi dari animisme ke monoteisme tidak terjadi di suatu komunitas primitif kecil yang kegiatan produksinya terbatas pada berburu dan mengumpulkan bahan makanan. Teori ilmiah tentang nilai kerja tidak bisa disempurnakan sebelum munculnya kapitalisme modern. Perkembangan fisika mekanik erat berkait dengan perkembangan mesin-mesin, yang kemudian berkait dengan kebutuhan sosial yang khusus.

Transformasi besar dalam produksi pikiran ini juga berkaitan dengan struktur mental khusus yang telah ditentukan oleh struktur sosialnya. Jadi bukan karena kebetulan maka semua usaha besar revolusi sosial dan politik di abad ke-13 sampai ke-17 diekspresikan dalam bentuk ideologis perjuangan agama, yang membuat agama mencapai tempat utama dalam superstruktur masyarakat feodal. Dengan cara yang sama, sejak pertengahan kedua abad ke-16 dan selanjutnya, bangkitnya borjuis modern menciptakan struktur mental yang menempatkan otonomi individual, persamaan kedudukan secara resmi dan persaingan pemilikan pribadi komoditi ke dalam semua wilayah produksi pikiran (teori hak-hak alamiah, konsep pendidikan humanis, filsafat idealis Jerman, cetak gambar dan lukisan sesuatu yang masih hidup, liberalisme politik, ekonomi politik klasik,)

  1. Evolusi produksi spiritual itu akhirnya ditentukan oleh pertikaian antara kepentingan-kepentingan sosial. Sudah menjadi fakta umum dikenal bahwa karya-karya ensiklopedis, polemik-polemik Voltaire, filsafat Jean-Jacques Rousseau dan karya-karya kaum materialis abad ke-18 telah menjadi senjata bagi borjuis manufaktur yang tengah tumbuh untuk digunakan melawan monarkhi absolut yang dekaden dan sisa-sisa masyarakat feodal yang sudah usang.

Pernyataan tersebut di atas tidak mengakibatkan munculnya gagasan tentang adanya ‘persekongkolan terorganisir’ antara kelas-kelas sosial yang berbeda dengan para penghasil pikiran secara individual, atau gagasan tentang adanya keterlibatan terencana sebagian penghasil pikiran ini yang menyusun proyek-proyek politik dengan gamblang. Kesemua itu merefleksikan suatu korelasi obyektif yang dapat, dan kadang-kadang secara subyektif dianggap, ada hubungan langsung meskipun ini tidak harus kasuistik. Penghasil pikiran dapat menjadi alat kekuatan sosial tanpa disadarinya. Keadaan hanya menegaskan bahwa eksistensi sosial lah yang menentukan kesadaran, dan bahwa kepentingan kelas yang ada itulah yang menugaskan fungsi-fungsi tertentu dari ideologi tertentu dalam struktur dan evolusi tiap masyarakat.

d. Kekuatan Produktif, Hubungan Sosial Produksi dan Mode Produksi

Tiap manusia-pembuat produk adalah hasil perpaduan tiga elemen: obyek kerja, langsung atau tidak langsung yaitu bahan mentah yang dihasilkan alam; instrumen kerja, yaitu alat produksi yang diciptakan manusia apapun tingkat perkembangannya (dari penggunaan tongkat kayu pertama dan batu yang diasah sampai mesin-mesin otomatis yang paling canggih saat ini); subyek kerja -yaitu produsen. Karena dalam pengulasan terakhir kerja selalu bersifat sosial, maka subyek kerja secara tak terelakkan termasuk ke dalam hubungan sosial produksi.

Tapi meski obyek kerja dan instrumen kerja adalah elemen-elemen yang tak terhindarkan di semua produksi, hubungan sosial produksi tidak dapat dipahami dalam bentuknya yang ‘nyata’ -hubungan ini tidak seharusnya dilihat sebagai hubungan antara benda-benda, atau antara orang dengan benda. Hubungan sosial produksi mempersoalkan hubungan di antara orang-orang, dan hanya hubungan antar orang. Hubungan sosial produksi menyeret keseluruhan hubungan yang dibangun orang di antara mereka sendiri dalam produksi kehidupan material mereka. ‘Keseluruhan hubungan’ tidak hanya berarti hubungan ‘menjelang produksi’, tapi juga hubungan yang ada dalam sirkulasi dan pembagian berbagai elemen produk sosial yang tak terhindarkan berkait dengan produksi material (khususnya cara dimana obyek kerja dan instrumen kerja langsung sampai di tangan produsen , cara dimana para produsen itu mengatasi subsistensinya,

Secara umum, hubungan produksi yang ada berkait pada tingkat perkembangan kekuatan produktif yang ada, pada pencanggihan (jumlah) alat produksi yang ada. Di zaman alat-alat batu yang paling sederhana, maka sukar sekali mempertahankan komunisme primitif dari suatu kumpulan atau suku. Pertanian berbasis irigasi dengan bantuan alat-alat besi telah menciptakan surplus produksi luar biasa dan permanen yang memungkinkan tumbuhnya masyarakat berkelas (masyarakat perbudakan, masyarakat yang didasarkan pada mode produksi asiatik,). Pertanian didasarkan pada rotasi tanaman tiga tahun sekali, pada akhirnya menciptakan fondasi material masyarakat feodal. Lahirnya mesin uap dengan pasti menjamin bangkitnya kapitalisme industrial modern. Sukar membayangkan terjadinya otomatisasi yang meluas tanpa mengenyahkan produksi komoditi dan ekonomi uang di luar bentuk masyarakat sosialis yang mantap dan berkembang penuh.

Daripada melihat saling keterkaitan mereka dalam suatu hubungan mekanik, maka dalam banyak hal dialektika antara kekuatan produktif dan hubungan sosial produksi lebih menentukan pergantian zaman-zaman besar dalam sejarah manusia. Tiap perkembangan mode produksi selalu melalui fase-fase berturutan, kelahiran, pertumbuhan, pematangan, kemerosotan, kejatuhan dan lenyapnya. Dalam mengulas akhirnya fase-fase ini tergantung pada cara bagaimana hubungan produksi, yang awalnya baru, kemudian mengkonsolidasi, kemudian dalam suatu krisis, secara progresif menguntungkan, memungkinkan atau menghalangi pertumbuhan kekuatan produktif. Artikulasi antara dialektika ini dan perjuangan kelas didasarkan pada fakta sejarah. Hanya melalui aksi sebuah atau beberapa kelas sosial maka seperangkat hubungan produksi yang ada bisa diperkenalkan, diubah atau dibuang.

Tiap formasi sosial, yaitu tiap masyarakat di dalam sebuah negara, dalam suatu zaman, selalu dicirikan oleh totalitas hubungan produksi. Sebuah formasi sosial tanpa hubungan produksi dapat menjadi sebuah negara tanpa pekerja, produksi atau subsistensi – yaitu negara tanpa penduduk. Tapi tiap totalitas hubungan sosial produksi tidak segera mengakibatkan tampilnya keberadaan mode produksi yang stabil atau homogennya hubungan sosial produksi ini.

Mode produksi yang stabil adalah totalitas hubungan produksi yang direproduksi kurang lebih secara otomatis oleh berfungsinya ekonomi secara aktual, oleh pola normal reproduksi kekuatan produksi, bersama suatu peran faktor-faktor tertentu yang saling terkait (kurang lebih penting) dari superstruktur sosial. Ini adalah kasus yang berabad-abad terjadi di banyak negara dengan mode produksi asiatik, perbudakan, feodal dan kapitalis. Ini adalah kasus yang beribu-ribu tahun terjadi pada mode produksi komunis kesukuan. Artinya, sebuah mode produksi adalah strukutr yang tidak dapat secara fundamental diubah oleh evolusi, penyesuaian, atau reformasi itu sendiri. Logika internalnya hanya dapat dilampaui jika mode produksi itu dienyahkan.

e. Keterasingan dan Pembebasan

Selama beribu tahun manusia hidup dalam ketergantungan kuat pada kekuatan alam yang tak dapat dikendalikannya. Manusia hanya dapat mencoba menyesuaikan diri pada lingkungan pergaulan yang ada secara alamiah. Masing-masing kelompok kecil manusia menyesuaikan diri pada kelompoknya sendiri. Manusia adalah yang terpenjara dalam suatu horison yang sempit dan terbatas, meskipun beberapa masyarakat primitf dapat mengembangkan potensi tertentu yang dimiliki oleh manusia dalam cara yang luar biasa (misalnya, lukisan paleolitik).

Dalam perkembangan kekuatan produksi yang bertahap, sedikit demi sedikit manusia mengatur dirinya untuk membalik hubungan ketergantungan absolut itu. Manusia makin lama makin berhasil menundukkan kekuatan alam, mengendalikannya, menjinakkannya, menggunakannya secara sadar untuk meningkatkan produksi, membuat variasi kebutuhan, mengembangkan potensi manusia dan memperluas hubungan sosial sehingga akhirnya merangkul dan mempersatukan sebagian manusia di tingkat dunia.

Tapi makin banyak orang membebaskan dirinya sendiri dalam hubungannya dengan kekuatan alam, mereka makin mengasingkan diri dalam hubungannya dengan organisasi sosialnya sendiri. Ketika kekuatan produksi tumbuh, ketika produksi material mengalami kemajuan, ketika hubungan produksi menjadi hubungan dari suatu masyarakat yang terbagi dalam kelas-kelas, massa manusia tak lagi mengendalikan keseluruhan produksinya atau keseluruhan aktivitas produktifnya. Karenanya ia tak lagi mengontrol keberadaan sosialnya sendiri. Dalam masyarakat kapitalis, kehilangan kendali semacam ini menjadi sepenuhnya. Setelah bebas dari penaklukan oleh kehendak alam, manusia kelihatan ditakdirkan untuk menjadi sasaran kehendak organisasi sosialnya sendiri[15].

2.3 Pengaruh

Sedemikian besar pengaruh pemikiran karl Mark dalam sejarah umat manusia, maka tidak berlebihan bila ia dimasukan sebagai salah satu filusuf, sosiolog dan ahli ekonomi terkemuka abad ke -19 pola pemikiran Mark juga dimasukan sebagai satu diantara tiga monument besar filsafat yang pernah ada sekitar aad ke -18 dan abad ke-20, yaitu monument Decartes dan Jhon Locke serta monument Kant dan Hegel[16]. Jika para filusuf hanya mampu mempunyai persepsi tentang dunia, maka filsafat Mark lebih diletakan untuk mengubah dunia. Bahkan sebagai sebuah ideology perjuan politis, pemikiran Karl Mark menyemangati sebagian gerakan kaum buruh sejak akhir abad ke-19 dan dalam abad ke-20 yang banyak mendasari kebanyakan gerakan pembebasan sosial.

Pemikiran Mark tidak hanya berkutat pada persoalan politis ideologis perjuangan kaum buruh (sebagai ideology perjuangan), tetapi menyebar luas kedalam struktur kognisi masyarakat dalam pembentukan teori-teori ilmu pengetahuan[17]. Hampir sebagian besar filusuf modern abad ke-20 yang berkonsentrasi dalam bidang ekonomi, politik, sosiologi dan kebudayaan, terpengaruh oleh Mark. Tampilnya para pemikir dalam mazhab frankfrut di Jerman yang memproklamirkan diri sebagai neo-Marxism, yang dikomandani oleh Adorno, Max Hokheimer, dan mencapai puncaknya pada masa Jurgen Habermas, yang sangat berpengaruh dalamkonstelasi ilmu-ilmu sosial adalah refresentasi kuatnya pengaruh pemikiran Mark . Di bidang politik Antonio Gramci dengan teori Hegemoninya juga memeprlihatkan pengaruh Mark atas dirinya, bahkan ada George Lukacs dengan realisme sosial-nya yang mengklaim sebagai neo marxis di bidang kesenian.

Pengaruh pemikiran Mark dalam bidang ilmu pengetahuan, terutama sosiologi, ekonomi, dan politik, bahkan kebudanyaan, sesungguhnya bermakna bahwa pemikiran Mark secara eksplisit tidak mengintrodusir dan menkonstatir konsep mengenai epitimologi atau filsafat pengetahuan, tetapi secara implicit, dari keseluruhan konspsi filsafatnya, bangunan dasar efistimologinya terlihat jelas, apalagi ketika Mark mencoba memahami alam kehidupan melalui pendekatan materialism dialektis sebagai sebuah paradigm, maka struktur dasar pengetahuan yang muncul pun selalu diletakan pada pemahaman atau asumsi Mark tentang dunia (alam kehidupan) ini

Pemaknaan paradigm amterialis dialektis yang demikian berpengaruh pada berbagai bentuk pemikiran ilmuan atau filusuf sesudah Mark. Banyak dari pemikir besar dunia, sesudah Mark , mencoba mengembangkan seluruh paradigma pemikiran dalam fram materialis (materialism dilektis). Artinya segala sesuatu terjadi di dunia ini merupakan kenyataan objektif yang muncul merupakan bentuk dialektika dan harus bisa di jelaskan melalui hukum-hukum fisik. Penjelasan atas kenyataan objektif melalui paradigma materialism dialektis tersebut diakui atau tidak diakui menjadi titik awal kebangkitan ilmu-ilmu modern, terutama bagi ilmu-ilmu sosial.

Dalam perseftif historis, prinsip-prinsip materialism ini telah membangkitkan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan modern di akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18sesudah zaman renaisans. Kebangkitan ilmu modern , dengan penemuan dan penciptaan teknologi modern, sesungguhnya banyak berwal dari sebuah asumsi awal bahwa keseluruahan kenyataan objektif yang secara emperik terjadi harus dapat di jelaskan melalui pendekatan mekanik dan hukum-hukum fisik. Melalui pendekatan tersebut, maka kejadian-kejadian dan perubahan-perubahan di dunia yang selama ini belum bisa dijelaskan pada akhirnya dapat dipaparkan melalui bukti-bukti empiris-logis-ilmiah[18].

BAB III

ANALISIS DAN KESIMPULAN

3.1 Analisis

Sumbangan karl Mark secara filusofis adalah sumbangannya dalam pendekatan historis terhadap dalil-dalil yan diajukannya[19]. Telah secara umum diterima bahwa Mark mengambil bentuknya dari tiga akar pokok. Salah satu dari akar itu ialah analisis tentang politik Perancis, khususnya revolusi borjuis di Perancis tahun 1790-an, Akar lain dari pemkiran Mark adalah apa yang disebut ‘ekonomi Inggris’, yaitu analisis Marx tentang sistem kapitalis seperti yang berkembang di Inggris. Akar ketiga pemikiran Mark yang menurut sejarahnya merupakan titik permulaan pemikiran Mark , adalah ‘filsafat’ Jerman,

Basis Pemikiran karl Mark adalah materialisme. Maksudnya, Pemikiran karl Mark dimulai dengan ide bahwa materi adalah esensi dari semua realitas, dan bahwa materi membentuk akal, dan bukan sebaliknya.

Dengan kata lain, pikiran dan segala sesuatu yang dikatakan berasal dari pikiran – misalnya ide-ide tentang seni, hukum, politik, moralitas, dan sebagainya – hal-hal ini pada kenyataannya berasal dari dunia material. ‘Akal’, yaitu pikiran dan proses berpikir, adalah sebuah produk dari otak; dan otak itu sendiri, yang berarti juga ide-ide, muncul pada suatu tahap tertentu dari perkembangan materi hidup. Jadi, akal adalah produk dari dunia material.

Oleh karena itu, untuk memahami sifat sesungguhnya dari kesadaran dan masyarakat manusia, sebagaimana diungkapkan oleh Marx , persoalannya adalah “bukan berangkat dari apa yang dikatakan, dikhayalkan, atau dibayangkan oleh manusia ”agar sampai pada yang namanya manusia dengan bentuk seperti sekarang; melainkan berangkat dari manusia riil (nyata) dan aktif, dan berdasarkan basis proses-kehidupan riil manusia yang menunjukkan perkembangan refleks-refleks dan gaungan-gaungan ideologis dari proses kehidupan ini. Bayangan-bayangan yang terbentuk dalam otak manusia adalah juga gambaran-gambaran dari proses-kehidupan material, yang secara empiris dapat dibuktikan kebenarannya dan terikat pada premis-premis (dalil) material. Jadi, moralitas, agama, metafisika, dan segala macam ideologi serta bentuk-bentuk kesadaran yang berhubungan (serupa) dengan itu, tidaklah independen (bebas). Moralitas, agama, metafisika, dan segala macam bentuk ideologi itu tidak memiliki sejarah, tidak memiliki perkembangan; tetapi manusia, yang mengembangkan produksi material dan hubungan material-nya, mengubah – seiring dengan eksistensi riil-nya – pemikiran dan produk-produk pemikirannya. Kehidupan tidak ditentukan oleh kesadaran, tetapi kesadaran ditentukan oleh kehidupan. Dalam metode pendekatan pertama (non materialis), starting point (titik mula)nya adalah kesadaran yang dianggap sebagai individu hidup; dalam metode pendekatan kedua (materialis), yang menyesuaikan diri (terhadap keadaan material) adalah individu-individu hidup riil itu sendiri, sedangkan kesadaran dianggap hanya sebagai kesadaran mereka.” [20]

Karena itu, seorang materialis selalu berusaha mencari penjelasan bukan hanya tentang ide-ide, melainkan juga tentang gejala-gejala material itu sendiri, dalam hal sebab-sebab material, dan bukan campur tangan supranatural oleh Tuhan, Dewa, atau yang semacam itu. Dan ini adalah aspek yang sangat penting dari Pemikiran karl Mark , yang secara tegas menolak metode-metode pemikiran dan logika yang telah mapan dalam masyarakat kapitalis.

Perkembangan pemikiran ilmiah di negeri-negeri Eropa pada abad ke-17 dan 18 menunjukkan ciri-ciri yang sangat kontradiktif (bertentangan), yang masih tetap khas (serupa) dengan pendekatan para teoritisi borjuis masa kini. Di satu sisi, terdapat perkembangan ke arah metode materialis. Para ilmuwan mencari sebab-sebab. Mereka tidak semata-mata menerima gejala-gejala alam sebagai keajaiban Tuhan, melainkan mencari penjelasan atas gejala-gejala tersebut. Namun seiring dengan itu, para ilmuwan ini tidak memiliki pemahaman materialis yang konsisten dan menyeluruh; dan seringkali, dibalik penjelasan-penjelasan tentang gejala alam, ujung-ujungnya mereka masih mencari kaitannya dengan campur tangan Tuhan dalam proses itu.

Pendekatan seperti itu berarti menerima, atau setidaknya membuka kemungkinan, bahwa dunia material yang kita diami ini dibentuk oleh kekuatan dari luar dunia, dan bahwa kesadaran atau ide-ide muncul lebih dahulu, yaitu dalam hal bahwa kesadaran atau ide-ide bisa eksis (ada) secara independen (tidak terikat) pada dunia riil. Pendekatan ini, yang merupakan lawan filosofis dari materialisme, kita sebut ‘idealisme’.

Menurut pendekatan idealis ini, perkembangan umat manusia dan masyarakat – baik seni, ilmu pengetahuan, dan lain lain. – ditentukan bukan oleh proses material, melainkan oleh perkembangan ide-ide, oleh penyempurnaan atau turun-temurunnya pemikiran manusia. Dan bukanlah kebetulan belaka bahwa pendekatan umum ini, dinyatakan atau tidak, ternyata menyelimuti semua filsafat kapitalisme. Para filosof dan sejarawan borjuis secara umum menerima sistem yang ada sekarang secara apa adanya. Mereka menerima bahwa kapitalisme adalah suatu sistem yang telah lengkap dan tuntas, yang tidak bisa digantikan dengan sebuah sistem yang baru dan lebih maju. Dan mereka berusaha untuk menjelaskan semua sejarah masa lalu sebagai usaha dari umat manusia yang belum maju untuk mencapai semacam ‘masyarakat yang sempurna’, hal mana mereka yakin bahwa kapitalisme telah mencapainya atau bisa mencapainya.

Jadi, jika mempelajari karya dari beberapa ilmuwan atau pemikir besar borjuis di masa lalu atau bahkan masa sekarang, kita dapat melihat betapa mereka cenderung untuk mencampur-adukkan ide-ide materialis dan ide-ide idealis dalam pikiran mereka. Isaac Newton, misalnya, yang telah meneliti hukum-hukum mekanik, pergerakan planet, dan benda-benda planet, tidak percaya bahwa proses-proses ini ditentukan oleh akal atau pikiran. Namun apa yang dia percaya ialah bahwa tenaga penggerak awal diberikan kepada semua materi, dan bahwa dorongan awal ini ditentukan oleh semacam kekuatan supranatural, yakni oleh Tuhan[21].

Hal yang serupa, adalah mungkin bagi banyak ahli biologi saat ini untuk menerima ide bahwa spesies tumbuhan dan hewan berevolusi dari satu jenis menjadi jenis lainnya, dan bahwa manusia sendiri adalah hasil perkembangan dari spesies terdahulu. Namun demikian, banyak diantara mereka yang terpaku pada gagasan bahwa terdapat suatu perbedaan kualitatif antara akal manusia dengan akal hewan, yakni bahwa ada ‘jiwa abadi’ yang meninggalkan tubuh manusia setelah kematiannya. Bahkan beberapa di antara ilmuwan yang paling termahsyur juga mencampuradukkan metode materialis dengan ide-ide idealis seperti ini, yang – kalau bicara secara ilmiah – ini sungguh-sungguh terbelakang, serta lebih dekat kepada magis dan takhayul ketimbang ilmu pengetahuan.

Karena itu, Pemikiran karl Mark mewakili pertentangan yang sistematis dan fundamental dengan idealisme dalam segala bentuknya, dan perkembangan Pemikiran karl Mark mencerminkan suatu pemahaman materialis tentang apa yang tengah terjadi dalam realitas (kenyataan)[22].

3.2 Kesimpulan

Konsepsi filsafat Mark terbentuk melalui penerapan paradigm materialisme dialetis dan histrosis dalam mengintrodusir suatu pemahaman bahwa dunia selalu berada dalam proses perkembagan yang dialektis, yakni penerimaan dan penolakan. Dalam proses dialektis ini, terkandung unsure-unsur saling bernegasi (mengingkari dan diingkari), saling berkontradiksi (melawan dan dilawan), saling bermediasi (memperantarai dan diperantarai). Kehidupan nyata selau berada dalam keadaan saling berkontradiksi. Dialektika yang terjadi menurut Mark , tidak berada dalam idea (dialektika idea) melainkan terjadi dalam dunia nyata (dialektika materi)

Pengetahuan manusia yang muncul hasil dari dialektis adalah benar jika dipahami dengan kerangka hubungan antara setiap kejadian dalam dunia nyata. Pengetahuan, dengan demikian, adalah memahami kejadian-kejadian yang saling berhubungan dalam proses dilektis tersebut. Tetapi karena bagi Mark , proses dialektis hanya terjadi dalam dunia nyata, maka hubungan kejadian-kejadian tersebut pun harus diletakan dalam ‘kerangka’ dunia nyata atau kenyataan objektif. Pengetahuan yang terlahir dalam pemahaman atas dialektika yang demikian, lebih menekankan pada pengetauan yang empiris, yang didapat melalui indra manusia. Posisi indra menjadi alat paling penitng dalam usaha manusia memperoleh pengetahuan.

Pemahaman bahwa dialektika hanya terjadi dalam dunia empiris, menjadikan Mark (juga sebagian kaum materialis lainnya) begitu mempercayai bahwa satu-satunya pengetahuan yang dapat dipercanyai adalah pengetahuan ilmiah. Pengetahuan ilmiah dipercanyai karena ilmu pengetahuan tersebut diperoleh melalui penerapan prinsip-prinsip metodis (epistimologi ilmu)dan teruji secara empiris. Tesis ini diperkuat oleh Mark bahwa benda merupakan kenyataan yang pokok, sehinggga kebenaran ilmu pengetahuan manusia melalui indranya hanya dapat diorientasikan pada benda (materi) sebagai satu-satunya kenyataan pokok. Diluar benda empiris tersebut, maka pengetahuan manusia tidak dapat teruji, atau minimal tidak dapat dibuktikan kebenarannya.

Kelemahan utama dari pemikiran Mark adanya keterputusan manusia dengan nilai-nilai transedental, karena dunia dipahami sebagai suatu materi atau benda, yang tidak emmpunyai hubungan dengan kekuatan-kekuatan (gaib) diluar dunia. Keputusan tersebut menjadi awal dari keterpisahan anatara (aspek kognisi) manusia dengan kebenaran agama. Agama, karenaberada diluar batas-batas empiris, menjadi kategori yang jauh dari jangkauan kebenaran pengetahuan manusia, karena tidak teruji secara empiris. Kritik terhadap pendekatan materialism dialektika historis banyak dilontarkan oleh banyak orang, tidak hanya adanya ketreputusan manusia dengan tuhan, tetapi juga karena tidaklah mungkin manusia dapat selalu menemukan kategori kebenaran melalui eksperimen dengan panca indra.


[1] Yustiana, Yosep, Pokok-Pokok Materialism Dan Historis. (Bandung: Gerah Press.2002) hal 5

[2] Praja. Juhanya. S , aliran-aliran filsafat dan etika, (Jakarta: prenada media. 2005) cet. Ke-2. Hal 154

[3] Berlin, Isaiah,  Biografi Karl Marx. (Surabaya: Pustaka Prometheus.2000). hlm. 25

[4]Baskara T. Wardaya, F.X, Mark Muda: Marxisme Berwajah Manusiawi: Menyimak Sisi Humanis Karl Marx Bersama Adam Scahft. Yogyakarta: Ar-Ruzz 2003), hlm 79-81

[5]Berlin, Isaiah. Op. Cit. hlm 45

[6] Kain, Philip J.Marx’ Method, Epistemology, and Humanism, A Study in the Development of His Thought, (Holland : Dordrecht.1986). hlm 171

[7] Ibid, hlm 180

[8] .Sutrisno, Mudji (Ed.) Para Filsuf  Penentu Gerak Zaman.( Yogyakarta: Kanisius.2003) hlm 118-119

[9] Berlin, Isaiah, Op. Cit. hlm 67-68

[10] Kain, Philip J. Op. Cit. 185

[11] Soseno, Magnis Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 1999). Hlm 124-125

[12] Yustiana, Yosep. Op . Cit. hal. 98 (Engels, The Dialectics of Nature, p. 64-5.)

[13] Nuswantaro, Daniel Bell Matinya Ideology,(Magelang: indonesiatera. 2001) hlm 63

[14] Yusdiana, Yosep. Op. Cit. hlm 98-99

[15] Prihantoro, Agung, Konsep Manusia Menurut Mark , (Yogyakarta: Pustaka Pelajar.2002) cet ke-2. Hlm 12-22

[16] Kufaman, walter, Ektensialism From Dotoyevsky To Satre,( New York: American book, 1975). P. 370. Dikutif dari listiyono santoso, sunarto , dkk. Epistimologi Kiri .(Jogjakarta: Ar-Ruzz press.2003) hal 36

[17] Koharshah, aboe, Lenin Dari Mana Kita Mulai?, (Jakarta: ERA Publisher.2001) cet pertama. Hlm 23

[18] Satoso, Listiyono, dkk). Op. Cit. hal 37-38

[19] Juhanya Op. Cit. ha 167l

[20] Suseno, Magnis, Ringkasan Sejarah Marxisme dan Komunisme. (Jakarta: S.T.F. Driyarkara1977). Hlm. 114

[21] Faqih, Mansour, jalan lain manifesto intelektual organic. (Yogyakarta: Insist Press. 2002). Cet. Pertama. Hlm 215-216

[22] Suseno, Magnis. Op. Cit. hlm 153

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s